Menapaki Sisa Bangunan Penjara Koblen di Surabaya

Oleh Liputan Enam pada 03 Okt 2019, 04:00 WIB
Ilustrasi Napi di Penjara (Foto:Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Bangunan bersejarah yang tak kalah menarik dengan Tugu Pahlawan di Surabaya, Jawa Timur, adalah Penjara Koblen. Tak jauh berbeda dengan gedung bersejarah lainnya, penjara ini pun mempunyai kisah kelam dibaliknya.

Di penjara ini, tersimpan cerita di masa lalu yang masih terkait dengan anak muda negara ini.  Dirangkum dari publication.petra.ac.id, Penjara Koblen berdiri sejak 1930.  Ketika itu, Pemerintah Belanda masih berkuasa atas tanah Surabaya, dan membangun Penjara Koblen.

Penjara Koblen sempat mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan. Pada awalnya, Pemerintah Belanda memfungsikan bangunan tersebut sebagai basis militer, sekaligus asrama bagi tentara Belanda.

Ketika Belanda kalah dan tunduk oleh Jepang, dan terusir dari Surabaya, Penjara Koblen dikuasai oleh Pemerintah Jepang. Kemudian, Jepang mengubah bentuk fisik dinding penjara itu.

Pengubahan dinding Penjara Koblen terjadi pada saat sistem romusha berjalan. Penjara Koblen diganti kegunaannya menjadi benteng pertahanan, serta penjara untuk orang-orang Indonesia.

Di penjara tersebut, terjadi pembantaian besar, yaitu pembantaian terhadap anak negeri ini (pemuda Indonesia) melalui sistem romusha, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Pembantaian tersebut layaknya bentuk balas dendam terhadap para tawanan sebagai pembalasan atas hal yang sama yang dilakukan oleh Kido Butai terhadap rakyat Semarang.

Selanjutnya, pada 2005, beberapa massa bangunan Penjara Koblen lenyap, sehingga yang tersisa hanya dinding pembatas lahan, dan beberapa bekas menara pengawasan. Siapa sangka, bahwa gedung yang dahulunya adalah penjara, pernah berganti fungsi menjadi pasar buah, meskipun hanya sebentar.

Lebih tepatnya, bangunan tersebut dijadikan Pasar Buah yang bahkan cukup sukses pada periode 2010-2014 setelah dimiliki oleh salah satu perusahaan. Namun, karena  alasan izin yang bermasalah, pasar buah itu berhenti beroperasi.

Kini, lahan Penjara Koblen telah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Berlokasi di Kecamatan Bubutan, Surabaya, berjarak 800 meter dari Stasiun Pasar Turi.

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

2 of 3

Kisah Penjara Kalisosok, Sel Menyeramkan di Surabaya

Ilustrasi penjara (AFP)
Ilustrasi penjara (AFP)

Sebelumnya, sebagai Kota Pahlawan, tak heran bila Surabaya memiliki banyak tempat peninggalan sejarah. Setiap bangunan bersejarah memiliki ceritanya masing-masing. Begitu pun dengan Penjara Kalisosok, penjara bawah tanah yang sudah dibangun sejak kurang lebih 200 tahun yang lalu.

Banyak cerita yang terukir di balik dinding penjara bawah tanah ini. Mengutip informasi dari akun Instagram @lovesuroboyo, banyak pejuang kemerdekaan Indonesia pernah merasakan kejamnya Penjara Kalisosok di Surabaya terutama di masa 1940 hingga 1943, saat masa pendudukan Jepang.

Mulai dari Soekarno, WR.Soepratman, Kiai Haji Mas Mansur hingga Cak Durasim sempat menempati penjara ini. Orang-orang yang masuk penjara ini kebanyakan mereka yang dianggap mengancam atau memprovokasi masyarakat agar semakin benci penjajah.

Penjara Kalisosok dibangun oleh Pemerintah Belanda pada 1 September 1808 dengan biaya sebesar 8000 gulden. Penjara ini terletak di kawasan Surabaya Utara, tepatnya di Jalan Kasuari Nomor 5 Krembangan. Tempat ini diketahui dibangun saat kepimpinan Herman Williem Daendels yang saat itu menjabat gubernur jenderal Hindia Belanda ke-36.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com, di masa lalu, penjara ini memang disebut-sebut sebagai tempat yang paling ditakuti para narapidana. Hal itu dikarenakan tempatnya yang sempit, gelap dan pengap.

Satu ruangan di sana hanya berkapasitas 20 orang. Namun kala itu dipaksa agar mampu ditempati 90 orang. Dinding antar biliknya pun dibuat sangat tebal. Diketahui, dahulu penjara bawah tanah ini digunakan sebagai tempat penyiksaan. Tak heran bila masyarakat sekitar menganggap penjara yang berdiri di kawasan JMP Surabaya Utara ini terkesan angker.

Kini, eks Penjara Kalisosok pun masih belum jelas status kepemilikannya. Hal ini membuat penjara ini jadi tidak terurus. Sebenarnya, penjara ini bisa dijadikan wisata heritage bagi warga Surabaya. Mengingat, Penjara Kalisosok ini termasuk Cagar Budaya tipe B yang harus dilindungi pemerintah.

(Kezia Priscilla, mahasiswi UMN)

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓