Menelusuri Jejak Sejarah Surabaya di Kampung Peneleh

Oleh Agustina Melani pada 28 Nov 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 28 Nov 2019, 06:13 WIB
(Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)

Liputan6.com, Jakarta - Surabaya, Jawa Timur meski sebagai kota metropolitan tetapi punya keunggulan untuk wisata kota. Di Kota Pahlawan ini, dapat ditemui sejumlah tempat wisata yang berada di tengah kota. Tengok saja taman-taman yang dibangun dan dikembangkan oleh pemerintah kota (pemkot) Surabaya. Selain itu, ada juga pusat perbelanjaan, museum, bangunan tua, tempat ibadah yang dapat menjadi tujuan wisata.

Tak hanya itu, di Surabaya juga terdapat sejumlah kampung yang menjadi tujuan wisata. Salah satunya Kampung Peneleh. Mengutip Antara, Kamis (28/11/2019) Peneleh termasuk salah satu kampung kuno di Surabaya. Di kampung ini masih dapat ditemui artefak-artefak antara lain makam, pasar, masjid, perkampungan hingga rumah-rumah bersejarah.

Kampung ini bahkan disebut menjadi saksi perjalanan Surabaya, dan Indonesia terutama hadapi pergantian zaman. Nama Peneleh asalnya dari zaman Kerajaan Singosari, jauh sebelum Surabaya menjadi sebuah kota, seorang pangeran pilihan (pinilih) putra Wisnu Wadhana yang diberi pangkat setara dengan bupati mendapat daerah kekuasaan di daerah antara Sungai Pegirian dan Kalimas.

Kemudian daerah tersebut diberi nama Peneleh. Lokasi Peneleh dan Plampitan berada pada delta yang membelah dua sungai yang menjadi urat nadi Surabaya kuno, letaknya begitu strategis di lalu lintas sungai pada masa jalan darat belum dikenal peradaban Jawa.

Di Kampung Peneleh ini dapat ditemui peninggalan masa pergerakan nasional yang bernilai sejarah. Salah satunya rumah kediaman HOS Cokroaminoto. Rumah ini masih dipertahankan keasliannya. Rumah ini terdiri dari dua lantai dan berukuran 11x8 meter.

Di sebelah utara rumah HOS Cokroaminoto terdapat rumah kelahiran Bung Karno di Jl. Pandean Gang IV No. 40. Rumah ini menegaskan simpang-siur kebenaran tempat lahir Sang Proklamator Indonesia ini. Tidak jauh dari itu,  di Jl. Plampitan Gang VIII, No 34-36 terdapat Warung Omah Sejarah, yang juga merupakan rumah kelahiran Ruslan Abdulgani.

Tokoh yang biasa disebut Cak Roes ini merupakan sekretaris jenderal Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, sekaligus menteri luar negeri, Duta Besar RI di PBB, dan juga Rektor pertama IKIP. Ia cendekiawan dan diplomat ulung asli Surabaya yang disegani di Indonesia.

 

2 of 3

Makam Peneleh

Makam Pemakaman dan Kuburan
Ilustrasi Foto Pemakaman (iStockphoto)

Tak hanya itu, peninggalan pada masa Belanda adalah makam Belanda Peneleh yang berdiri pada 1814. Makam ini dianggap pemakaman modern tertua di dunia. Selain itu, ada juga makam-makam lama yang dikeramatkan warga di Kampung Peneleh.

Makam ini diduga berasal dari masa ketika Islam pertama masuk ke Jawa, sebelum Belanda datang. Ada yang diketahui kisahnya dan selebihnya masih misteri. Sejumlah makam tersebut antara lain makam Nyai Buyut Champa, Buyut Minggir, Buyut Dawa, Buyut Malang dan Buyut Bening.

Di kampung tersebut juga terdapat sebuah peninggalan kuno yang terkenal berpusat di masjid. Warga menyebutnya. Masjid Jami. Lokasinya berada di Peneleh Gang V. Masjid ini menempati lahan seluas 950 meter persegi.

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan masjid itu dibangun. Namun, masjid itu awalnya berupa langgar kecil kemudian dipugar menjadi masjid pada abad ke-18. Kemudian pada 1986, masjid tersebut direnovasi dan tidak mengubah bangunan aslinya.

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓