Rilis Single Baru, Powerslaves Dedikasikan untuk Tenaga Medis Hadapi Corona Covid-19

Oleh Liputan6.com pada 06 Apr 2020, 20:40 WIB
Diperbarui 06 Apr 2020, 20:40 WIB
Powerslaves
Perbesar
Powerslaves merilis single terbaru mereka, "Stare at Me", Selasa (7/4). (Powerslaves)

Liputan6.com, Jakarta- Pandemi virus corona covid-19 masih menjadi momok di dunia, termasuk Indonesia. Segala aspek kehidupan pun ikut terkena imbasnya, termasuk dunia hiburan.

Begitu banyak musisi yang harus membatalkan atau menunda penampilan mereka di sejumlah acara. Namun, Powerslaves tak mau berdiam diri.

Grup yang kini digawangi Heydi Ibrahim (vocal), Anwar Fatahillah (bass), Wiwiex Soedarno (kibor), dan Agung Yudha (drum) ini justru terpanggil untuk memberi dukungan kepada para pejuang garda depan kesehatan yang menangani virus corona, lewat single “Stare at Me” yang mereka rilis dalam format digital, Selasa (7/4).

Tema dan lirik dalam lagu pun sesuai dengan tragedi yang terjadi saat ini. "Ini lagu tentang kemanusiaan. Lagu ini lebih ke dukungan kepada pejuang-pejuang garda terdepan kesehatan (dokter, tenaga medis). Jadi lirik lagu ini sangat cocok dengan kondisi dunia saat ini," kata Anwar Fatahillah.

Tapi, bukan aji mumpung, lantaran band yang dalam tur kerap dibantu dua gitaris Ambang Christ dan Roby Rahman ini sama sekali tak sedang mencari untung. Pasalnya - setelah dirilis dalam format digital - lagu ini juga akan dirilis dalam bentuk CD di mana setiap keuntungan dari hasil penjualan CD single-nya akan didonasikan Powerslaves untuk penanganan corona COVID-19.

Hal menarik lainnya, lagu ini dirilis menjelang ulang tahun ke-29 Powerslaves, 19 April mendatang. Lalu, apa pesan yang ingin disampaikan Powerslaves kepada para penggemar fanatik mereka, Slavers Indonesia dan para pencinta musik?

"Ini adalah karya yang menggugah empati untuk para korban COVID-19. Kami meminta para penggemar dan masyarakat umum untuk saling menjaga diri, keluarga, dan lingkungan masing-masing. Tetap di rumah dan juga menjaga stamina dan kebersihan serta memberi dukungan kepada tenaga medis yang berjibaku menangani virus corona ini," pungkas Anwar Fatahillah.

 

2 dari 4 halaman

Direkam Empat Tahun Lalu

Powerslaves
Perbesar
Powerslaves dalam salah satu penampilan konser mereka.(Powerslaves)

Lagu ini sendiri sebenarnya bukan baru. Lagu ini direkam empat tahun silam, saat gitaris Andry Muhammad masih bergabung untuk kedua kalinya di band ini. Setelah lama tidak dipublikasikan, sekarang dianggap sebagai waktu yang tepat untuk diperdengarkan kepada publik.

Kontribusi semua anggota Powerslaves di lagu ini sangat kentara. Chemistry mereka juga sangat kuat. Komunikasi musikal antara Anwar Fatahillah dan Andry Muhammad yang sudah nge-klik sejak dulu, menjadi sesuatu yang menarik dalam lagu ini. Pilihan sound juga sudah sangat sesuai dengan tema liriknya.

Pun demikian persekutuan musikal Wiwiex Soedarno (kibor) dengan Andry Muhammad. Mereka sudah sangat saling memahami di mana dalam setiap isian lagunya selalu terdengar harmonis tanpa ada yang saling mengalahkan. Belum lagi isian drum Agung Yudha yang makin memberi warna.

 

3 dari 4 halaman

Ide dari Kehidupan Sehari-Hari

Jogjarockarta
Perbesar
Powerslaves tampil memukau di JogjaROCKarta Festival 2020 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Minggu (1/3). (Rajawali)

Ide pembuatan lagu ini, kata Wiwiex Soedarno, berangkat dari kehidupan sehari-hari – baik dari sisi personal maupun ketika mereka melihat keadaan sekitar.

"Kami ingin agar semua lapisan masyarakat bisa menerima single ini karena tema liriknya yang universal dan kebetulan kami juga membuatnya dalam bahasa Inggris. Satu lagi, di reff bagian akhir ada suara anak-anak yang semakin merepresentasikan betapa universalnya lagu ini,” jelas Wiwiex.

"Awalnya, ngobrol-ngobrol sama Heydi Ibrahim, dia bilang; 'Bikin lagu yang nadanya rendah dong, biar aku bisa bawain sampai tua'. Aku cari-cari referensi dan pada akhirnya ketemu lagu ini," timpal Anwar Fatahillah.

 

4 dari 4 halaman

Tonjolkan Warna Kekinian

Dari segi musik, di lagu ini Powersalave lebih menonjolkan warna yang lebih kekinian tanpa menghilangkan jati diri mereka yang sesungguhnya. Dengan sentuhan gitar akustik dan bebunyian selo pada bagian intronya, “Stare at Me” terdengar sangat natural

Bagaimana dari sisi lirik? "Yang jelas kalau masalah lirik selalu saya kaitkan dengan proses penyerahan diri saya kepada Tuhan," kata Heydi Ibrahim.

"Saya punya anak kecil dan istri. Usia memang di tangan Tuhan dan kita mesti pasrah. Namun jika hal ini merenggut nyawa orang-orang yang kita kasihi, sebagai manusia sulit rasanya bagi saya untuk mengungkapkan bagaimana perasaan ini,” lanjutnya.

Lanjutkan Membaca ↓