Cerita di Balik Gardu Suling Gresik

Oleh Liputan Enam pada 17 Nov 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 17 Nov 2019, 05:17 WIB
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara Kini Tersambung Tol Listrik

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai kawasan industri, Kabupaten Gresik, Jawa Timur memiliki berbagai cagar budaya yang dilindungi. Mulai dari kampung, makam hingga tempat ibadah. Selain menjadi tujuan wisata, cagar budaya juga menjadi ikon tersendiri bagi Kabupaten Gresik.

Salah satu cagar budaya yang ada di Kabupaten Gresik adalah Gardu Suling atau Garling. Gardu Suling terletak di Pertigaan Jalan Raden Santri, HOS Cokroaminoto dan Jalan Basuki Rahmat. Letaknya tepat di depan kantor PLN.

Gardu Suling sudah didirikan sejak 1929. Gardu ini didiriikan oleh Kitty Soesman seorang kepala Aniem (PLN).  Melansir informasi dari akun Instagram @gresiktourism, dulu, bangunan cagar budaya ini memiliki fungsi sebagai tempat Travo PLN.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Garling menjadi gardu bersirine. Sirine tersebut dibunyikan sebagai penanda berbuka puasa saat bulan Ramadan. 

Kepala bagian Humas dan Protokol Pemkab Gresik, Sutrisno menuturkan, Gardu Suling adalah saksi bisu perjuangan warga Gresik untuk mengusir penjajah. Bangunan tersebut disebut "Gardu Suling" karena orang Gresik tempo dulu menyebut menara dengan istilah gardu. Sedangkan sirine disebut dengan suling. 

"Zaman dulu suara sirine ini sebagai tanda siaga jika ada musuh yang datang dari arah laut. Selepas kemerdekaan suara sirine ini menjadi tanda suka cita termasuk saat berbuka puasa atau saat menjelang detik-detik proklamasi," ujar Sutrisno, 12 Agustus 2019.

(Kezia Priscilla - Mahasiswa UMN)

2 of 3

Mengenal Seni Tradisional Thungka dari Pulau Bawean Gresik

Sebelumnya, Pulau Bawean adalah salah satu lokasi wisata yang terkenal dari Kabupaten Gresik. Di pulau ini terdapat banyak tempat yang cocok untuk rekreasi. 

Berlibur ke Pulau Bawean, Gresik, Anda bisa melihat keindahan alam bawah laut di Pantai Pulau Cina. Selain itu, terdapat pula Danau Kastoba yang bisa dijadikan tempat untuk menghilangkan penat. Di sana Anda akan mendapatkan pemandangan danau luas dengan banyak pohon hijau mengitarinya. 

Selain populer dengan tempat wisatanya, Pulau Bawean juga memiliki tradisi budayanya sendiri yang menarik. Tradisi tersebut adalah Thungka lur.

Melansir dari disparbud.gresikkab.go.id, Thungka adalah seni pertunjukan musik tradisional Bawean, Gresik yang menggunakan ronjhengan dan ghentong (alu) sebagai alat pukulnya. Ronjhengan adalah lesung penumbuk padi berbentuk menyerupai perahu kecil.

Di Bawean, seni pertunjukan ini dikenal dengan Thungka lur. Permainan musik Thungka, dimainkan oleh sekelompok perempuan. Selain menjadi vokalis, mereka juga menjadi pemukul ronjhengan menggunakan alu.

Irama yang dimainkan menggambarkan suasana musim panen yang ditunggu-tunggu oleh petani. Sedangkan syairnya berisi puji-pujian tentang kebesaran Tuhan. Biasanya, Thungkka ditampilkan dalam upacara penyambutan maupun pengantin adat.

(Kezia Priscilla - Mahasiswa UMN)

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓