Kata Muhammadiyah dan NU Jatim untuk Masyarakat yang Merayakan Malam Tahun Baru

Oleh Liputan Enam pada 31 Des 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 02 Jan 2020, 02:13 WIB
Suasana Malam Tahun Baru di Kota Surabaya

Liputan6.com, Surabaya Pengurus Wilayah Muhamadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) mengimbau agar masyarakat tidak berlebihan dalam perayaan  malam tahun baru 2020. 

Menurut Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Najib Hamid, tahun baru bukanlah suatu hal yang harus dirayakan.

"Tahun baru untuk evaluasi atau muhasabah terhadap yang sudah dilakukan, sebagai bahan atau bekal untuk  aktivitas yang akan datang," kata Najib Hamid, Senin (30/12/2019).

Najib juga menilai, penyambutan tahun baru dengan berpesta atau berfoya-foya juga tidak dianjurkan dalam agama Islam. "Foya-foya itu tabdzir, dilarang agama," ucapnya.

Menurut Najib, hendaknya malam pergantian tahun baru bisa diisi dengan ibadah, kegiatan sosial, atau kegiatan intelektual yang bermanfaat.

Sedangkan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar meminta semua kader NU untuk beraktivitas seperti biasanya, karena di dalam syariat Islam menurutnya tidak diatur ibadah-ibadah khusus untuk menyambut tahun baru.

"Yang biasanya ngaji ya ngaji. Yang kerjanya satpam ya njaga seperti biasa, tetap salat lima waktu, semua seperti biasanya," ucap Marzuki Mustamar.

Pengasuh Ponpes Sabillurrosyad Gasek Kota Malang ini juga tidak melarang andai ada warga yang mengadakan acara-acara untuk menyambut malam tahun baru

"Hanya kepada pengurus NU, kader NU yang mengadakan acara, harus tetap menjaga syariat, menjaga kerukunan warga, dan menghindari pernyataan perilaku yang kontroversial agar tetap adem ayem," tuturnya.