VIDEO: Bahan Bangunan Tak Sesuai Standar Diduga Bikin Ambruk SDN Keting Jember

Oleh Agustina Melani pada 18 Des 2019, 12:03 WIB
Diperbarui 18 Des 2019, 12:07 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Pascainsiden robohnya atap bangunan kelas, puluhan siswa SDN Keting 2, Kecamatan Jombang, Jember, Senin pagi, harus belajar secara lesehan tanpa meja tulis di musala dan di perpustakaan yang sempit dan berdesakan.

Sementara itu Tim Inafis Polres Jember melakukan olah TKP, guna mencari tahu penyebab pasti robohnya bangunan yang baru beberapa hari selesai direnovasi itu.

Pasca ambruknya bangunan SDN Keting 2, Kecamatan Jombang, Jember, Jawa Timur, puluhan siswa harus belajar dengan fasilitas ala kadarnya. Siswa kelas VI ditempatkan di musala dan belajar secara lesehan beralaskan karpet tanpa meja belajar, atau alas untuk menulis dan membaca.

Selain tak bisa fokus, para siswa juga mengaku sakit pada bagian punggung karena harus membungkuk selama menerima pelajaran. Sedangkan siswa kelas III harus menempati ruang perpustakaan yang sempit, setelah ruang kelas mereka ditempati siswa kelas V yang atap ruang kelasnya ambruk. Para siswa ini mengaku tidak bisa belajar dengan baik.

Sementara itu Tim Inafis Polres Jember, Minggu siang, mendatangi SDN Keting 2, Kecamatan Jombang, Jember, untuk melakukan olah TKP di bangunan kelas V dan VI yang ambruk.

Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati, mengingat bangunan kondisinya rawan ambruk lantaran banyak dinding yang retak. Polisi memeriksa material, konstruksi baja ringan, genteng, hingga tingkat kekerasan beton yang diketahui rapuh dan mudah hancur.

Meski hasil olah TKP masih menunggu proses uji laboratorium forensik, tapi kuat indikasi bangunan yang baru direnovasi ini roboh karena spesifikasi material yang digunakan tidak sesuai standar. Berikut seperti ditayangkan pada Fokus, 17 Desember 2019.

Sebelumnya, atap bangunan kelas V SDN Keting 2 di Jember ambruk Sabtu pagi. Ironisnya, ruang kelas ini baru beberapa hari lalu selesai direnovasi, bahkan masih belum sempat diserahterimakan oleh pelaksana proyek kepada Dinas Pendidikan setempat.

Ambruknya atap bangunan sendiri nyaris saja mencelakai puluhan siswa yang saat kejadian baru saja keluar ruang kelas untuk berlatih upacara di halaman sekolah.