Wali Kota Risma Minta Bu Nyai Nusantara Bersatu Tangkal Radikalisme

Oleh Dian Kurniawan pada 13 Jul 2019, 18:48 WIB
Diperbarui 13 Jul 2019, 18:48 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) membagikan scarf sutra buatan UMKM Dolly binaan Pemkot kepada para Bu Nyai (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) membagikan scarf sutra buatan UMKM Dolly binaan Pemkot kepada para Bu Nyai, dalam acara Silaturahim Nasional Bu Nyai Nusantara di Surabaya, Sabtu (13/7/2019).

"Saya bagikan scarf sutra buatan Dolly ini sebagai cenderamata," ucap Risma seraya mengalungkan scarf kepada perwakilan Bu Nyai dari beberapa pondok pesantren di Indonesia.

Risma berharap, forum silaturahim mampu mengembalikan marwah Islam yang ramah melalui sosialisasi kepada Muslimah dan Fatayat NU di berbagai lapisan.

Sebagai tuan rumah, Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai kajian Islami untuk menangkal radikalisme dan pemahaman agama yang salah kaprah. Karena sasaran terorisme tidak lagi kaum pria, tapi perempuan dan anak-anak.

"Saya kira ini bagus karena seluruh potensi harus kita kerahkan untuk menangkal radikalisme karena sudah menyerang anak-anak dan perempuan," sambungnya.

Salah satu yang sudah dilakukan, lanjut Tri Rismaharini, adalah rutin melakukan kajian Islami di Masjid Balai Kota. Pihaknya menyambut baik jika Bu Nyai Nusantara bersatu akan membendung derasnya terorisme.

"Jika seluruh Nusantara bergerak tidak akan ada lagi ketakutan. Memang kita harus bergerak bersama untuk menyelamatkan generasi bangsa," ujar dia.

Selanjutnya

Sementara itu, Gus Zaki Hadzik, Ketua PW-RMI (Robithoh Maahid Islamiyah) NU Jatim mengatakan, jika acara Silaturahim Bu Nyai Nusantara tersebut bertujuan untuk meneguhkan peran dan eksistensi Bu Nyai dalam merespons perkembangan sosial keagamaan di masyarakat. Dengan cara mengumpulkan para Bu Nyai yang selama ini terpendam dengan kesibukan mengurus Ponpes.

"Kami ingin Bu Nyai muncul membangun frame masyarakat toleran, tepo seliro sehingga ketika Bu Nyai muncul maka peran yang tidak tersentuh oleh Kyai maupun pemerintah bisa tergarap dengan apik dalam satu frame yang indah," terang Gus Zaki.

Faktor terselenggaranya silaturahmi nasional ini antara lain mengingat peran Bu Nyai sebagai pengasuh pesantren yang memiliki kemandirian dalam ekonomi, melihat fenomena banjir hijrah agar memahami agama dengan benar dan tidak cenderung radikal sehingga bisa bergaul dengan siapapun tanpa harus membedakan keyakinan dan gaya hidup.

"Kita ingin Bu Nyai memberi sebuah edukasi bahwa keluarga harus utuh membangun dijauhkan dari radikalisme," imbuhnya.

Acara Silaturahim Nasional Bu Nyai Nusantara sendiri merupakan pertama kalinya digelar, diikuti 500 Bu Nyai dari 18 provinsi. "Selanjutnya kita akan melakukan diskusi kecil sambil membuka peluang masuk ke dalam masyarakat," ujar Gus Zaki.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓