Surabaya Cetak Deflasi Terendah di Jawa Timur pada September

Oleh Liputan6.com pada 02 Okt 2019, 16:15 WIB
Diperbarui 02 Okt 2019, 16:15 WIB
Indeks Harga Konsumen September Alami Deflasi 0,27 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Surabaya, Jawa Timur mencatat deflasi terendah di Jawa Timur pada September 2019. Deflasi Surabaya sebesar 0,02 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Jember sebesar 0,29 persen. Hal itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur.

BPS mencatat pada September 2019, Jawa Timur mengalami deflasi 0,07 persen didorong penurunan harga di sejumlah komoditas.

Kepala BPS Jatim, Teguh Purnomo menuturkan, pada September 2019 dari tujuh kelompok pengeluaran yang disurvei lima di antaranya mengalami inflasi dan dua kelompok mengalami deflasi.

"Untuk inflasi tertinggi terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,68 persen, sedangkan yang mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,11 persen,” tutur Teguh, dilansir Antara, ditulis Rabu (2/10/2019).

Ia menuturkan, tiga komoditas utama penyumbang deflasi Jawa TImur masing-masing daging ayam ras, bawang merah dan telur ayam ras.

"Harga daging ayam ras kembali mengalami penurunan akibat banyaknya pasokan di pasar, sementara tidak terjadi kenaikan permintaan,” ujar dia.

Selain tiga komoditas utama, penyumbang deflasi juga berasal dari cabai rawit, cabai merah, bawang putih pir, kacang panjang, tarif angkutan udara dan terong panjang.

Sementara itu, kenaikan terjadi pada biaya akademi/perguruan tinggi, harga emas perhiasan dan beras.

"Biaya akademi tinggi yang dibayarkan pada tahun ajaran baru menjadi faktor utama penghambat deflasi karena mengalami kenaikan dibandingkan pada bulan sebelumnya. Sementara emas perhiasan masih mengalami kenaikan walaupun tidak setinggi bulan sebelumnya,” ujar dia.

Kenaikan harga beras disebabkan berkurangnya produksi akibat kemarau panjang.

“Sementara itu, apabila dilakukan pengamatan terhadap sepuluh komoditas yang menjadi penyumbang utama terjadinya deflasi di masing-masing kota IHK di Jawa Timur, komoditas daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah menjadi penyumbang utama terjadinya deflasi di semua kota IHK di Jawa Timur,” tutur dia.

2 dari 3 halaman

BPS Catat Deflasi 0,27 Persen pada September 2019

Indeks Harga Konsumen September Alami Deflasi 0,27 Persen
Pedagang melayani pembeli di Pasar Kebayoran, Jakarta, Selasa (1/10/2019). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen pada September 2019 mengalami deflasi sebesar 0,27 persen. Posisi ini lebih rendah dari deflasi Agustus 2019 sebesar 0,68%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,27 persen. Dengan demikian inflasi tahun kalender pada September 2019 terhadap Desember 2018 sebesar 2,20 persen, sementara inflasi tahun ke tahun sebesar 3,39 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, berbagai komoditas menunjukkan penurunan harga sepanjang September 2019. Sebagian besar komoditas yang menunjukkan penurunan harga di antaranya cabai merah, cabai rawit, ayam ras dan telur ayam ras.

"Jadi bisa dilihat terjadinya deflasi lebih disebabkan penurunan harga bumbu bumbuan dan komoditas makanan," ujar Suharyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.

Dari 82 kota di Indonesia, 70 kota mengalami deflasi sementara 12 kota mengalami inflasi. Adapun deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,94 persen, yang paling rendah di Surabaya sebesar 0,02 persen.

"Sementara itu inflasi tertinggi terjadi di Meulaboh sebesar 0,91 persen, inflasi terendah terjadi di Watampone dan Palopo sebesar 0,01 persen. Meulaboh lebih disebabkan oleh kenaikan harga komoditas ikan," ujar Suhariyanto.

Adapun capaian inflasi pada September masih berada di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 3,5 persen. BPS berharap kondisi yang sama akan terjadi hingga akhir tahun.

"Deflasi tersebut masih berada di bawah target pemerintah. Kita berharap kondisi yang sama terjadi hingga akhir tahun. Meski Desember biasanya mengalami kenaikan untuk biaya anak sekolah, persiapan natal maupun tahun baru," tandas Suhariyanto.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by