Risma Bersyukur Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2021

Oleh Dian Kurniawan pada 24 Okt 2019, 22:41 WIB
Diperbarui 24 Okt 2019, 22:41 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini  (Risma) bersyukur, Indonesia menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola Kejuaraan Dunia U-20 pada 2021. Lantaran, dari 10 stadion yang diajukan PSSI ke FIFA dalam bidding  piala dunia U-20 salah satunya bertempat di Surabaya, Jawa Timur.

"Saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME, telah mengabulkan keinginan saya untuk membanggakan anak-anak Surabaya. Mereka sangat ingin Surabaya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20,” kata wali kota Risma, Kamis (24/10/2019).

Penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 dilakukan di FIFA Council Meeting, Shanghai, China 24 Oktober 2019, dengan mengalahkan Peru dan Brasil dalam bidding. 

Ia berjanji akan sekuat tenaga untuk menyiapkan Stadion Gelora Bung Tomo sebagai venue pertandingan. Meski saat penyelenggaraan pertandingan sepak bola kejuaraan dunia U-20, dirinya sudah tak menjabat lagi sebagai Wali Kota Surabaya.

Lantaran, tahapan yang harus dilalui agar bisa menjadi tuan rumah begitu berat. Enam bulan lagi  akan ada evaluasi proses persiapan yang telah dilakukan.

"Makanya, saya siapkan semuanya, misalkan fiber optik di Gelora Bung Tomo, beberapa lapangan pendukung yang setengah jam tak jauh dari lapangan utama, maupun tempat penginapan. Insyaallah akan kita siapkan," ujar dia.

Pemerintah Kota Surabaya segera mungkin akan membenahi berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Meski sesuai persyaratan, sebenarnya Stadion yang ada di Surabaya telah memenuhi syarat.

"Enam bulan cukup untuk pembenahan, terutama untuk lapangan  pendukung. Untuk kursi Single Seat awal tahun kita lelang. Saat evaluasi nanti, kita sudah siapkan Single Seat,” ucapnya.

Presiden United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pasific ini menambahkan, beberapa fasilitas lainnya yang disiapkan, seperti Sentel Ban, tempat pemanasan, termasuk lampu penerangan.

Ia berjanji sebelum evaluasi, semua fasilitas telah siap. Mengenai akses jalan menuju Stadion Gelora Bung Tomo, Risma menegaskan, selain akan memperbaiki akses jalan utama, juga akan memanfaatkan jalan Lingkar Luar Barat (JLLB).

“Saya akan menghadap menteri PUPR untuk membantu percepatan akses ini, termasuk PT Pelindo untuk Fly Over. Karena dari Fly over aksesnya melewati sekitar TPA, kemudian masuk ke stadion,” paparnya.

 

 

*** Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 3 halaman

Upaya Risma

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Gelora Bung Tomo Surabaya, Jawa Timur (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Wali kota menginginkan, Kota Surabaya tak sekadar sebagai tuan rumah kejuaraan Piala dunia U-20, tapi juga sebagai venue utama atau tempat penyelenggaraan finalnya. Untuk itu, pembenahan dilakukan dilakukan secara menyeluruh, di antaranya lima lapangan pendukung, seperti Gelora 10 Nopember, Lapangan Karang Gayam, Lakarsantri, dan Sambikerep.

“Kalau soal anggaran, mulai saat ini hingga 10 Nopember nanti ada pembahasan APBD, nanti kita masukkan anggarannya ke situ. Besarnya, masing-masing dinas yang tahu Dinas PU untuk jalannya, dispora untuk embenahan rumputnya, pembenahan gedung ada di Cipta Karya, sedangkan penerangan lampu di DKRTH,” sebutnya.

Letak stadion Gelora Bung Tomo yang dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, menurut Risma tak ada persoalan. Sebab selain ada buffer zone, pada November 2019, juga akan diresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

“Di Seoul aja dekat TPA juga tidak apa-apa. Sekarang saja tidak bau. Apalagi nanti setelah diresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah,” katanya.

Wali kota berharap dengan menjadi tuan rumah Kejuaraan Piala Dunia akan menjadi kebanggaan bagi anak-anak Surabaya.

Lantaran, saat ini banyak anak pengggemar sepak bola, itu dibuktikan dengan adanya ada 84 sekolah sepak bola di Kota Pahlawan ini.

“Tapi nanti jangan ada yang bawa flare kemudian batu. Pertandingan di sini bukan hanya membawa nama Surabaya, namun juga Negara Indonesia. Jangan sampai orang mengira tidak ngerti aturan. Kita buktikan, bahwa penonton mengerti aturan, sopan dan ramah,” pungkasnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓