Menelusuri Jejak Sejarah Kehidupan WR Soepratman di Surabaya

Oleh Agustina Melani pada 18 Agu 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 29 Nov 2019, 11:43 WIB
Museum WR Supratman

Liputan6.com, Jakarta - Surabaya, Jawa Timur dikenal sebagai Kota Pahlawan. Selain itu, di kota metropolitan ini juga banyak ditemui bangunan cagar budaya peninggalan Belanda.

Jejak sejarah para pahlawan dan tokoh nasional Indonesia pun juga dapat ditemui di kota yang merayakan ulang tahun setiap Mei ini. Masih suasana hari ulang tahun (HUT) ke-74 RI pada 17 Agustus 2019, sejenak nostalgia di Surabaya, yuk mengunjungi museum.

Nah, salah satu museum yang dapat dikunjungi musem Wage Rudolf Soepratman (WR Soepratman). Di museum ini menampilkan sejarah kehidupan sang pencipta lagu Indonesia Raya yaitu Wage Rudolf Supratman (WR Soepratman). Museum yang diresmikan pada 10 November 2018 ini dapat ditemui di kawasan Tambak Sari, Surabaya.

Mengutip instagram @dishubsurabaya, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) meresmikan museum itu tepat pada hari pahlawan. Museum ini bertujuan untuk mengetahui sejarah para pahlawan dan memberikan contoh semangat para pejuang.

Lewat museum ini, pengunjung dapat melihat sejarah kehidupan WR Supratman. Di museum ini terdapat foto-foto sejarah dan replika mengenai pria kelahiran 9 Maret 1903.

Saat memasuki museum, pengunjung dapat melihat foto orangtua WR Soepratman. Pencipta lagu ini memiliki ayah bernama Senen, sersan di Batalyon VII. Ia diasuh oleh kakak perempuannya yang bernama Roekijem.

Di museum tersebut terdapat replika baju WR Soepratman saat menghadiri Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928. Selain itu, ada juga replika biola. WR Soepratman dikenal selalu membawa biolanya. Tak hanya itu, ada juga pecahan uang Rp 50 ribu yang menempatkan wajah tokoh WR Soepratman.

Adapun museum ini sebelumnya tempat WR Soepratman pernah beraktivitas dan menciptakan lagu. Selain lagu Indonesia Raya, ia menciptakan 11 lagu. Salah satu ciptaan lagunya yang terkenal yaitu lagu RA Kartini.

Meski menciptakan lagu Indonesia Raya yang menjadi kebangsaan lagu bangsa Indonesia, ia belum sempat menikmati kemerdekaan. WR Soepratman sempat ditangkap karena menyiarkan lagu matahari terbit pada awal Agustus 1938. Ia pun ditahan di penjara kalisosok, Surabaya. WR Soepratman tutup usia pada 17 Agustus 1938.

2 of 3

Permainan Tradisional Kitiran di Universitas Negeri Surabaya Meriahkan HUT ke-74 RI

Ilustrasi bendera Indonesia
Ilustrasi bendera Indonesia (Sumber: Pixabay)

Sebelumnya, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Nurhasan bersama jajarannya, dan ribuan mahasiswa memainkan permainan tradisional kitiran untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT)/HUT ke-74 RI. Kegiatan tersebut diadakan di Pelataran Rektorat Unesa pada Sabtu, 17 Agustus 2019.

Permainan tradisional itu berbentuk baling-baling yang bisa mengeluarkan bunyi unik ini dimainkan usai menggelar upacara HUT ke-74 RI.

"Permainan tradisional punya filosofi di dalamnya. Jadi filosofi itulah yang menjadi bekal kepada mahasiswa baru (maba-red). Untuk bermain, kerja sama, kemudian ada semua di (revolusi industri-red), 4.0 kerja sama kolaborasi, inovasi, kreativitas mahasiswa, strategi bahkan luar biasa keberaniannya," tutur Nurhasan, seperti dilansir suarasurabaya.net, Sabtu pekan ini.

Suasana menjadi riuh karena permainan tradisional tersebut. Jajaran rektorat juga memakai baju adat suku-suku yang ada di Indonesia, mulai dari bajua dat, Jawa, Madura hingga Padang.

"Saya mewajibkan kepada pimpinan, tokoh, baik itu adat, pahlawan, agar maba atau civitas akademika ingat jasa para pahlawan yang berdarah-darah, memperjuangkan kemerdekaan. Harusnya mengisi dan mengingatkan untuk berani berinovasi untuk Indonesia maju," ujar dia.

Selain itu, dalam acara peringatan HUT ke-74 RI itu juga membentangkan bendera raksasa di gedung rektorat Unesa. Bendera raksasa ini dibentangkan oleh tiga mahasiswi dari UKM Mapala Unesa.

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by