Massa Brutal dan Beringas Saat Demo Tolak UU Cipta Kerja

Anri Syaiful 09 Okt 2020 11:30 WIB

Demonstrasi menolak UU Cipta Kerja berlangsung selama 3 hari di beberapa kota di Tanah Air.

Namun, memasuki hari ketiga atau Kamis 8 Oktober 2020, demonstrasi berujung bentrok hingga aksi anarkistis.

Unjuk rasa menolak Omnibus Law Ketenagakerjaan itu diwarnai aksi perusakan.

Massa berubah brutal dan beringas. Mereka merusak hingga membakar fasilitas umum, termasuk pos dan mobil polisi.

Unjuk rasa berujung keberingasan massa terjadi di Jakarta.

Demonstran yang berubah beringas terjadi pula di beberapa kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Kerusuhan di Ibu Kota diawali bentrokan demonstran dengan polisi di dekat Istana Negara.

Tepatnya di kawasan Harmoni dan Bundaran Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat.

Massa dihalau mundur dengan tembakan water cannon dan gas air mata, namun melancarkan aksi anarkistis dan vandalisme.

Tercatat, 20 halte Transjakarta dirusak dan dibakar. Sejumlah peralatan dan fasilitas di 2 stasiun MRT turut dirusak.

Massa juga membakar pos polisi di dekat Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat dan gedung bekas bioskop di Senen.

Sejumlah kendaraan di depan Balai Kota dan 2 Gedung Kementerian ESDM di Jalan MH Thamrin turut menjadi sasaran massa.

Di kawasan Harmoni, massa yang bertahan hingga Kamis malam, melempari aparat dengan batu, kembang api, dan molotov.

Polisi pun menembakkan gas air mata dan mengerahkan kendaraan taktis Barracuda untuk membubarkan massa.

Hingga Kamis sore, polisi menangkap 1.000 perusuh yang diduga menyusup di barisan demonstran.

Sementara, 6 polisi terluka dan dirawat di rumah sakit.

Konsentrasi massa masih terlihat hingga tengah malam di sejumlah lokasi di Jakarta.