Ingin Wisata Alam di Surabaya? Yuk Kunjungi 4 Tempat Ini

Oleh Liputan Enam pada 10 Sep 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 10 Sep 2019, 10:16 WIB
[Bintang] Jawa Timur

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur semakin memperkaya destinasi wisata yang ada di kotanya. Mereka terus menggali potensi apa saja yang dapat mereka miliki, sehingga lahirlah beragam jenis objek rekreasi yang menarik.

Mengenai wisata bersejarah, Surabaya tak diragukan lagi. dengan sejumlah bangunan bersejarah, jalan dan museum Kalau wisata kuliner, kota ini juga kaya akan kuliner yang beragam. Dilihat dari segala kemungkinan yang ada di alam, bahkan sekelas tempat pembuangan akhir pun dapat ‘disulap’ menjadi tempat destinasi wisata.

Seperti hutan bambu keputih misalnya, Pemkot setempat dengan sigap membentuk satgas untuk menjaga kelestarian di hutan bambu tersebut. Masih ada juga wisata alam yang lainnya di Surabaya yang tak pernah sepi pengunjung.

Di antaranya mangrove Wonorejo, pantai ria kenjeran, dan tambat labuh sontoh laut. Ingin tahu mengenai destinasi tersebut? Mari simak ulasannya berikut ini, ditulis Selasa (10/9/2019):

1.Hutan Bambu Keputih

Hutan yang terletak di Jalan Raya Marina Asri, Keputih, Kecamatan Sukolilo, Jawa Timur ini berada di kawasan 40 hektar yang terdiri dari tiga bagian. Bagian tersebut diantaranya hutan bambu keputih, taman harmoni, dan taman ruang publik keputih.

Spot di hutan bambu keputih kini banyak dimanfaatkan oleh penduduk Surabaya, dan sekitarnya untuk didokumentasikan. Rerentetan bambu di sana mampu memberikan efek menyegarkan dan juga menenangkan pikiran.

2. Ekowisata Mangrove Wonorejo

Mangrove di sini memiliki luas sekitar lebih dari 800 hektar. Selain itu, terdapat juga 83 species burung eksotik dan langka seperti bambangan kuning, cangak merah, perkutut jawa, dan punai gading.

Objek wisata yang berada di Jalan Raya Wonorejo No.1, Rungkut, Surabaya menyimpan banyak sekali tanaman sejenis bakau dan nonbakau, diantaranya pidada (Sonneratia caseolaris), buta-buta (Excoecaria agallocha), waru laut (Hibiscus tilliaceus), tanjang (Bruguiera gymnorrhiza), dan masih banyak lagi jenis lainnya.

3. Pantai Ria Kenjeran

Pantai Ria Kenjeran merupakan salah satu tempat wisata yang lengkap, karena di sana ada wahana permainannya, wisata air, taman-taman dan juga pantai. Di pantainya, anak-anak bisa menghabiskan waktu dengan bermain pasir.

Selanjutnya, disediakan pula beberapa fasilitas pendukung lainnya seperti ayunan dan perosotan. Pemandangan yang menjadi titik sentral dari Pantai Ria Kenjeran yaitu Jembatan Kenjeran yang menampilkan pesona air mancur menari (dancing water).

4) Tambat Labuh Sontoh Laut

Merupakan destinasi wisata yang menyuguhkan pemandangan wisata mangrove yang berderet disepanjang pinggir pantai utara Surabaya. Selain itu, pengunjung bisa melihat lansekap terminal peti emas yang berada di seberang pantai utara tersebut.

Pengunjung yang datang ke sini dapat menikmati perjalanan di atas air, seperti naik perahu nelayan. Selanjutnya, diberikan juga fasilitas permainan bersepeda ria mengasyikan yang bisa pengunjung manfaatkan untuk berekreasi.

Jadi, wisata alam mana yang menarik perhatian Kamu?

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

 

2 of 3

Mengenal Hok An Kiong, Klenteng Tertua di Surabaya

Ilustrasi Klenteng
Ilustrasi Klenteng (Foto: Dok Kemdikbud)

Sebelumnya, jalan-jalan di Surabaya, Jawa Timur tak hanya mencicipi kuliner, melihat bangunan sejarah, dan keliling kota. Di Kota Pahlawan ini, wisata religi juga dapat menjadi pilihan.

Surabaya yang memiliki beragam masyarakat dari berbagai suku, etnis, dan agama menjadikan sebagai kota multi-kultural. Oleh karena itu, di kota ini juga ditemui sejumlah tempat ibadah dari beragam agama. Tempat ibadah di kota ini juga ada yang memiliki cerita dan termasuk bangunan bersejarah. 

Salah satunya, Klenteng Hok An Kiong. Berdasarkan Buku Travelicious, Jalan Hemat, Jajan Nikmat Karya Ariyanto, klenteng ini merupakan salah satu klenteng tertua yang ada di Surabaya.

Kelenteng Hok An Kiong didirikan sekitar 1830-an. Bangunan yang berada di Jalan Coklat, Pabean, Surabaya ini pada awalnya merupakan daerah pelabuhan.

Sebelumnya, klenteng Hok An Kiong disebut juga klenteng coklat, karena dilihat dari nama jalannya yaitu Jalan Coklat. Kapal-kapal saudagar dari Tiongkok, China sering mampir ke daerah Pabean yang kini sudah menjadi Pasar Ikan.

Seiring bertambahnya kapal-kapal saudagar Tiongkok yang bersandar di Kalimas, terutama dekat Pabean dan Slompretan, membuat ratusan awak kapal kadang-kadang beristirahat di daerah itu. Ada beberapa saudagar kaya yang tergabung dalam perkumpulan Hok Kian Kong Tik Soe.

Mengutip berbagai sumber, Mereka merasa iba melihat para awak kapal beristirahat di sana. Kemudian, tercetuslah ide dari perkumpulan tersebut untuk mendirikan tempat ibadah yang sekaligus bisa menjadi tempat beristirahat untuk awak kapal itu.

Maka, jadilah bangunan Kelenteng Hok An Kiong. Mengutip Jurnal Intra Petra.ac.id, interior di klenteng ini didesain dengan gaya budaya Fujian. Klenteng ini pada mulanya hanya terdiri dari halaman depan untuk ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa serta ruang altar utama hanya kepada Dewi Mahcoh Po.

Bangunan itu kini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya berdasarkan SK Walikota Surabaya No.188.45/258/436.1.2/2012.

 

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓