Mahasiswa Asing Kembangkan Desa di Mojokerto

Oleh Liputan6.com pada 26 Jul 2019, 23:00 WIB
Diperbarui 26 Jul 2019, 23:00 WIB
[Bintang] Ilustrasi mahasiswa
Perbesar
Ilustrasi mahasiswa | Via: istimewa

Liputan6.com, Mojokerto - Sebanyak 94 mahasiswa asing dari tujuh negara ikut mengembangkan desa di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur melalui program pengabdian dan pengambangan masyarakat atau Community Outreach Program (COP) 2019. Kegiatan ini digelar Universitas Kristen Petra selama tiga minggu 18 Juli-8 Agustus 2019.

Rektor Universitas Kristen Petra, Djwantoro menuturkan pada KKN internasional bertema "Keep Blessing The Nations" ini ada universitas dari tujuh yang mengirimkan wakilnya yaitu Belanda, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, China, Jepang dan Indonesia.

"Total ada 117 mahasiswa dari tujuh negara yang akan membangun desa dan terlibat kegiatan proyek fisik dan nonfisik bersama warga sekitar di enam dusun yang tersebar di Kecamatan Gondang dan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto," ujar dia seperti dikutip dari Antara, Jumat (26/7/2019).

Ia mengharapkan, melalui kegiatan ini, mahasiswa baik Indonesia dan asing mampu sumbangkan tenaga dan pikiran dalam menyelesaikan masalah yang selama ini dihadapi warga.

"Ini akan menjadi pengalaman yang baik bagi peserta bahkan mungkin bisa mengubah hidup kalian," ujar dia.

Dosen pembimbing COP 2019 UK Petra, Dwi Setiawan menuturkan, kegiatan ini bersifat tematik dan berkelanjutan. Pada 2019, tema yang diangkat adalah desa sehat dan wisata karena ada potnsi wisata di Desa Begaganlimo, Mojokerto yaitu wisata akar seribu.

"Kegiatan ini dalam rangka menyukseskan program desa sehat dan sejahtra ada kegiatan fisik dan nonfisik. Kegiatan fisik pembangunan green house untuk anggrek. Karena anggrek punya nilai jual, jadi wisatawan bisa langsung membeli,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

 

Dwi menuturkan, anggrek yang dipilih yang mudah hidup dan bertahan di iklim seperti di desa Begaganlimo. Sedangkan kegiatan nonfisik di Dusun Troliman, Desa Begaganlimo ada seni karawitan, tetapi penabuh gamelan masih belajar otodidak, sehingga didatangkan pelatih profesional.

"Tujuannya tentu untuk mendukung wisata di desa ini. Selain mendukung wisata mahasiswa juga mengajar di PAUD dan melatih kreatif anak-anak di pinggir hutan. Selain itu merenovasi PAUD,” kata dia.

Sementara itu, mahasiswa dari Inholland University Belanda, Fleur Adriana menuturkan cukup antusias ikut KKN internasional yang digelar UK Petra.

Ia sengaja ikut kegiatan itu untuk mendapatkan pengalaman baru dari kehidupan masyarakat desa di Indonesia. Lantaran kali ini dia pertama kali dia pergi ke Indonesia.

"Yang mnarik adalah mengenal secara langsung orang Indonesia. Mereka sangat ramah. Alam di sini sangat bagus, hal itu tidak saya temukan di Belanda. Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke negara yang sangat jauh," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓