Menikmati Kawasan Wisata Kenjeran di Jembatan Suroboyo

Oleh Liputan Enam pada 01 Sep 2019, 04:00 WIB
Diperbarui 01 Sep 2019, 05:15 WIB
Salam Senja

Liputan6.com, Jakarta - Ikon atau simbol Kota Surabaya, Jawa Timur lainnya yang tak kalah beken dari patung Suro dan Boyo adalah Jembatan Suroboyo. Jembatan tersebut pernah ditutup sejak Agustus 2018 dan kembali dibuka pada Februari 2019.

Jembatan tersebut dahulu rutin menampilkan atraksi air mancur menari yang biasanya digelar tiap Sabtu. Jembatan yang terletak di Jalan Raya Pantai Lama, Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, Surabaya ini sebenarnya mampu menjadi paket wisata yang lengkap.

Lokasinya dekat dengan Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Taman Bulak, dan Sentra Ikan Bulak (SIB). Jembatan ini diresmikan pada 9 Juli 2016 dengan didesain berbentuk setengah melingkar.

Pengunjung yang datang ke Jembatan Suroboyo dapat menikmati sensasi matahari terbenam yang indah. Bahkan banyak dari warga sekitar yang datang hanya untuk menyaksikan sunset di sana.

Jembatan tersebut memiliki panjang 18 meter, tinggi 12 meter, dan ditahan dengan 150 tiang pancang. Jembatan itu selalu ramai didatangi pengunjung dari dalam dan luar Kota Surabaya, apalagi saat musim liburan tiba. Di setiap sisi Jembatan Suroboyo juga dapat pengunjung manfaatkan untuk berfoto, didukung dengan kondisi alamnya.

Selanjutnya, berdasarkan penelusuran Liputan6.com, penyebab Jembatan Suroboyo itu pernah ditutup ialah lantaran dalam rangka untuk penataan pedagang kaki lima (PKL), lahan parkir, dan pedagang asongan.

Melalui penutupan jembatan tersebut, Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya berusaha untuk mengajak masyarakat sekitar jembatan untuk menjaga kawasan Jembatan Suroboyo. Pada akhirnya, setelah terjadi  kesepakatan pemkot setempat membuka kembali Jembatan Suroboyo pada 16 Februari 2019. (Dhimas Prasaja)

 

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

2 of 3

Taman Sejarah, Saksi Bisu Perjuangan Pemuda Surabaya

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Ilustrasi Taman di Surabaya, Jawa Timur (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sebelumnya, Kota Surabaya, Jawa Timur kental dengan aneka tempat yang menyimpan segudang rahasia. Berbagai lokasi yang penuh dengan sejarah itu pun kini banyak difungsikan sebagai tempat wisata yang menarik.

Tidak terkecuali tamannya, taman yang ada di kota ini pun turut serta selaku saksi bisu perjuangan pemuda Surabaya kala itu. Salah satunya adalah Taman Sejarah.  

Berlokasi di Jalan Taman Jayengrono No.2-4, Krembangan, Taman Sejarah sempat mengalami beberapa kali pergantian nama. Awalnya, taman ini biasa disebut Willemsplein, yang diambil dari nama Willem seorang Raja Belanda yang berkuasa ketika bentrokan itu terjadi.

Mengutip dari surabaya.go.id, taman yang berada di sebelah Jembatan Merah ini dulunya merupakan tempat berlangsungnya pertempuran antara Arek-Arek Suroboyo dengan pasukan Inggris. Sampai-sampai Jenderal Inggris yang bernama A.W.S Mallaby meninggal dunia saat itu.

Willemsplein berganti nama menjadi Taman Jayengrono. Kata Jayengrono itu sendiri diambil dari nama Adipati Jayengrono, taman tersebut diresmikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada Desember 2012.

Wali Kota Surabaya kemudian mengganti nama taman menjadi Taman Sejarah. Hal tersebut karena taman ini dinilai memiliki aspek historis yang cukup kuat, seperti dikutip dari kominfo.jatimprov.go.id.

Taman Sejarah dikelilingi oleh bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur kolonial Belanda. Bangunan bersejarah tersebut di antaranya Jembatan Merah, Gedung Cerutu, Gedung Internatio, dan Gedung Garuda.

Memiliki luas 5.300 meter persegi, taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum, antara lain panggung dengan latar belakang Gedung Internatio, dan area pertunjukan seni yang berada di bagian tengah taman.  Selain itu, di beberapa sudut taman disediakan jalur relaksasi, dan juga air mancur.

Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya semakin menambah nuansa cantik di taman ini dengan menambahkan hiasan lampu-lampu yang berbentuk lorong dan bambu runcing. Lampu tersebut diletakkan sejajar, sehingga warna-warninya terlihat menarik ketika dinyalakan pada malam hari.

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓