Sandiaga Uno Dukung Pemulihan Industri Film Nasional Di Tengah Pandemi, Pemutaran Tjoet Nja' Dhien di Bioskop Jadi Momentum

Oleh Ruly Riantrisnanto pada 30 Mei 2021, 20:58 WIB
Diperbarui 30 Mei 2021, 21:06 WIB
Sandiaga Uno Menghadiri Gerakan Ayo Kembali Ke Bioskop
Perbesar
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno saat menghadiri gerakan 'Ayo Kembali Ke Bioskop' di Plaza Senayan Jakarta, Minggu (30/5/2021). (IST)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno meyakinkan bahwa pemerintah sedang mendorong pemulihan industri perfilman nasional. Rencananya, Menparekraf dan jajarannya akan memberikan stimulus bagi penciptaan film yang mengangkat nilai keragaman dan persatuan Indonesia.

Sandiaga Uno menyampaikannya saat menghadiri gerakan 'Ayo Kembali Ke Bioskop' di Plaza Senayan Jakarta, Minggu (30/5/2021). Acara ini juga turut dihadiri berbagai stakeholders industri perfilman termasuk aktris senior Christine Hakim dan sutradara Eros Djarot.

Sandiaga Uno memandang bahwa film nasional besutan Eros Djarot dan Christine Hakim yang berjudul Tjoet Nja' Dhien yang mengangkat pahlawan nasional Aceh, Cut Nyak Dien, sangatlah penting untuk perkembangan dunia perfilman di Indonesia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Film Terbaik Karya Anak Bangsa

Sandiaga Uno Menghadiri Gerakan Ayo Kembali Ke Bioskop
Perbesar
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno saat menghadiri gerakan 'Ayo Kembali Ke Bioskop' di Plaza Senayan Jakarta, Minggu (30/5/2021). (IST)

"Film nasional ini berhasil menghadirkan film yang epik dengan delapan piala citra dengan segala keterbatasannya. Hari ini kita merayakan Kembali achievement dari film terbaik karya anak bangsa yang sudah direstorasi bekerja sama dengan pihak internasional, dalam hal ini Belanda," ujar Sandiaga Uno.

Menurutnya lagi, hal tersebut merupakan bagian dari gerakan ayo kembali ke bioskop untuk mendukung film nasional. Ia menjanjikan bahwa program pemulihan ekonomi nasional khusus dunia perfilman akan difinalkan sebentar lagi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bergantung Pada Industri Perfilman

Poster film Tjoet Nja Dhien. (Foto: IMDb/ Kanta Indah Film)
Perbesar
Poster film Tjoet Nja Dhien. (Foto: IMDb/ Kanta Indah Film)

Sandiaga Uno turut mengungkapkan bahwa ratusan, ribuan, bahkan hingga puluhan ribu masyarakat hidupnya bergantung dari industri perfilman.

Sehingga, pihaknya harus hadir dengan kebijakan berpihak secara bersama-sama seperti nilai yang diperlihatkan Tjoet Nja' Dhien yang pantang menyerah sampai titik darah penghabisan.

"Karena sekarang di masa pandemi Covid-19, yang bisa menyelamatkan kita adalah diri kita sendiri dengan disiplin protokol kesehatan Covid-19. Perjuangan dan keteguhan hati Cut Nyak Dien memperlihatkan banyak pembelajaran, nilai-nilai perjuangan, kesetaraan gender, dan nilai-nilai luhur dari Aceh yang perlu kita berikan penghormatan," tambah Sandiaga Uno.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Keberpihakan pada Film Nasional

Lebih lanjut, Sandiaga juga menjelaskan keberpihakan pada arah film nasional baik yang akan diproduksi maupun yang sudah diproduksi.

"Kita ingin mengangkat keberpihakan pada film nasional. Satu film nasional bisa 400 orang yang terlibat. Bahkan film Tjoet Nja' Dhien saja 1.500 orang yang terlibat," ungkap Sandiaga Uno.

Ia menyebutkan bahwa tahun 2019 merupakan masa keemasan film nasional Indonesia. Lebih dari 50 juta orang memenuhi bioskop, tapi pandemi memukul pada 2020. Untuk memulihkannya, ada tiga program yang dilakukan oleh pemerintah.

"Dukungan PEN untuk industri film yakni kampanye promosi film, meningkatkan jumlah penonton dengan buy one get one. Stimulus produksi film dengan seleksi dari dewan film dan kurator. Sehingga suplainya bisa bersaing dengan film luar negeri," kata Sandiaga Uno.

"Agar di situasi berat seperti ini dapat memproduksi film berkualitas yang mengangkat value ke-Indonesia-an. Memiliki nilai-nilai persatuan dan keberagaman. Dengan kekuatan kita bersama, kita akan pulih," tandas Sandiaga Uno.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kenangan Eros Djarot di Film Tjoet Nja' Dhien

Di sisi lain, sutradara yang memproduksi film Tjoet Nja' Dhien, Eros Djarot, menyebutkan bahwa film tersebut merupakan produksi tim bersama Masyarakat Aceh.

"Karena tanpa dukungan mereka tidak akan ada film Tjoet Nja' Dhien. Bahkan sampai sembilan yang sudah almarhum. Kita panjatkan doa untuk Ibrahim Kadir penyair, Rosian Anwar, Rudi Wowor, dan yang lainnya," kata Eros Djarot.

Ia mengungkapkan bahwa selama 18 bulan riset film Tjoet Nja' Dhien, ada sebanyak 120-an buku yang menjadi sumber. Esensi ada tujuh buku, dan ada tiga buku yang wajib dibaca.

"Research paling penting dalam memproduksi film. Saya saat melempar skenario dibaca terlebih dahulu oleh 25 tokoh. Kami harap intelektual diskursus dihidupkan kembali dalam memproduksi film sejarah dengan melibatkan masyarakat. Kami juga berharap pihak bioskop dapat memberikan porsi layarnya untuk perfilman nasional," tambah Eros Djarot.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pantun dari Sandiaga Uno

Menariknya, Sandiaga Uno sempat membuka pernyataannya dengan mengucapkan pantun terlebih dahulu.

"Sarapan pagi menunya ketupat laksa. Biar lengkap kue rangi yang jadi kudapannya. Mari kita sukseskan film nasional Indonesia. Agar industri kreatif makin berjaya," ucapnya.

"Pergi ke Plaza Senayan membeli makan. Makanannya enak sayang kalau dilewatkan. Industri perfilman nasional waktunya kita majukan. Tapi Protokol Kesehatan harus diutamakan," ia melanjutkan sebelum menyampaikan pernyataan di atas.

Lanjutkan Membaca ↓