Kisah di Balik Foto Heroik Bung Tomo

Oleh Liputan Enam pada 13 Nov 2019, 01:00 WIB
Diperbarui 13 Nov 2019, 01:00 WIB
Prabowo `Bakar` Kampanye Gerindra Lewat Suara Bung Tomo (Foto: Istimewa)
Perbesar
Dalam pidato itu, Bung Tomo memberikan semangat kepada arek-arek Suroboyo dengan mengatakan, 'Daripada dijajah lebih baik hancur lebur.' (Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Bung Tomo merupakan salah satu tokoh yang tak bisa dilepaskan dari peristiwa Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Pertempuran sengit antara arek-arek Suroboyo dengan Sekutu dan Belanda tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Dalam peristiwa 10 November 1945, Bung Tomo turut berperan melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda dengan mengobarkan semangat rakyat Surabaya dan para pejuang Indonesia. Sosok Bung Tomo juga dikenal sebagai tokoh yang semangat dalam berorasi.

Kiprahnya dalam sejarah Indonesia membuat Bung Tomo menjadi sosok yang selalu dikenang masyarakat Indonesia. Salah satu potret Bung Tomo dengan pose sedang berorasi merupakan foto legendaris yang kerap muncul khususnya dalam momen Hari Pahlawan.

Foto heroik tersebut menunjukkan sosok Bung Tomo selayaknya sedang berpidato. Tangan kanannya terangkat sambil mengacungkan jari telunjuknya. Di foto hitam putih itu terlihat sorot mata Bung Tomo yang tajam dengan latar garis-garis seperti payung.  

Banyak yang menghubungkan foto tersebut dengan Hari Pahlawan. Di balik foto yang mengobarkan semangat tersebut, terdapat beberapa versi kisah di dalamnya.

Menurut Sejarawan Universitas Airlangga (Unair), Purnawan Basundoro, foto tersebut diambil setelah pertempuran 10 November 1945 terjadi. Dia menuturkan, foto itu diambil ketika Bung Tomo sedang ada di Malang. 

“Foto itu dibuat di sebuah hotel di Malang tahun 1947. Di belakangnya ada payungnya hotel,” ucap Purnawan saat Liputan6.com hubungi lewat layanan pesan singkat, Rabu (12/11/2019).

Purnawan melanjutkan, pose orasi yang terlihat dari foto tersebut juga hanyalah hasil pengarah gaya yang mengambil foto. Menurut dia, Bung Tomo tidak pernah berorasi di lapangan terbuka selain saat kampanye pemilu 1955. Sedangkan orasi Bung Tomo yang mengobarkan semangat perjuangan rakyat dengan takbir, disiarkan melalui radio. 

"Bung Tomo tidak pernah orasi di lapangan terbuka kecuali orasi saat kampanye pemilu 1955 untuk partai yang didirikannya, Partai Rakyat Indonesia," lanjut Purnawan. 

Dalam foto tersebut, terlihat pula Bung Tomo mengenakan pakaian selayaknya baju militer. Purnawan menginformasikan, saat foto tersebut diambil, yakni pada 1947, Bung Tomo belum berpangkat militer. 

“Bung Tomo baru diberi pangkatan militer tahun 1950-an, sebelumnya sipil murni,” kata Purnawan.

Walau begitu, potret ini menjadi sangat bernilai dan ikonik hingga saat ini. Hal tersebut tak bisa lepas dari peran Bung Tomo saat di Surabaya. Menurut Purnawan, foto itu sangat menggambarkan peran perjuangan Bung Tomo. 

"Bung Tomo adalah seorang tokoh dan foto tersebut seperti merepresentasikan peran dia saat di Surabaya, mengacu pada suara pidatonya yang hebat menggelora,” ucap Purnawan. 

(Kezia Priscilla – Mahasiswa UMN)

2 dari 3 halaman

Sejarah Hari Pahlawan 10 November di Surabaya

Setiap 10 November diperingati Hari Pahlawan. Hari Pahlawan tersebut untuk mengingatkan pertempuran Surabaya yang terjadi pada 1945.

Peristiwa ini diawali oleh insiden perobekan Bendera Merah-Putih-Biru di atap Hotel Yamato pada 19 September 1945. Kemudian Presiden Sukarno memerintahkan gencatan senjata pada 29 Oktober 1945. Lalu pertempuran kembali pecah pada 30 Oktober 1945. Saat itu, rakyat Surabaya bersama para pejuang bertempur melawan tentara Inggris.

Pada pertempuran Surabaya, jumlah kekuatan yang dibawa tentara sekutu sekitar 15.000 pasukan. Dalam pertempuran Surabaya itu pun, sekitar 6.000 rakyat Indonesia yang gugur. Pertempuran tersebut terjadi selama tiga minggu.

Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959.

Keputusan itu ditetapkan oleh Presien Sukarno. Ketika itu, Sukarno menetapkan hari nasional bukan hari libur, salah satunya Hari Pahlawan pada 10 November. Hal itu seperti disampaikan Sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro. "Ini berkaitan dengan pertempuran 10 November," ujar Purnawan saat dihubungi Liputan6.com, Senin 11 November 2019.

Purnawan menuturkan, pertempuran 10 November begitu besar karena bukan hanya melibatkan angkatan bersenjata tetapi rakyat Surabaya. Padahal rakyat Surabaya ketika itu minim senjata. Rakyat Surabaya hanya bermodalkan senjata minim dengan berani bersama tentara melawan tentara sekutu dan Belanda.

"Masyarakat Surabaya selalu terkenang itu (Pertempuran 10 November). Sebelum ditetapkan Hari Pahlawan, pada 10 November ada arak-arakan. Presiden Sukarno pun menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan," kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓