Pasukan Elit PLN Jaga Kehandalan Listrik di Gardu Induk Paiton

Oleh Dian Kurniawan pada 28 Sep 2019, 17:30 WIB
Diperbarui 28 Sep 2019, 17:30 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
PLN unit induk distribusi Jawa Timur memiliki beberapa program percepatan, salah satunya listrik desa atau biasa disebut Lissa. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Surabaya - Perusahaan Listrik Negara (PLN), punya pasukan khusus atau elit yang disebut hot end man. Tim ini bisa memperbaiki jaringan listrik tegangan ekstra tinggi dalam keadaan menyala/bertegangan.

Oleh PLN, kumpulan orang-orang pemberani ini, diberi nama Tim Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB). Salah satunya yang ada di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET), Paiton, Probolinggo. Pasukan ini mampu memperbaiki, di tengah aliran listrik tegangan ekstra tinggi 500.000 Volt.

Pengawas Tim PDKB, Andri Dwi Arianto menuturkan, untuk menjadi pasukan elit ini tidak hanya membutuhkan keahlian khusus dalam memperbaiki kerusahan, tetapi juga ada nyali dan keberanian sangat tinggi, mengingat  risiko terberat yang dihadapi adalah kematian.

"Meski dilengkapi alat pelindung diri,  tetapi risikonya tetap kematian, belum lagi jika terjadi kesalahan yang mengakibatkan peralatan terbakar," kata dia.

Dalam bertugas prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) lanjut Andri tetap menjadi yang utama untuk keselamatan diri sendiri. "Semua sudah kami reduksi, menggunakan instruksi kerja,  dengan Standart Operasional Prosedure dan mereka sudah menjalankannya," ungkapnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, pasukan yang menjaga kehandalan listrik di GITET ini, setiap  harinya harus berhadapan dengan daya sebesar 315 Mega Watt (MW) dengan arus listrik mencapai 1.118 ampere.

"Bandingkan, jika di rumah hanya 2 ampere atau 4 ampere, di sini bisa sampai seribu ampere, itu harus mereka tangani," kata dia.

Supervisor GITET Paiton, Asep M Yusuf menambahkan, salah satu bentuk perawatan pada Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi di Paiton tersebut adalah perbaikan 'anomali hotspot'. Perawatan ini, untuk menjaga konduktor agar tetap baik saat dilewati aliran listrik.

"Ketika konduktor itu dilewati arus, itu akan menimbulkan panas kalau kendor. Kendor itu akan menimbulkan hotspot," terangnya.

2 dari 3 halaman

Butuh Peralatan Khusus

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
PLN unit induk distribusi Jawa Timur memiliki beberapa program percepatan, salah satunya listrik desa atau biasa disebut Lissa. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

 

Bagi PLN, anomali hotspot dapat merugikan, karena bisa melelehkan peralatan, atau bahkan membakar peralatan, yang berujung pada putusnya aliran listrik, hingga mengganggu pasokan ke berbagai wilayah suplainya.

"Hotspot itu dalam batas toleransi kita, di bawah 40° celcius itu diijinkan, diperbolehkan, tetapi kalau diatas 40° celcius, itu warning. Lama lama bisa merusak peralatan, mungkin juga bisa meleleh, itu dampak terburuk, makanya kami langsung mitigasi," tegasnya.

Asep menceritakan, untuk mengetahui ada tidaknya anomali hotspot pada salah satu konduktor, pihaknya memiliki peralatan khusus yang disebut termograf. Rutin setiap malam, pihaknya melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi suhu.

"Nah, ketika suhunya sudah mencapai di atas 40° celcius, kami warning, kami sampaikan ke teman teman PDKB, jika sistem itu tidak boleh dipadamkan," tuturnya.

Asep menuturkan, proses perbaikan anomali hotspot ini harus dikerjakan dengan PDKB, karena jika dikerjakan dalam keadaan padam, akan menimbulkan discontinue (menghentikan) suplai listrik kepada pelanggan.

Namun dipastikannya, mereka bekerja dalam keadaan aman. Semua, kata Asep, ada prosedur dan SOP, instruksi kerja sendiri, bahkan peralatan yang digunakan, telah disesuaikan.

"Mereka selalu di cek kesiapan peralatannya, kesiapan personilnya, dan personilnya rutin setiap 6 bulan, mereka dilakukan general ceckup. Karena mereka langsung bersentuhan dengan konduktor yang bertegangan," ucapnya.

Dalam setiap pengerjaan, pasukan ini terdiri dari minimal 6 orang. Masing - masing pengawas pekerjaan, pengawas K3, ada pekerja dan ground land untuk membantu transfer peralatan.

GITET Paiton menjadi objek utama suplai listrik area Jawa Bali. GITET Paiton mendapatkan suplai listrik sebesar 4.800 MW dari delapan PLTU, yaitu PLTU Paiton Unit 1, Unit 2, Unit 3, Unit 5, Unit 6, Unit 7, Unit 8 dan Unit 9.

Di GITET Paiton ini, pasokan listrik diturunkan dari tegangan 500 ribu volt menjadi 150 ribu volt. Suplai tersebut akan disalurkan ke wilayah Kediri sebesar 800 MW x 2, Kraksaan 900 MW x 2, Situbondo, Banyuwangi dan Bali sebesar 1100 MW x 2.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓