Perjalanan Gedung Bersejarah Siola Kini Jadi Museum Surabaya

Oleh Liputan Enam pada 28 Agu 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 20 Sep 2019, 14:06 WIB
Museum Surabaya

Liputan6.com, Jakarta - Mungkin tak banyak yang tahu mengenai apa dan bagaimana Gedung Siola itu. Gedung Siola merupakan salah satu aset bersejarah yang dimiliki oleh Surabaya, Jawa Timur.

Bangunan yang berada di area Jalan Tunjungan ini dahulunya adalah bekas dari berbagai jenis bangunan yang dialihfungsikan. Akan tetapi Pemerintah kota (PemKot) Surabaya kini sudah menetapkan fungsinya sebagai Museum Surabaya.

Mengutip dari berbagai sumber, kisah mengenai Gedung Siola bermula pada 1877, yaitu ketika investor berkebangsaan Inggris bernama Robert Laidlaw  membangun gedung tersebut untuk dijadikan tempat bisnisnya. Saat itu, ia menamakan pusat perkulakan di gedung itu Het Engelsche Warenhuis. Ia bahkan sempat menjadi pengusaha tekstil terbesar saat itu dan memiliki usaha bernama Whiteaway Laidlaw.

Masa kejayaan keluarga Laidlaw berakhir di sektor perdagangan pada 1935.Ini terjadi setelah pemiliknya meninggal. Setelah Jepang masuk, gedung tersebut dibeli oleh pengusaha asal Jepang. Pengusaha itu mengubah nama gedung menjadi ’Toko Chiyoda’. Di toko itu, banyak yang menjual aneka tas dan juga koper. Saat itu, tas dan koper populer sehingga mendorong orang-orang untuk menjual barang tersebut.

Setelah Sekutu datang ke tanah Surabaya, Jepang tunduk kalah kepada Sekutu, lantas gedung menjadi kosong tak berpenghuni. Pada 1945, bangunan ini menjadi gedung pertahanan masyarakat Surabaya untuk menghindari serangan Sekutu yang datang dari utara, sehingga pantas disebut gedung perjuangan pemuda Surabaya.

Pertempuran yang dahsyat tersebut membuat pejuang membumihanguskan gedung itu. Selanjutnya, pada 1960 yaitu ketika masa kemerdekaan telah diraih, gedung itu direnovasi dan namanya diganti menjadi toko Siola.

Nama tersebut diambil dari singkatan nama kongsi pemiliknya antara lain Soemitro-Ing Wibisono-Ong-Liem-Ang. Ketika itu, Toko Siola mulai dibuka dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya.

Jadi, bisa dikatakan kalau Siola adalah mal pertama yang ada di Surabaya. Singkat cerita, pada 1998 Gedung Siola ditutup lantaran tidak mampu bersaing dengan tempat perbelanjaan modern saat itu seperti Pasar Atum, Pasar Turi, Plaza Surabaya, dan Tunjungan Plaza.

Akan tetapi, setelah gedung tersebut mengalami perubahan fungsi, nama, dan juga sering gagal dijadikan tempat bisnis, akhirnya gedung itu dikembalikan kepada Pemkot Surabaya.

Pada 2015, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) beserta jajarannya menjadikan gedung tersebut sebagai museum yang bernama Museum Surabaya.

Museum Kota Surabaya ini berisi 1.000-an benda-benda bersejarah dalam kaitan perjalanan Surabaya yang berada di lantai I Gedung Siola. Koleksi di museum ini mulai dari arsip kependudukan sejak 1837, baju Dinas Pemadam Kebakaran sejak zaman Belanda, alat transportasi seperti dua becak yang berwarna biru dan putih.

Kisah mengenai Gedung Siola ternyata panjang dan rumit ya, serta sangat mempunyai nilai historynya yang tinggi.  

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

2 of 3

Uniknya Arsitektur Gereja Kepanjen di Surabaya

Peringati Setahun Tragedi Bom Surabaya
Seorang wanita berdoa untuk mengenang setahun tragedi bom gereja Surabaya di Gereja Katolik Santa Maria, Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/5/2019). Pada peringatan tersebut digelar juga doa lintas agama yang dihadiri sejumlah pemuka agama. (Juni Kriswanto/AFP)

Sebelumnya, Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Katolik Kepanjen adalah gereja bercorak gotik di Surabaya, Jawa Timur. Bila Paris memiliki gereja Jean Baptise Antoine, Lassus, St. JeanBaptise de Velleville , di Surabaya ada Gereja Kepanjen ini.

Gereja yang dirancang oleh Westmaes, warga negara Belanda ini, sudah dibangun sejak 1899. Hal itu membuat Gereja Katolik Kepanjen menjadi gereja tertua yang masih ada di Surabaya.

Dengan gayanya yang bercorak gotik, bentuk jendela, pintu dan langit-langit melengkung ke atas dan membentuk sudut. Selain itu, atapnya juga runcing ke atas dan mempercepat jatuhnya air hujan.

Awal cerita, terdapat dua orang pastor dari Belanda yang ke Surabaya pada 12 Juli 1810. Pastor itu adalah Hendricus Waanden dan Phillipus Wedding. Saat Pastor Wedding harus bertugas ke Batavia, Pastor Waanders menetap di Surabaya.

Melansir dari Jalan-jalan Surabaya Enaknya ke Mana? karya Yusak Anshori dan Adi Kusrianto, Pastor Waanders sering mengadakan misa untuk umat Katolik yang ada di Surabaya. Hari berganti hari, jumlah umat Katolik yang datang ke gereja itu semakin bertambah banyak. Hal ini membuat mereka berencana untuk membangun sebuah gereja.

Barulah pada 1822, umat Katolik di sana merealisasikan pembangunan gereja pertama di pojok Room-sche Kerkstraat/Komedie weg (Kepanjen/Kebonojo). Namun, tak lama gereja pertama itu dipindahkan ke gedung baru, yaitu di Jalan Kepanjen nomor 4 -6, sebelah utara dari gedung lama di Surabaya.

Pemindahan ini dilakukan karena gereja lama telah rusak. Akhirnya lokasi itulah yang menjadi Gereja Katolik Kepanjen sampai saat ini berdiri.

Setelah dibangun pada 1899, gereja ini baru digunakan satu tahun kemudian pascapembangunannya. Penundaan ini disebabkan karena fungsi gereja yang sempat beralih fungsi menjadi rumah sakit darurat untuk menangani wabah kolera.

Bila ingin berkunjung, angkot yang mendekati lokasi gereja adalah JK, DP, JMK, N, O, Q, R2 dan K.

(Kezia Priscilla, mahasiswi UMN)

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓