Cerita Haru Seventeen dalam Pembuatan Film Kemarin 

Oleh Aditia Saputra pada 24 Mar 2020, 16:30 WIB
Diperbarui 24 Mar 2020, 23:19 WIB
Ifan Seventeen

Liputan6.com, Jakarta Tragedi tsunami Tanjung Lesung menjadi pukulan terberat bagi keluarga besar band Seventeen. Namun kehidupan harus terus berlanjut. Dengan dibuatnya film 'Kemarin' akan menjadi kenangan indah dan pengungkap fakta perjuangan band asal Yogyakarta itu hingga dipisahkan oleh maut. 

Setahun lebih setelah peristiwa yang terjadi pada 22 Desember 2018 akhirnya Seventeen bisa merampungkan produksi film semi dokumenter mereka bertajuk 'Kemarin'. Tragedi yang membawa pergi M. Awal Purbani (Bani - bassis), Herman Sikumbang (Herman - gitaris), Windu Andi Darmawan (Andi - drummer), serta Oki Wijaya (road manager), Ujang (kru) dan Dylan Sahara itu menjadi poros utama di film ini.

Sekadar kilas balik, dua minggu sebelum tragedi terjadi, Seventeen dan managemen melakukan internal meeting yang memutuskan 3 hal. Salah satunya adalah pembuatan dokumenter perjalanan Seventeen. Managemen pun mulai merancang semua dokumen perjalanan selama hampir 20 tahun Seventeen. Hingga akhirnya rencana tersebut diurungkan karena tsunami yang menimpa mereka.

1 bulan kemudian, 22 Januari 2019, secara ajaib tim management menemukan kamera milik almarhum Andi yang merekam detik-detik terakhir kebersamaan mereka sebelum manggung. Bahkan momen saat tsunami datang menggulung panggung Seventeen di lagu kedua mereka pun terabadikan. Kamera Andi ditemukan dalam keadaan rusak namun memory card masih bisa diakses datanya.

“Setelah menemukan kamera Andi itu gue memutuskan untuk melanjutkan pembuatan dokumenter Seventeen. Ifan awalnya risih diikuti kamera kemana-mana karena salah satu cerita di sana adalah kejadian setelah tsunami dan Ifan satu-satunya personel inti yang bertahan hidup,” ujar Dendi Reynando CEO Makarya Pictures dalam keteranganya kepada wartawan.

 

2 dari 3 halaman

Stok footage 

Film Kemarin
Poster Film Kemarin

Upie Guava pun didaulat menjadi sutradara bersanding dengan Wisnu Surya Pratama sebagai penulis naskah yang sebelumnya mengerjakan proyek film dokumenter juga. Footage video menjadi modal awal penulisan film ini, Stok footage yang dimiliki Seventeen berupa mini DV yang terkumpul dari tahun 2003. Total stok footage yang diolah sebanyak 50 jam lebih. Ditambah lagi mereka memproduksi ulang adegan tsunami dan menggunakan CGI.  

“Di setiap episode perjalanan Seventeen, kebetulan gue ada di dalamnya, dari pertama kali datang ke Jakarta dengan formasi sebelum ifan, mengirim demo ke label, sampai pergantian vokalis. Terlibat di film ini merupakan kehormatan, setidaknya saya ikut terlibat untuk memberikan sesuatu untuk teman-teman Seventeen yang sudah tidak ada,” ujar Upie.

 

3 dari 3 halaman

Pemilihan Angle

Ifan Seventeen
Ifan Seventeen merilis single solo perdananya 'Masih Harus Di Sini'

Dalam penggarapan film Kemarin, prosesnya sendiri dikerjakan lebih dari setahun lamanya. Maklum saja, banyak banyak sekali footage yang harus dipilih. 

“Proses produksi ini memakan waktu 14 bulan. Dimulai dari menonton semua footage yang berjumlah 55 jam. Memilih angle cerita paling tepat yang akan disampaikan. Lalu kita memproduksi ulang adegan tsunami selama 2 hari. Nah ini melibatkan puluhan extras dan membuat ombak tsunami, kemudian di touch up dengan CGI.  Ifan pribadi juga diikuti kamera selama berbulan-bulan. Untuk merekam aktivitas dan kondisi sesungguhnya yg dia alami setelah kejadian tsunami,” ujar Upie Guava.

 

Lanjutkan Membaca ↓