Jelajahi Museum Santet Surabaya yang Kental Aroma Mistis

Oleh Liputan6.com pada 12 Okt 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 29 Nov 2019, 13:28 WIB
Museum Santet Surabaya

Liputan6.com, Jakarta - Mendengar kata museum, mungkin di bayangan Anda, berkaitan dengan sejarah, melihat barang-barang di masa lampau dan suasana yang sunyi.

Meski demikian, jalan-jalan ke museum juga dapat menjadi sesuatu menyenangkan. Apalagi saat berwisata ke museum dapat menambah wawasan.

Dalam peringatan hari museum nasional yang diperingati setiap 12 Oktober, Liputan6.com mengupas salah satu museum yang unik di Surabaya, Jawa Timur. Salah satunya Museum Kesehatan Dr Adhyatma Depkes RI.

Gedung museum seluas 5,6 hektar ini juga termasuk cagar budaya. Gedung museum ini tadinya Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) dan Kebijakan Kesehatan, Departemen Kesehatan.

Di dalam komplek gedung Puslitbang itu ada dua gedung yang dipergunakan sebagai bangunan untuk museum. Salah satu perintis museum, Dr. Haryadi Suprapto menuturkan, keberadaan Museum Kesehatan ini bertujuan menyelamatkan barang kuno.

"Koleksinya ada sejak tahun 1950 hingga 1990, karena memang dulunya rumah sakit kelamin yang dulunya skala internasional,” ujar dia, seperti ditulis Sabtu, 12 Oktober 2019.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com menunjukkan museum ini dibangun oleh Menteri Kesehatan RI Dr J Leimena pada 20 November 1950, sebagai rumah sakit kelamin.

Saat itu, Dr J.Leimena menugaskan, Prof Dr. Sutopo, ahli penyakit kulit dan kelamin untuk meneliti terkait penyakit kulit dan pemberantasan penyakit kelamin. Pada 10 November 1951 dilakukan peletakan batu pertama dan Oktober 1953 diresmikan sebagai direktur yaitu Prof Dr Soetopo.

Pada 16 Desember 2003, gedung museum kesehatan ini ditetapkan sebagai Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada 2000-2005. Museum ganti nama menjadi Museum Kesehatan Dr Adhyatma MPH setahun kemudian.

Menteri Kesehatan, DR dr Achmad Sujudi MHA meresmikannya pada 14 September 2004. Awalnya museum ini juga dirintis oleh Dr.dr. Harijadi Soeparto DOR M.Sc yang kemudian mengambil penamaan museum dr Adhyatma yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada 1988-1993.

Masyarakat setempat menyebutnya museum santet. Museum ini membuka tiga sasana untuk pengunjung. Pertama, sasana kesehatan dan pendidikan. Kemudian sasana kebudayaan, sasana kesehatan reproduksi dan museum luar.

Di ruang pertama yaitu sasana kesehatan pendidikan, ada sejumlah patung Dewa Airlangga, barang-barang kuno seperti sejumlah alat kedokteran, piagam-piagam dan alat kesehatan lainnya.

Tak hanya itu, ada juga sejumlah sepeda kebo dan motor zaman Belanda. Ada juga kursi roda rotan untuk pasien serta puluhan mikroskop yang ditata rapi, kasur persalinan.

Selain itu, mesin foto copy, dan kursi periksa gigi. Di sasana berikutnya, ada beberapa foto hal-hal aneh seperti penampakan Semar di Parangtritis, uang Soekarno yang lentur saat menekuk ditaruh di telapak tangan da nada juga foto manusia magnet.

Dalam foto itu piring sendok menempel di tubuh seseorang. Selain itu juga nampak sejumlah hewan yang sering dijumpai bahkan pernah dipercaya sebagai hewan penyebar penyakit yang diawetkan. Ada sapi, tikus, musang, trenggiling, kupu-kupu, nyamuk, dan replika tubuh manusia. Pemandangan itu berada di sasana flora dan fauna Museum Kesehatan Adhyatma Surabaya yang jaraknya hanya lima langkah dari sebuah gudang museum. (Dhimas Prasaja)

2 dari 3 halaman

Masyarakat Percaya Hal Mistis

Museum Santet Surabaya
Museum kesehatan di Surabaya juga menyimpan barang-barang beraroma mistik (Liputan6.com / Dhimas Prasaja)

Haryadi menuturkan, menjelajahi museum ini juga dapat melihat realita masyarakat. Hal ini terutama masih mempercayai hal-hal mistik.

Anda dapat menemui boneka jelangkung yang dikenal sebagai permainan mistik, yang salah satunya untuk mendiagnosa penyakit dan pengobatan.

Boneka jelangkung ini harus dipegang oleh dua anak yang masih suci dan dipandu seorang pawang. Sedangkan boneka Nini Towok yang permainannya harus dengan ritual memiliki tujuan menjaga keselamatan desa dan menolak bala.

Yang memainkan Nini Towok harus orang yang sudah tua. Tak hanya patung Jelangkung dan Nini Towok, ada juga dokumentasi upaya masyarakat yang awam penanganan medis dalam menangani penderita kelainan mental dengan cara dipasung.

Cara ini sering digunakan saat era kolonial Belanda dulu. Bahkan hingga kini di sebagian daerah.

Ada juga replika buah pisang, jeruk, tomat, semangka, jambu monyet, terong, nasi dan air putih yang ditaruh dalam kotak kaca yang bertuliskan puasa kejawen.

Di sebuah ruangan juga terdapat rak untuk menyimpan koleksi Terapi Pakaian. Isinya antara lain kain ulos Batak, selendang kuning yang dipercaya masyarakat Dayak bisa menolak bala. Hingga kini, kain milik kepala suku Dayak diyakini dapat melindungi tubuh dari serangan mistis. Di sampingnya terlihat lemari terapi musik, berisi alat-alat musik tradisional untuk penyembuhan misalnya kempyeng dan bende wedok.

Selain dua gedung yang menyimpan peralatan dan sarana pengobatan tradisional dan modern, ada satu ruangan yang tertutup rapat dan terkunci. Di bagian pintunya ada tulisan “dunia lain”.

Haryadi menuturkan, ruangan itu memang tertutup, dan tidak semua orang bisa masuk. Untuk menuju ruangan itu harus melewati lorong dengan deretan peti mati dan kuali (gentong).

"Kuncinya ada di saya, hanya yang bisa saja melihat ya tidak apa apa, karena itu hanya bekas wc saja tapi yang bisa yang tidak ada apa-apa sebenarnya," kata Haryadi.Menurut dia wajar saja jika ada masyarakat yang mengatakan museum tersebut adalah museum santet.

"Sebenarnya museum ini adalah museum kesehatan tapi jika masyarakat mengatakan itu museum santet tidak salah karena tentunya itu non medis juga pengobatannya tentunya," kata Haryadi.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓