Bikin Jiwa Bergelora! 5 Lagu Protes Terhadap Ketidakadilan Ini Wajib Kalian Dengar ya!

Oleh Fachri pada 15 Sep 2022, 14:20 WIB
Diperbarui 15 Sep 2022, 14:20 WIB
Demo.
Perbesar
Ilustrasi aksi massa. (Hasan Mrad / Shutterstock.com)

Liputan6.com, Jakarta Dalam sebuah aksi massa atau yang kerap kita kenal dengan demonstrasi, pamflet atau spanduk yang dibuat oleh massa di lapangan merupakan simbol dari suara lantang dalam menyuarakan kebenaran. Tetapi, terkadang, se-provokatifnya kita membuat pamflet, tetap akan kalah dengan semangat dari sebuah lagu yang diciptakan untuk melangsukan protes kepada satu pihak.

Terkadang, sebuah lagu dapat lebih meresap ke dalam sanubari dan memantik semangat massa aksi ketimbang kata-kata yang dituangkan ke dalam pamflet yang dibuat. Sejarah memberikan bukti nyata kepada kita, bahwa ada banyak lagu yang berhasil menjadi api pembakar semangat, yang menggerakkan rakyat untuk melawan ketidakadilan.

Bahkan, tidak berlebih jika kita memasukkan lagu-lagu tersebut ke dalam alat bagi “penyambung lidah” rakyat tertindas. Nah, di bawah ini merupakan 5 lagu yang paling poppuler dan mengandung protes kepada ketidakadilan terhadap penguasa!

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


1. Bob Dylan (The Times they are a-Changing)

Lagu yang juga menjadi judul album Bob Dylan ini dirilis pada tahun 1964. Seperti yang kita ketahui, lagu ini menjadi salah satu lagu protes kepada ketidakadilan yang paling populer dari Bob Dylan.

Ya, memang, pada medio 1960, Bob Dylan merupakan salah satu penyanyi yang menjadi ikon musik perjuagan untuk ketidakadilan. Lagu-lagunya langsung menohok isu-isu politik, seperti hak-hak sipil warga kulit hitam Amerika, anti-perang, anti-militerisme, dan lain-lain.

The Times They Are a-Changin mampu membakar semangat perlawanan dan protes sosial pada medio 1960-an. Lewat liriknya yang tegas dan lugas, kagu ini seolah-olah memiliki tujuan kuat dalam menggerakkan manusia untuk melawan ketidakadilan. Lagu ini juga menjadi bukti bahwa gerakan hak-hak sipil dan proses kreatif musik sangat dekat satu sama lain.


2. U2 (Sunday Bloody Sunday)

Dalam lagu ini, U2 mengenang kejadian tragis pada 30 Januari 1972 yang terjadi di Kota Derry, Irlandia Utara. Kejadian tersebut berawal dari penyerangan yang dilakukan militer Inggris dalam pawai damai kelompok hak sipil di Irlandia Utara.

Pada pawai yang dilakukan secara damai pada saat itu, lebih dari 20 ribu warga Irlandia Utara merasakan kekelaman dari penyerangan tersebut. Aksi damai tersebut direspon oleh militer Inggris dengan sangat brutal. Mereka bahkan mengirimkan pasukan penerjun payung dan tak segan menembaki para demonstran.

Selama 25 tahun, U2 selalu membawakan lagu Sunday Bloody Sunday di setiap konsernya. Lagu yang termasuk ke dalam album War ini memperlihatkan bahwa musik bukan hanya hiburan semata, tapi lebih dari itu. Dari lagu U2 ini kita melihat bahwa musik bisa mengubah perspektif sebuah generasi, khususnya perspektif terkait dengan perang dan ketidakadilan.


3. Sex Pistols (God Save the Queen)

Lagu yang termasuk ke dalam daftar 500 kagu terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone ini diciptakan oleh band punk terkenal, Sex Pistols. God Save the Queen menjadi salah satu daftar lagu pada album Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistols, yang dirilis pada tahun 1977.

Seperti yang bisa kita artikan dalam judulnya, lagu yang menjadi 'anekdot' dari lagu kebangsaan Inggris ini mengandung protes terhadap monarki yang berkuasa di Inggris. Pada saat band ini muncul, Inggris sedang di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth II. 

Ya, jiga dibedah dari lirik-lirik yang muncul dalam lagu ini, kesan tegas dan lugas dalam menentang keadaam, sangatlah terpancar. Dan ini merupakan salah satu lagu yang sangat populer ketika sebuah kekuasaan sudah hilang arah dan mendiskreditkan masyarakatnya.


4. The Who (Won’t Get Fooled Again)

Lagu yang sekali lagi buah karya dari band punk terkenal di dunia asal Inggris, The Who. Lagu yang berisi sinisme terhadap politik ini tercipta pada tahun 1971. Bisa dibilang, lagu ini layak masuk ke dalam lagu yang sangat bernuansa politis.

Won’t Get Fooled Again merupakan sebuah lagu yang beberapa bagian terkecilnya mendiskreditkan revolusi. Karena dari beberapa lirik dan maksud dari lagu ini mengungkapkan bahwa sebuah revolusi di semua aksi hanya akan mencapai hasil yang tak pernah diperkirakan. Tapi terlepas dari itu, lagu ini merupakan lagu ikonik di eranya!


5. Tracy Chapman (Talkin' About A Revolution)

Lagu yang dirilis pada tahun 1988 ini merupakan single kedua dari Tracy Chapman. Nuansa politis sangat kental dalam lagu ini. Diksi yang ada dalam lagu ini berisi pesan-pesan politis untuk rakyat miskin agar bangkit merebut hak-hak yang dirampas oleh penguasa.

Tracy Chapman sangat mengagumi Nelson Mandela. Karena itu, ia tampil di konser peringatan 40 tahun deklarasi Hak Asasi Manusia serta tampil dalam konser penghormatan untuk Nelson Mandela. Dana yang terkumpul pada konser tersebut pun disalurkan untuk perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan.

Talkin' About A Revolution merupakan salah satu lagu untuk melawan ketidakadilan dan penindasan yang populer di dunia. Pesan yang ingin disampaikan jelas, bahwa revolusi bisa membuat perubahan untuk masyarakat.

Nah, dari kelima lagu di atas, lagu apa saja yang sudah kamu dengarkan? Dan apa ketika mendengarkan lagu tersebut jiwa aktivisme kamu bergelora? Dan buat kamu  yang belum mendengar kelima lagu di atas, bisa dicari di platform streaming musik kesukaan kalian ya!

 

(*)

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya