Pemkot Surabaya Diharapkan Tingkatkan Kompetensi Guru

Oleh Agustina Melani pada 25 Nov 2019, 22:45 WIB
Diperbarui 25 Nov 2019, 22:45 WIB
Hari Guru Nasional
Perbesar
Ilustrasi Hari Guru Nasional (Avel Chuklanov/Unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Surabaya, Jawa Timur memiliki berbagai macam infrastruktur termasuk teknologi informasi yang semakin menyebar menjadi peluang pendidikan. Oleh karena itu, guru-guru di Surabaya juga dinilai perlu komitmen meningkatkan kompetensinya.

Hal itu disampaikan Mantan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Zainuddin Maliki, saat dihubungi Liputan6.com, Senin (25/11/2019).

"Peluang pendidikan di Surabaya sangat banyak dengan tersedianya berbagai macam infrastruktur termasuk teknologi informasi yang semakin menyebar tetapi hendaknya perlu diingat tantangan di kota besar Surabaya juga lebih banyak," ujar Zainuddin yang juga Anggota DPR Komisi X.

Ia menuturkan, guru-guru di Surabaya harus berkomitmen untuk meningkatkan kompetensinya lebih tinggi sebanding dengan perkembangan peluang dan tantangan yang ada. Selain itu, Zainuddin menanambahkan, Pemerintah Kota Surabaya harus memfasilitasi dengan berbagai sarana dan anggaran pengembangan kompetensi guru.

Zainuddin mengatakan, guru juga bertugas untuk belajar sehingga bukan anak didik saja. Oleh karena itu, guru jangan berhenti belajar tetapi terus belajar menjadi guru yang baik. “Cari inspirasi dengan bertukar pengalaman sesama guru. Jangan malas baca bukan hanya untuk memperkaya konten tetapi juga memperkaya ide dan kreativitas belajar mengajar,” tutur dia.

2 dari 3 halaman

Hari Guru Nasional, Nadiem Makarim Ingin Guru Mulai Berinovasi

Mendikbud Nadiem Makarim
Perbesar
Mendikbud Nadiem Makarim berswafoto dengan sejumlah guru usai upacara peringatan Hari Guru 2019. (Ady anugrahadi/Liputan6.com)

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membuat pidato untuk memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin, 25 November 2019.

Dalam pidato yang ditulis dalam 2 lembar kertas itu Nadiem meminta maaf lantaran pidatonya sedikit berbeda dengan pidato menteri-menteri sebelumnya.

"Biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi oleh kata-kata inspiratif dan retorik. Mohon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda. Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia dari Sabang sampai Merauke," ujar Nadiem Makarim di awal pidato.

Dalam teks pidato dua halaman tersebut, mantan CEO Gojek itu kemudian berbicara tentang tugas mulia menjadi seorang guru meski juga yang tersulit.

"Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan," kata Nadiem menambahkan seperti dalam teks pidato.

Nadiem Makarim juga dalam pidato di Hari Guru Nasional ini menyebut bahwa para guru sangat ingin membantu murid-murid yang mengalami ketertinggalan di kelas. Namun apa daya, waktu sang guru habis terbuang mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan," sambung Nadiem.

Nadiem juga mengetahui betul bahwa guru ingin agar anak didiknya belajar di dunia sekitar, namun kurikulum yang padat menutup pintu peluang.

Nadiem mengetahui bahwa guru ingin berinovasi. Namun, sulit dilakukan oleh para guru.

Untuk itu, Nadiem ingin agar para guru mulai berinovasi tanpa harus menunggu perintah.

Nadiem ingin agar guru mulai mengajak anak didiknya berdiskusi, memiliki proyek bakti sosial, dan membantu murid untuk menemukan bakatnya.

"Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak," tandas Nadiem.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓