Sempat Jadi Markas Mallaby, Yuk Tengok Rumah Sakit Darmo Surabaya

Oleh Liputan6.com pada 16 Jul 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 16 Jul 2019, 06:00 WIB
(Foto: Dok RS Darmo)
Perbesar
RS Darmo Surabaya (Foto: Dok RS Darmo)

Liputan6.com, Jakarta - Surabaya, Jawa Timur memiliki berbagai bangunan sejarah peninggalan Belanda  yang dijadikan cagar budaya. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga bangunan-bangunan tersebut agar tetap lestari. Jadi generasi selanjutnya bisa melihat dan mengetahui apa-apa saja yang pernah terjadi di negara Indonesia tercinta.

Rumah Sakit (RS) Darmo merupakan salah satu cagar budaya  di Surabaya dengan tipe A. Ini artinya tidak ada perubahan yang signifikan terhadap bangunan tersebut sejak zaman Belanda dulu. Misalnya saja lorong-lorong rumah sakit dan jendelanya yang masih sama seperti dulu.

Seperti dikutip dari laman rsdarmo.co.id, rumah sakit iniberada di Jalan Raya Darmo No.90, Surabaya. RS ini didirikan pada 9 Juni 1897 oleh sekelompok orang Belanda yang  membentuk perkumpulan bernama Surabayasche Zieken Verpleging (SZV), dipimpin oleh seorang dokter Belanda HJ Offerhaus.

Dengan tujuan ingin membantu memberikan pelayanan kesehatan yang lengkap dengan berbagai fasilitas dan sarana yang diperlukan, dan rumah sakit itu ditujukan bagi orang sakit, tanpa membedakan tingkat sosial, agama, ras dan kebangsaan.

Pada 1899, didirikan klinik terlebih dahulu di Jalan Ngemplak yang dipimpin oleh Zr. Bonnekamp. Kemudian ketika tahun 1921 perkumpulan Surabayasche Zieken Verpleging (SZV) membeli sebidang tanah di kawasan Darmo untuk didirikan rumah sakit.

Lalu pada 15 Januari 1921 dilakukan peletakan batu pertama Rumah Sakit Darmo yang pembangunannya diarsiteki oleh Cornelis Citroen, arsitek yang terkenal pada waktu itu. Pada pemerintahan Jepang (perang pasifik), gedung rumah sakit tersebut digunakan sebagai bengkel.

Yang difungsikan untuk memperbaiki dan menyimpan senjata dan kendaraan perang, serta sebagai camp bagi bagi anak-anak dan wanita. Akan tetapi, setelah pasukan Sekutu datang ke Surabaya, camp diambil alih oleh Letkol Rendal pada 27 Oktober 1945.

Sehingga di depan gedung rumah sakit terjadi pertempuran sengit antara tentara Sekutu dengan Arek-Arek Suroboyo. Pertempuran tersebut menjadi cikal bakal terjadinya peristiwa 10 November 1945.

2 dari 4 halaman

Sempat Jadi Markas Pertahanan

RS Darmo sempat dijadikan markas pertahanan pasukan Brigadir Jenderal AWS Mallaby. Kemudian berakhirnya masa pendudukan Jepang, pihak Sekutu berkuasa atas Surabaya yang kemudian mengembalikan fungsi RS Darmo sebagai rumah sakit.

Untuk merenovasi rumah sakit, beberapa pemimpin perusahaan dagang besar Belanda mendirikan yayasan Sticting Medisch Contac Oos Java (SMC). Tetapi akibat sengketa Irian pada 1959, putuslah hubungan di plomatik antara Belanda dengan Indonesia.

Hingga sejumlah perusahaan Belanda diambil alih oleh Indonesia. Rumah Sakit Darmo pun terkena imbasnya akibat kejadian tersebut, yaitu sebagian personil rumah sakit yang asalnya dari Belanda dikembalikan ke negara asalnya dan digantikan oleh personil orang Indonesia.

Kemudian sejak 1994, RS Darmo mengganti perkumpulan Darmo menjadi Yayasan RS Darmo. Rumah sakit ini memiliki keunikan yaitu terdapat semboyan “Salus Aegroti Suprema Lex Est”, yang artinya menyelamatkan penderita merupakan kewajiban utama).

Bagaimana? Tertarik untuk wisata heritage untuk ke sana?

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

 

3 dari 4 halaman

Gedung PTPN XI, Bangunan Belanda Anti Gempa

(Foto: Gedung PTPN XI/Love Suroboyo)
Perbesar
Gedung PTPN XI (Foto:Love Suroboyo)

Sebelumnya, Surabaya, Jawa Timur memiliki banyak tempat dan bangunan bersejarah bekas peninggalan Belanda. Bangunan bekas kolonial Belanda tersebut pun menjadi bangunan cagar budaya. Diperkirakan ada ratusan bangunan cagar budaya di Surabaya.

Salah satunya Gedung PTPN XI. Kantor pusat PTPN XI ini merupakan peninggalan Belanda yang dahulu gedung Haandels Vereeniging Amsterdam (HVA) Comidites Straat atau disebut asosiasi pedagang Amsterdam. HVA didirikan saat era kolonial Belanda pada 1878.

Mengutip berbagai sumber, Senin (15/7/2019), HVA memiliki bisnis perkebunan terutama industri gula. Selain itu juga fasilitas kesehatan dengan adanya RS HVA Toelongredjo yang sebelumnya bernama Inlandsch Hospital Toelongredjo.

Gedung peninggalan HVA ini merupakah salah satu gedung terbesar pada zaman Belanda. Bahkan melambangkan konglomerasi industri gula pada saat itu. Gedung PTPN XI ini dirancang oleh arsitek Hulswit, Fermont dan Ed.Cuypers. Gedung ini dibangun pada 1911 dan selesai dibangun pada 1921. Peresmian gedung dilakukan pada 18 April 1925.

Meski terlihat kuno, gedung berlantai dua ini ternyata anti gempa. Hal itu seperti disampaikan Ketua Love Suroboyo Shandy Setiawan. ”Gedung terbesar di zaman Belanda anti gempa. Konstruksinya kuat sebagian dari baja,” ujar Shandy saat dihubungi Liputan6.com.

Shandy menuturkan, gedung tersebut juga telah mengalami renovasi di bagian belakang. Menariknya, gedung ini juga memiliki bunker atau ruang bawah tanah. Menariknya di gedung ini juga terdapat relief menanam tebu, panen kopi, tebu yang merupakan bagian aktivitas perkebunan saat masa Belanda.

Direktur Utama PTPN XI, Daniyanto menuturkan, gedung PTPN XI sebagai kawasan cagar budaya, perawatan gedung dilakukan oleh PTPN XI dengan mengacu kepada aturan pemerintah terutama Pemerintah Kota Surabaya terhadap kawasan cagar budaya.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓