Desa Kreatif Jadi Basis Pengembangan Wisata

Oleh Liputan6.com pada 20 Sep 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 22 Sep 2019, 14:13 WIB
Salah satu desa wisata di Pulau Samosir

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan mengembangkan desa-desa kreatif untuk mengembangkan pariwisata di lima tujuan super prioritas. Potensi desa yang besar bisa jadi basis pengembangan wisata karena efeknya yang langsung pada pemberdayaan dan kesejahteraan warga desa.

"Dengan jumlahnya yang masif (75.436 desa di seluruh Indonesia), pembangunan yang bersifat bottom-up, hanya akan berhasil apabila kita ikut memberdayakan seluruh sumber daya yang ada di desa," ujar Ketua Tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Irfan Wahid, di seminar Arah Pengembangan Industri Desa Berbasis Teknologi di Surabaya, dilansir Antara, Jumat (20/9/2019).

Ia menambahkan, pengembangan desa-desa kreatif merupakan salah satu pendekatan dalam mengembangkan di lima destinasi super prioritas.

"Desa kreatif di Joglosemar, Kawasan Danau Toba, dan Mandalika terbukti menjadi daya tarik wisatawan mancanegara karena nilai budayanya yang begitu kental. Membangun desa dengan pariwisata sebagai driver-nya," tutur Irfan.

Seminar itu juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Emil Dardak, dan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Mochammad Ashari.

2 dari 3 halaman

Diikuti Pengembangan Sumber Daya Manusia

Desa Sade
Desa Sade salah satu objek wisata yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pembangunan fisik di berbagai desa di Indonesia, menurut Irfan Wahid harus diikuti dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan cakupan pengetahuan yang luas termasuk digital.

"Dalam kasus pariwisata, ketika kita membangun suatu daerah hanya dengan pembangunan fisik saja terbukti tidak akan menciptakan sustainabilitas. Pengembangan sumber daya manusia juga sangat penting. Pola strategi ini juga yang kita terapkan di lima destinasi super prioritas nanti,” kata Irfan.

Membangun desa kreatif, menurut Irfan, apabila dipandang dari segi makro juga memperkuat ekonomi Indonesia.

"Bayangkan apabila 1.000 desa kreatif Indonesia memiliki satu saja produk ekspor dan terkoneksi dengan teknologi digital. Artinya ada 1.000 produk ekspor yang dihasilkan oleh desa. Hal ini tentu akan menghasilkan multiplier effect yang luar biasa,” ujar dia.

Irfan mengatakan, pengembangan desa kreatif ke depannya, harus mendukung strategi meja seribu kaki yang sempat dipaparkan kepada Presiden Joko Widodo. Strategi ini menjadi salah satu jurus menghadapi pelemahan daya beli global yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat.

"Kita harus memperkuat ekonomi sekaligus menyebar risiko atas potensi resesi global yang akan terjadi. Kita harus menciptakan desa kreatif berbasis agrikultur, holtikultur, aquakultur, budaya maupun keindahan alam.Semuanya berbasis digital, beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Intinya kolaborasi menjadi kunci dalam hal ini," kata Irfan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓