Naik Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Hanya 6,5 Jam

Oleh Liputan6.com pada 11 Agu 2019, 18:00 WIB
IBD Expo dan Banking Expo 2017

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menyatakan, proses studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya akan selesai pada pertengahan 2020.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menuturkan, proses penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) baru akan dilaksanakan selepas hari raya kemerdekaan pada 17 Agustus 2019.

"Kita akan MoU nanti mungkin tanggal 22-23 Agustus ini," tutur dia di Palu, seperti dikutip dari Kanal Bisnis Liputan6.com, ditulis Minggu (11/8/2019).

Budi menuturkan, tahapan awal proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya dengan pembukaan jalur sendiri direncanakan mulai pada 2020. Sementara untuk saat ini baru memasuki proses studi kelayakan atau FS.

"Lagi FS. Jadi FS kita akan selesaikan sampai pertengahan tahun depan. Pertengahan tahun depan baru akan mulai dibangun," ujar Budi.

Budi menargetkan, proses pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya dapat selesai paling lambat selama 3 tahun, atau rampung pada 2023.

Seperti diketahui, kecepatan rata-rata kereta cepat Jakarta-Surabaya diperkirakan sekitar 140-145 km per jam. Adapun kecepatan maksimum yang bisa ditempuh yakni hingga 160 km per jam.

Dengan demikian, waktu tempuh Jakarta-Surabaya bisa dipangkas sampai menjadi 6,5 jam. Rencananya, kereta cepat ini dalam sehari akan melakukan perjalanan pulang-pergi dari ibu kota ke Kota Pahlawan sebanyak dua kali.

Budi memprediksi, pengerjaan kereta cepat Jakarta-Surabaya bisa selesai paling lambat pada 2023 mendatang. "Ini (proses pengerjaan) sekitar 2-3 tahun. (Paling telat 2023?) Iya," ujar dia. (Maulandy Rizky B.P)

2 of 3

Tak Mau Terlambat, Surabaya Siapkan Kereta Bawah Tanah

Ilustrasi
Ilustrasi bagian dalam MRT. (dok. pixabay.com/@quinntheislander)

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur, menyiapkan moda transportasi massal berbasis rel berupa kereta bawah tanah atau subway setelah transportasi trem yang direncanakan sebelumnya gagal terealisasi.

Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menuturkan, moda transportasi ini langsung dalam perencanaan begitu pembangunan trem ditolak oleh pemerintah pusat.

"Jika Jakarta bicara MRT terlambat, maka Surabaya tidak mau terlambat," kata dia di Surabaya, Senin, 6 Agustus 2019  dilansir Antara.

Menurut dia, subway atau monorel ini merupakan transportasi massal yang tidak satu level dengan jalan raya. Untuk itu, kata dia, jalur yang ada sekarang diubah rutenya menjadi feeder-feeder yang menjemput warga dari kampung menuju daerah yang dilewati subway atau monorel.

"Itu nantinya kita gratiskan, jadi sudah ada hitungannya," ujar dia.

Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya periode 2014-2019 ini mengatakan, nantinya warga Surabaya punya pilihan mau naik motor atau cukup berdiri di depan rumah karena sudah dapat transportasi gratis sampai tengah kota.

"Perencanaan sedang kita buat. Resolusinya nanti kita sampaikan," kata dia.

Ia menambahkan, pembangunan moda transportasi subway rencananya di koridor utara-selatan Surabaya. Sementara untuk arah timur-barat akan menggunakan monorel. Whisnu mengakui, pembangunan moda transportasi massal memang membutuhkan anggaran yang relatif besar.

Untuk itu, pihaknya berencana menggandeng pihak swasta dalam pengerjaannya. "Seperti Jakarta, kita gandeng swasta. Masih memungkinkan karena Surabaya kota besar seperti Jakarta," ujar dia.

Saat ditanya kapan realisasi rencana pembangunan moda transportasi massal subway, Whisnu mengatakan, target tersebut bisa dilihat setelah ada peresmian subway.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓