Gubernur Khofifah Ungkap Penyebab Tingginya Perceraian di Jawa Timur

Oleh Dian Kurniawan pada 17 Sep 2019, 20:00 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengungkap tingginya angka perceraian yang terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Jawa Barat itu terjadi akibat alasan yang berbeda-beda.

Di Jawa Timur, misalnya, alasan bukan pada persoalan ekonomi, tetapi ada pihak ketiga yang menjadikan hubungan rumah tangga retak.

"PR kita bersama, angka perceraian di Jawa Timur yang tertinggi. Penyebab perceraian di Jawa Timur karena tidak harmonis, bukan karena faktor ekonomi tapi ada wanita idaman lain," kata Khofifah dalam acara Konsolidasi Perencanaan dan Penganggaran BKKBN di Surabaya, Senin malam, 16 September 2019, dilansir Antara.

Ia menceritakan, dirinya harus menandatangani surat terkait perceraian yang menumpuk. Dia mengungkapkan perceraian paling tinggi terjadi pada profesi guru.

Khofifah yang pernah menjabat Menteri Sosial itu juga memaparkan penyebab terjadinya perceraian di Jawa Tengah karena faktor tidak adanya tanggung jawab dari pihak suami.

Sementara perceraian di Jawa Barat karena faktor ekonomi, dilansir dari Antara. Menurut Khofifah, pemerintah harus mengidentifikasi penyebab angka perceraian yang masih tinggi tersebut untuk kemudian dilakukan pencegahan. Dia menuturkan, ketidakharmonisan keluarga akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.

 

2 of 3

Perlu Sosialisasi Pembangunan Keluarga

Lewat Transportasi Umum, Khofifah Ingin Jawa Timur Mirip DKI Jakarta
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan keterangan kepada awak media usai menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (18/6/2019). Khofifah mengaku membahas sejumlah proyek infrastruktur dan transportasi di Jawa Timur. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lembaga konsultasi ekonomi internasional PricewaterhouseCoopers memprediksi Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor empat terbesar di dunia karena ditopang oleh besarnya jumlah populasi dan sumber daya alam yang dimiliki.

Namun Khofifah mengingatkan, prediksi tersebut bisa gagal apabila SDM Indonesia tidak berkualitas. Selain angka perceraian, Khofifah juga menekankan tentang masih tingginya angka kekerdilan pada anak atau stunting dan tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Menurut dia, jika ketiga masalah kesehatan tersebut tidak segera diselesaikan dengan baik maka pembangunan SDM yang berkualitas akan sulit dicapai dan prediksi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar keempat pada 2050 akan pupus.

Oleh karena itu, Khofifah meminta kepada seluruh pihak terkait, khususnya para pegawai BKKBN untuk terus menyosialisasikan tentang kesehatan reproduksi dan pembangunan keluarga agar bisa menghasilkan SDM berkualitas dimulai dari keluarga.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓