Alasan Wali Kota Risma Rutin Tanam Pohon di Surabaya

Oleh Liputan6.com pada 08 Agu 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 08 Agu 2019, 16:00 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) mengungkap alasan rutin menanam pohon dan membangun di Surabaya, Jawa Timur.

Risma mengatakan, saat awal menjabat sebagai Wali Kota Surabaya pada 2010, kondisi wilayah Surabaya sekitar 50 persen alami banjir. Selain itu, suhu udara Surabaya cukup panas.

Ia juga melihat, kondisi tanah yang terkena polusi membuat tanaman tidak bisa tumbuh karena polusi menempel di tanaman dan tanah. Hal itu dijadikan indikator oleh Risma terkait polusi udara.

"Akhirnya saya punya indikator, kalau tanaman bisa tumbuh tapi tidak bisa berbunga pasti karena polusi udara yang besar," ujar Risma, dalam wawancara di program Fokus Indosiar, ditulis Kamis (8/8/2019).

Risma menambahkan, bila polusi udara mencapai perumahan, hotel, restoran dan fasilitas publik akan dapat ganggu kesehatan masyarakat. Hal itu dinilai tidak ada beda dengan merokok.

"Kalau polusi merambat ke rumah, hotel, restoran, kemudian ke fasilitas publik yang lain maka kemudian itu dihirup oleh kita, kemudian kita sensitif paru-paru, sakit,” kata dia.

Oleh karena itu, Risma membuat jalan di Surabaya penuh dengan tanaman. Ia ingin pohon-pohon dan tanaman yang ada di taman dapat menyerap polusi udara.

"Karena itu, kemudian kenapa saya membuat jalan Surabaya kayak hutan karena saya berprinsip kalau polusi kendaraan harus habis di situ (diserap pohon) supaya tidak lari ke perumahan," kata dia.

Untuk menekan polusi udara, Pemerintah Kota Surabaya juga memiliki program pakai sepeda ke kantor setiap Jumat pada minggu ketiga.

"Makanya kita ada program hari Jumat minggu ke tiga pake sepeda ke kantor dan wajib dilakukan," ujar dia.

 

(Tito Gildas, Mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia)

2 dari 3 halaman

Strategi Risma agar Masyarakat Surabaya Tak Buang Sampah Sembarangan

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memilliki strategi mengelola sampah dengan baik dan mendorong masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Strategi pengelolaan sampah tersebut membuat Surabaya menjadi salah satu daerah kerap jadi percontohan mengelola sampah.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) menuturkan, langkah awal mengubah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan dengan menetapkan peraturan daerah (perda) terkait tindakan membuang sampah sembarangan. Jika masyarakat melanggar perda itu akan diberikan denda. Pemkot Surabaya pun melakukan inspeksi mendadak (sidak) setiap Rabu untuk pengelolaan sampah di masyarakat.

"Tidak boleh buang sampah sembarangan ada perda. Kalau ketahuan kita denda bawa ke pengadilan," ujar Risma seperti dikutip dalam program Fokus Indosiar, ditulis Kamis, 8 Agustus 2019.

Untuk pengelolaan sampah, ada sejumlah langkah yang dilakukan Pemkot Surabaya. Risma menuturkan, ada warga yang mengelola sampah dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan dibuat kompos dan anorganik akan disetor ke bank sampah. Setiap satu bulan akan dijual. Dari hasil penjualan sampah itu merupakan tabungan dari setiap keluarga. 

"Mereka akan mencatat misalkan sampah botol plastik, berapa sampah kertas. Itu nanti ditimbang karena masing-masing ada harganya, yang mereka dapat berapa. Tiap bulan dijual dan dinamakan bank. Uangnya disimpan kalau mereka butuh diambil," kata Risma.

Risma menuturkan, total biaya dari bank sampah itu sekitar Rp 87 juta. Selain itu, Pemkot Surabaya juga memiliki tempat pengolahan sampah terpadu. Risma mengatakan, jika hanya ada satu tempat pengolahan sampah akan membuat bahan bakar angkutan menuju tempat pengolahan itu akan mahal seiring jarak tempuh.

"Cost-nya itu dari BBM. Selain BBM untuk bahan bakar angkutan, tapi juga untuk menggerakan mesin compactor yang berguna untuk menekan sampah sehingga air yang menempel pada sampah bisa terbuang. Tidak hanya itu, adanya tempat pengolahan sampah yang banyak juga baik karena misalkan ada satu tempat yang terjadi kendala maka masih ada cadangannya,"  kata Risma.

Risma menambahkan, disiplin juga menjadi kunci dalam mengelola sampah sehingga tidak menganggu masyarakat sekitar. Jika ada sampah yang membusuk atau tidak terolah, bau akan menganggu sekali karena mengundang lalat dan belatung. Risma menuturkan, dari hasil mengelola sampah sehingga menjadi kompos digunakan sebagai pupuk untuk merawat 453 taman di Surabaya, Jawa Timur.

 

(Tito Gildas, mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓