Strategi Risma Tekan Inflasi di Surabaya

Oleh Liputan6.com pada 31 Jul 2019, 23:00 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) membeberkan cerita soal menciptakan harga pangan murah dan terjangkau di tengah kondisi alam yang kurang memadai di Surabaya, Jawa Timur.

Berkat penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, Surabaya tak pernah lagi merasakan harga cabai mahal.

"Tidak pernah dibayangkan sekarang kita bisa punya tomat, selada keripik, kami sudah bisa tanam sendiri di Surabaya. Jadi makanya harga sayur di Surabaya itu lebih rendah jadi tidak ada cabai mahal. Orang Surabaya tidak ada ngeluh cabai mahal karena kami bisa nanam cabai sendiri," ujar dia di Jakarta, seperti dilansir Merdeka, Rabu (31/7/2019).

Dia mengatakan, pada awal pemerintahannya, Surabaya memiliki inflasi cukup tinggi dikontribusikan oleh mahalnya harga sayur-sayuran. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca kota tersebut yang cukup panas dan sulit ditanami tumbuh-tumbuhan.

Tidak habis akal, Risma mengajak para peneliti untuk menciptakan inovasi yang dapat membuat Surabaya lebih sejuk dengan bantuan awan buatan. Saat ini, bukan hanya sayuran yang dapat tumbuh tetapi juga kondisi cuaca yang tadinya 35 derajat celsius menjadi rata-rata paling tinggi 30 derajat celsius.

"Di awal saya jadi wali kota, inflasi tertinggi awal dipicu sayuran. Karena sayuran itu mahal sekali karena kami tidak punya produksi sayuran. Sayuran semua diambil dari luar, akhirnya warga Surabaya saya gerakkan untuk menanam sayur," ujar dia.

Risma melanjutkan, sayur produksi masyarakat Surabaya kini bukan lagi untuk konsumsi sendiri melainkan sudah menjadi salah satu sumber penghasilan. Terobosan tersebut pun meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

"Cara saya mengurangi pengeluaran yang pertama itu adalah pendidikan gratis, kesehatan gratis, kemudian saya memberikan bibit dengan harapan kalau dia membeli sayur sendiri, bukan hanya sayur tapi kolam lele. Kolamnya bisa dikecilkan dibesarkan sesuai ukuran rumahnya dia," ujar dia.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

2 of 3

Harga Cabai Rawit Tembus Rp 85 Ribu per Kg di Sidoarjo

Awal Ramadan, Harga Cabai Mulai Meroket
Permintaan yang banyak untuk cabai di awal ramadan membuat harga cabai mengalami kenaikan, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (19/6/2015). Harga Cabai Rawit naik dari harga Rp16 ribu menjadi Rp20 ribu/kg. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Harga cabai rawit di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jawa Timur menembus Rp 85 ribu per kilogram (kg) dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 40 ribu per kg.

Pedagang Eny W menuturkan, kenaikan harga cabai rawit itu terjadi sejak satu bulan terakhir.

"Sebelumnya harganya Rp 40 ribu per kilogram, kini terus mengalami kenaikan sampai dengan Rp 85 ribu setiap kilogram," ujar dia seperti dilansir Antara.

Ia menuturkan, saat ini pihaknya tidak berani menyimpan stok cabai lebih banyak, karena khawatir tidak laku, mengingat daya beli masyarakat juga menurun untuk beli cabai keriting.

"Jika biasanya kami menyetok barang sebanyak 10 kilogram setiap harinya, kini hanya sekitar lima kilogram," tutur dia.

Ia menuturkan, untuk cabai rawit, kemampuan bertahannya hanya satu sampai dua hari, berbeda dengan komoditas lain seperti bawang putih yang mampu bertahan sampai satu bulan.

"Untuk komoditas lainnya seperti mentimum juga naik dari Rp 8 ribu menjadi Rp 13 ribu per kilogram," ujar dia.

Hal senada disampaikan juga oleh Rohayati, pedagang lainnya yang menuturkan kalau ada beberapa komoditas lain yang alami kenaikan terutama jelang Idul Adha.

"Sayur terong yang biasanya Rp 6 ribu per kilogram, naik menjadi Rp 10 ribu per kilogramnya. Biasanya akan naik sampai Rp 14 ribu setiap kilogram menjelang hari besar seperti Idul Adha," kata dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓