Kenalkan Markus Santoso, 'Iron Man' Indonesia Kelahiran Surabaya

Oleh Agustina Melani pada 01 Sep 2019, 12:00 WIB
(Foto: Dok Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta - Bermula dari kegemaran menonton film science fiction (scifi) mengantarkan pria kelahiran Surabaya pada 1982 ini tekun meneliti teknologi augmented reality (AR) atau realitas bertambah dan virtual reality (VR) atau realitas maya.

Mengutip Antara, teknologi AR bisa Anda lihat ketika bagaimana Tony Stark (diperankan Robert Downey Jr) dalam film Iron Man, merancang kostumnya dengan tampilan hologram.

Sedangkan teknologi VR ini mungkin Anda melihat film The Matrix yang mana saat tokoh utamanya Neo (diperankan Keanu Reeves) masuk ke dunia virtual. Teknologi itu dinamakan virtual reality atau realitas maya.

Pria yang meneliti teknologi tersebut bernama Markus Santoso. Saat ini, ia menjabat sebagai asisten profesor di University of Florida, Amerika Serikat (AS). Pria lulusan UK Petra Surabaya ini menduduki posisi itu sejak musim panas 2018.

Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai asisten profesor di Montclair State University pada September 2017. Ayah dari satu anak ini menuturkan, dirinya lebih ingin menekuni lagi dengan kegiatan penelitian science saat bergabung di research lab bernama Institute of Ambient Intelligence. Ia bekerja di bawah bimbingan supervisor Prof. Lee Byoung Gook.

"Kemudian saya mempelajari kalau selepas studi doctoral ada satu lagi proses pematangan untuk seorang scientist dan program itu bernama Postdoctoral Research," ujar Markus ditulis Minggu (1/9/2019).

Markus menuturkan, setelah selesaikan studi S3 pada 2013,  kemudian terpilih dalam program Alain Bensoussan Fellowship Program yang didanai oleh The European Research Consortium for Informatic and Mathematics (ERCIM) untuk melakukan postdoctoral research di Fraunhofer Institute for Digital Media Technology di Erfurt Jerman.

Lewat program postdoctoral ini, ia pun harus berkompetisi dengan 300-an scientist bergelar PhD dari berbagai penjuru dunia. Hanya 24 pelamar yang diterima termasuk Markus Santoso.

Ingin tahu bagaimana teknologi AR/VR ini dapat diterapkan di Indonesia? Bagaimana perjalanan karier Markus Santoso hingga berkarier di luar negeri? Berikut wawancara Liputan6.com dengan Markus Santoso lewat surat elektronik:

1.Bagaimana ceritanya meniti karier hingga menjadi asisten profesor di University of Florida, AS?

Setelah menyelesaikan kuliah S1 di UK Petra pada 2004, saya melanjutkan studi S2 di Dongseo University, Busan-Korea Selatan dan 2006 studi S2 saya selesai lalu kembali ke Surabaya.

Sempat mengajar selama kurang lebih 1,5 tahun di Universitas Ciputra, di sinilah saya melihat betapa pentingnya bagi akademisi yang ingin memiliki karier yang sustainable untuk memiliki gelar S3.Jadi, pada  2011 saya berangkat lagi ke Dongseo University untuk melanjutkan studi S3.

Selama studi S3 ini saya bergabung di research lab bernama Institute of Ambient Intelligence dan bekerja di bawah bimbingan supervisor Prof. Lee Byoung Gook, di sinilah saya menjadi lebih passionate dengan kegiatan scientific research.

Kemudian saya mempelajari bahwa selepas studi doctoral ada satu lagi proses pematangan untuk seorang scientist dan program itu bernama Postdoctoral Research.

Pada 2013, saya menyelesaikan studi S3 lalu saya terpilih dalam program Alain Bensoussan Fellowship Program yang didanai oleh The European Research Consortium for Informatics and Mathematics (ERCIM) untuk melakukan Postdoctoral Research di Fraunhofer Institute for Digital Media Technology di Erfurt, Jerman.

Untuk program postdoctoralini, saya perlu berkompetisi dengan sekitar 300an scientist bergelar PhD dari berbagai penjuru dunia dan hanya 24 applicant yang terpilih, termasuk saya.

Pada 2015, saya melakukan Postdoctoral Research yang kedua di LINDSAY Virtual Human Lab, University of Calgary. Fall semester 2017 (September) saya mulai karir saya sebagai Assistant Professor (Tenure-track Faculty) di Montclair State University, Montclair-New Jersey dan pada musim panas 2018 saya pindah ke University of Florida untuk bekerja pada posisi/title yang sama, Assistant Professor (Tenure-track Faculty).

2. Mengapa tertarik untuk meneliti teknologi AR/VR tersebut? 

Saya sangat gemar menonton SciFi movie terutama pada scene-scene yang berkaitan dengan holography dan ketika saya pertama kali mencoba teknologi AR seketika itu pula saya teringat dengan scene-scene holography di film scifi.

Mulai dari situlah saya jadi ingin mempelajari dan mendalami teknologi AR karena teknologi inilah yang saat ini paling mendekati visi ideal holography yaitu memvisualisasikan konten digital 3-dimensi di real environment. VR juga mengingatkan saya pada beberapa scene film scifi favorit saya seperti Holodeck dari film startrek dan film Matrix.

3. Anda pernah katakan kalau teknologi AR/VR akan menjadi teknologi yang sangat dibutuhkan ke depannya, mengapa?

AR/VR berada di bawah ‘payung besar’ area riset bernama 3D display, maka dari itu salah satu keunggulan dari AR/VR adalah 3D-in-3D yaitu kemampuan teknologi ini untuk menyajikan informasi atau data 3D dalam format 3D.

Media atau platform yang kita miliki saat ini seperti buku, gambar, TV, laptop senantiasa menyuguhkan informasi 3D dalam format 2D. Hal ini menjadi masalah karena informasi tidak dapat tersaji secara holistic dan sebenarnya otak kita sudah terbiasa untuk mengolah informasi yang bersifat 3 dimensi atau volumetric seperti ruangan dan objek di sekeliling kita.

Ambil contoh di zaman sekolah dulu, kita harus mempelajari tentang anatomi manusia seperti tulang, jantung, hanya dari gambar atau buku dimana kita tidak bisa mempelajari secara presisi bagaimana bentuk dan dimensi yang sebenarnya.

Jadi, AR/VR dengan keunggulan 3D-in-3D nya akan menjadi sangat revolusioner. Kita dapat mempelajari bentuk anatomi tubuh manusia dengan lebih realistik, komplit dengan dimensi volumetric nya.

Keunggulan AR/VR yang lain adalah menteleport pengguna ke tempat atau dunia lain baik yang nyata maupun yang bersifat fiksi. Dengan demikian, kita bisa kembali ke zaman dinosaurus untuk mempelajari segala sesuatu terkait hewan tersebut.

Atau kita seolah-olah menjadi sangat kecil sehingga dapat masuk ke dalam otak untuk mempelajari bagaimana otak bekerja, di bagian otak mana kita dapat memproses jenis warna dan lain-lain. Kita bisa lihat bahwa AR/VR akan merevolusi dunia pendidikan dan juga bidang-bidang lain.

4. Bagaimana penerapan teknologi AR/VR di Indonesia? Apa sektor yang sesuai untuk terapkan teknologi AR/VR  di Indonesia? Apa tantangan menerapkan teknologi AR/VR di Indonesia?

Ada banyak sekali potensi untuk pengaplikasian AR/VR di Indonesia. Di dunia pendidikan, kombinasi antara teknologi VR dan paradigm SocialVR memungkinkan kita untuk menawarkan Kelas Jarak Jauh dengan interaksi realtime dan bersifat imersif sehingga kesenjangan pendidikan di Indonesia bisa tereduksi.

Bisa juga VR digunakan untuk media pembelajaran wawasan kebangsaan. Teknologi VR yang bersifat Immersive dapat memunculkan efek Presence atau kehadiran.

Bayangkan jika kita bisa merekayasa ulang peristiwa saat Bung Tomo melakukan orasi untuk membakar semangat para pejuang untuk mengusir penjajah; dengan teknologi VR, pengguna akan merasa berada di tengah-tengah kerumunan massa dan bisa merasakan betapa berapi-apinya orasi tersebut dan saya rasa efeknya akan lebih terasa dari pada hanya membaca deskripsi dan melihat foto saja.

AR/VR juga bisa diaplikasi untuk berbagai keperluan terkait cultural heritage seperti promosi tempat wisata, preservasi heritage dan lain-lain. AR/VR juga memiliki potensi untuk diaplikasikan di bidang-bidang lain seperti pertanian, maritim, militer dan lain-lain

2 of 4

Suka Duka Berkarier di Luar Negeri

(Foto: Dok Pribadi)
Markus Santoso (Foto: Dok Pribadi)

5. Apa suka dan duka meniti karier di Iuar negeri? Sebelumnya meniti karier di luar negeri, apakah pernah juga bekerja di Indonesia? Kalau iya, di mana?

Duka: duka yang paling terasa adalah jauh dari keluarga dan teman-teman dekat dan juga rindu dengan kuliner Surabaya seperti Rujak Cingur, Soto Ayam, Soto Babat, Ayam Penyet.

Suka: akses ke teknologi terkini AR VR menjadi sangat mudah karena mayoritas inovasi di area ini berasal dari perusahaan Amerika Serikat. Berada di negara maju yang kultur risetnya sudah mapan dan kompetitif secara tidak langsung turut mengangkat level kompetitif kita.

Akses ke kolaborator riset yang merupakan top expert di bidang-bidang spesifik seperti bidang Neurologi, Parkinson, Oncology dan lain-lain menjadi lebih mudah juga. Profesi akademisi di negara maju juga sudah diberi penghargaan yang layak sehingga kita bisa lebih fokus untuk melakukan tugas utama kita sebagai akademisi professional tanpa harus khawatir tentang kondisi financial di rumah tangga.

Spesifik untuk University of Florida,mereka akhir-akhir ini memiliki upaya ekstra untuk meningkatkan Diversity, Equity and Inclusion (DEI), jadi walaupun kami adalah imigran dari luar Amerika Serikat dengan bahasa Inggris yang beraksen, kami tetap mendapat perlakuan yang sangat baik.

Tidak pernah kami dan keluarga kami diperlakukan berbeda hanya karena warna kulit dan ras yang berbeda dan hal ini membuat kami merasa sangat diterima di komunitas tempat kami tinggal dan bekerja.

Saat di Indonesia, Markus juga pernah menjadi dosen di Universitas Ciputra pada 2010-2011. Selain itu, ia pernah bekerja sebagai project manager di Octagon Studio sebuah perusahaan rintisan AR di Bandung pada Juni 2017-Agustus 2017. Sedangkan pada 2008-2009, ia bekerja di PT Miwon Indonesia, Driyorejo dan di Jakarta pada 2009-2010.

 

6. Selama kuliah di Surabaya, bagaimana metode belajar yang dilakukan Anda?

Tipikal sekolah desain pada umumnya yaitu ada kelas lalu dilanjutkan studio plus ditambah mata kuliah lain seperti MKDU, dan lainnya.

7. Bagaimana tips untuk tetap fokus belajar?

Ada yang bilang bahwa kuliah di perantauan itu memberi beban ekstra karena kalau bisa menyelesaikan studi maka nothing really special karena ya memang itulah inti berangkat ke luar negeri untuk studi, tapi kalau sampai gagal alias pulang tanpa gelar, maka komunitas sekitar akan melakukan judgement sepihak dengan memberi kita cap negatif tertentu.

Pressure-pressure seperti ini yang membantu saya untuk fokus untuk mencapai goal. Berada di perantauan dimana saya jauh dari keluarga membuat saya lebih merasa tidak ‘secure’ sehingga setiap hari adalah selalu seperti ‘do or die mission’.

8. Apakah pernah melakukan sesuatu hal yang "nakal" saat masa sekolah dulu?

Waktu kuliah di UK Petra, beberapa kali saya bolos karena main Counter Strike sama teman-teman. Hal nakal lain sering pergi ke fotokopian daerah UK Petra untuk ‘fotokopi perkecil’ dalam rangka menyiapkan ‘kerpekan’. Sering titip absen juga, apalagi kalau dosennya kurang menarik waktu membawakan materi perkuliahan.

3 of 4

Pesan untuk Generasi Muda

9. Anda kelahiran Surabaya, bagaimana kesan-kesannya mengenai Surabaya?Apa yang dikangenin dari Surabaya ketika berada di luar negeri? Ada tidak makanan favorit di Surabaya? Atau tempat makan favorit di Surabaya?

Surabaya itu panas, macet, agak semrawut di beberapa area namun by the end of the day saya selalu cinta dan kangen Surabaya.

Selain keluarga dan teman-teman, saya paling kangen sama tempat hangout nya seperti Supermall, Tunjungan Plaza, Pasar Atom, dan juga kuliner beserta resto, depot nya seperti Depot Mimi, Mie Babat Jembatan Merah, Ayam Penyet Bu Kris, Mie Tjwan Fey, Pecel Bu Mun Pasar Citraland, Tahu Tek-Tahu Campur, Mie KuoTiek San Tong, Mie Ujung Pandang dan lain-lain

10. Ada pesan-pesan untuk generasi muda sebagai penyemangat meraih cita-citanya?

Ada pepatah bijak berkata "If you can dream it, you can achieve it", jangan pernah takut untuk bermimpi besar karena impian didukung dengan upaya, niat baik dan doa yang tulus maka perlahan-lahan satu per satu pintu akan dibukakan hingga pada akhirnya kita bisa mencapai impian tersebut.

 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓