Fenomena Sumber Mata Air Asin di Area Persawahan Mojokerto

Oleh Liputan6.com pada 13 Jan 2020, 10:10 WIB
Diperbarui 13 Jan 2020, 10:10 WIB
20160704-Pupuk Padi-Karawang- Gempur M Surya
Perbesar
Petani memupuk tanaman padi di Karawang, Jawa Barat, Senin (4/7). Untuk mencapai target swasembada pangan 2016, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20 triliun. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Petani di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur tak bisa bercocok tanahm di sebuah area sawah di wilayah tersebut lantaran mengeluarkan sumber mata air asin. Padahal area tersebut jaraknya ratusan kilometer dari laut.

Petani pun tak bisa menanam karena tanah dan sumber mata air yang mengandung garam di area persawahan di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Ada 10 petak sawah yang mengeluarkan sumber mata air asin. Petak-petak sawah itu membentuk sebuah kubangan besar berisi air asin yang keluar dari dalam tanah. Sebagian air asin yang tak bisa mengalir, membentuk endapan lumpur. Sawah pun tak bisa digunakan petani untuk bercocok tanam. Tanaman padi, jagung maupun palawija, mati akibat tanah dan air yang mengandung garam.

Munculnya sumber mata air asin ini sudah terjadi sejak lama meski jaraknya ratusan kilometer dari laut. Pemilik hanya membiarkan sawah-sawahnya karena tidak mau rugi dengan biaya tanam yang dikeluarkan.

Semula banyak petani yang memanfaatkan air asin tersebut untuk dijual sebagai obat krupuk puli. Namun, karena harganya tak sebanding dengan biaya proses pembuatan, akhirnya petani tak lagi memproduksi obat puli.

“Yang besar itu ada dua, terus sumber anak itu yang kecil kemungkinan ada delapan. Jadi ada 10 titik,” ujar Kepala  Dusun Brayu, Edy Purwanto, seperti dikutip dari tayangan Fokus, ditulis Senin (13/1/2020).

Ia menambahkan, kalau area kecil masih bisa ditanami. Kalau besar 15 meter tidak bisa ditanam sama sekali.

Sebelumnya, area persawahan di Mojokerto yang mengeluarkan sumber mata air asin ini pernah dibor oleh Pertamina pada 1998, namun karena kandungan gas buminya sedikit, akhirnya Pertamina menghentikan pengeboran. 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya