Bekal Menuju 2020, Intip Kutipan Inspiratif Tokoh Perempuan Jatim

Oleh Liputan Enam pada 31 Des 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 31 Des 2019, 08:00 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) meminta anak-anak yang terindikasi tawuran untuk tidak lagi membuat geng. (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Menyambut Tahun Baru 2020 sama dengan membuka lembaran baru dalam hidup. Beranjak meninggalkan 2019, saatnya untuk berbenah diri dan beranjak pergi. Dari rasa sesal, marah, rasa negatif yang hinggap dan melekat.

Kata-kata atau nasihat yang tidak sempat hinggap dan menetap di dalam perbuatan, baiknya pikirkan lagi dan jadikan bekal untuk mengitari Tahun Baru 2020.

Bongkahan emas, jika ingin menjadi berharga, harus melalui proses pemanasan dan pembentukan. Begitu juga orang-orang sukses seperti Wali Kota Tri Rismaharini, Aktivis perempuan Indonesia Yenny Wahid, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Mereka ditempa dan diuji oleh banyak hal. Ketika sukses, para tokoh perempuan pun mengamalkan apa saja yang dinilai sebagai pembelajaran dalam hidup.

Berikut kutipan inspiratifnya yang dikutip dari berbagai sumber, Selasa (31/12/2019):

"Gagal sekali tidak apa-apa. Gagal dua. Hingga gagal itu takut mendekati kita karena kita maju terus. Kita bisa belajar dari kegagalan kita. Suatu saat gagal takut mendekati kita. Karena tidak ada yang tidak mungkin". –Tri Rismaharini

"Bagi perempuan siapapun dia, entah berpendidikan atau tidak. Kita tak boleh menyerah dalam situasi apapun. Kalau kita menyerah, maka anak-anak kita ikut lembek. Sebaliknya, jika semangat, meski dalam kondisi berat, anak-anak kita akan ikut semangat". - Tri Rismaharini

”Cuma, pertemuan pikiran hanya dapat dicapai ketika ada pertemuan hati. Hanya ketika Anda memenangkan hati, Anda dapat mengubah pikiran”. –Yenny Wahid

“Karena bangunan kesadaran itu yang harus dibangun adalah laki-laki, bagaimana memberikan kesetaraan perlakuan kepada perempuan, tidak hanya kepada ibu, istri dan anak-anaknya”. -Khofifah Indar Parawansa

"Tidak ada ‘batas’ untuk disabilitas. Karena mereka pun memiliki kesempatan yang sama seperti orang lain. Kalau setuju, mulai detik ini hentikan segala diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Meskipun itu sebatas candaan” –Khofifah Indar Parawansa

 

(Shafa Tasha Fadhila - Mahasiswa PNJ)

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓