Melihat Cangkrukan di Era Industri 4.0

Oleh Liputan Enam pada 12 Des 2019, 05:07 WIB
Diperbarui 31 Des 2019, 22:29 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Kegiatan cangkrukan bukan hal asing bagi masyarakat Jawa Timur terutama Surabaya. Cangkrukan  menjadi pertemuan untuk berdiskusi mengenai apa saja di dalam lingkungan masyarakat. Kegiatan tersebut pun berlaku hingga kini, dan dapat sebagai ajang untuk saling berkomunikasi dan memperkuat solidaritas.

Pada Agustus 2019, sempat ada gesekan di Surabaya, Jawa Timur terkait asrama mahasiswa Papua. Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Luki Hermawan menggelar cangkrukan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS).

Kegiatan tersebut juga dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. Cangkrukan tersebut juga merupakan bagian untuk meluaskan komunikasi dengan mahasiswa Papua di Surabaya. Dengan cangkrukan tersebut diharapkan ada pengertian, muncul kepercayaan dan saling menghormati.

Kegiatan cangkrukan termasuk budaya di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Budaya Cangkrukan mempunyai arti duduk bersantai dengan teman, saudara, atau siapa saja membincangkan hal apa saja tanpa ada hirarki.

Tujuan dari cangkrukan adalah untuk rasan-rasan, berdiskusi, belajar, bertukar info, dan lain-lain. Di Eropa, cangkrukan ini juga dikenal dengan Public Sphere. Umumnya berlokasi di kafe dengan audiens umumnya dari kelas pekerja, bisa juga disebut forum bebas untuk berbicara tentang masalah apa saja.

Di Indonesia, Cangkrukan lebih dikenal di wilayah subkultur arek. Sedangkan di daerah Jawa lainnya, mereka menyebut cangkrukan dengan jagongan.

Menurut Budayawan dari FIB Universitas Airlangga, Kukuh Yudha Karnanta, pada dasarnya karakter masyarakat itu memang berkumpul. Oleh karena itu, di Surabaya ada konsep srawung,gumbul,cangkruk, jagongan, yaitu praktik berkumpul, berbicara, bermain, bergosip, dan lain-lain. Di tempat-tempat tertentu, umumnya cangkrukan dilakukan sambil makan dan minum kopi.

Kukuh menuturkan, untuk menjadi sebuah budaya, dia biasanya berulang, turun temurun, di dalamnya ada sistem ide, perilaku dan produk. Cangkrukan terdapat ide di dalamnya, yaitu srawung atau akrab dengan teman adalah perlu. Perilaku, berkumpul, minum kopi, bergosip, berdiskusi, dan lainnya. Hal produk adalah warung kopi, minuman, banner, dan lain-lain. Maka disimpulkan  cangkrukan adalah praktik budaya.

Dulu di desa cangkrukan biasa dilakukan di pos ronda, pematang sawah, dan pinggir kali. Jika di kota, cangkrukan biasa dilakukan di warung, kantin, dan lain-lain.

Kukuh juga mengatakan, cangkrukan beda dengan misalnya yang dilakukan di kantor, yaitu ketika yang berbicara bos dan atasan, itu bukan cangkruk.

Tak hanya gaya hidup dan industri, budaya cangkrukan juga berevolusi. Cangkrukan ini mengalami fenomena pergeseran atau perubahan mengikuti industri 4.0.

Saat ini, orang-orang berkumpul dengan gawai dalam genggaman. Juga warung kopi yang sederhana berubah mengikuti zaman. Kukuh berpendapat, pada intinya mereka tetap berinteraksi tetapi tidak hanya oral atau verbal, tapi digital.

"Sekarang warkop tempat cangkruk pasang wifi. Pengunjung sibuk ngegame or chating. Prinsipnya dulu cangkruk itu ‘Mendekatkan/mengakrabkan diri. Sekarang, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Teman yang jauh disapa via gadget, yang dekat dicuekin. Mungkin itu ya fenomena Cangkrukan 4.0," kata Kukuh, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (12/12/2019).

Meskipun ada fenomena gawai, menurut Kukuh, cangkrukan akan selalu relevan karena gawai hanya sebuah alat, sedangkan cangkrukan menyangkut kesadaran dan praktik yang berulang.

Budaya cangkrukan ini akan selalu ada, karena menurut Kukuh itu adalah naluri dasar manusia yang kini menjadi gaya hidup. Di tengah teknologi yang berkembang ini, cangkrukan berperan sebagai ruang untuk beraktualisasi, rekreasi, dan menguatkan solidaritas kelompok.

“Nilai positif yang dapat diambil dari budaya cangkrukan adalah untuk merekatkan solidaritas, kebersamaan, dan ruang-ruang diskusi yang relatif cair dan tanpa hirarki yang ketat,” kata Kukuh.

 

 

(Shafa Tasha Fadhila - Mahasiswa PNJ)

2 of 2

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by