Perempuan Tanah Jahanam: Bukan Horor Generik Yang Mudah Ditebak!

Oleh Liputan6.com pada 18 Okt 2019, 11:30 WIB
Diperbarui 20 Okt 2019, 08:13 WIB
Perempuan Tanah Jahanam (Twitter/ @MarissaAnita)

Liputan6.com, Jakarta - Joko Anwar bukan sineas yang senang mengulang kesuksesan dengan cara sama. Itu sebabnya setelah Pengabdi Setan menjadi horor terlaris sepanjang masa bersama 4,2 juta penonton, ia tak serta merta bikin sekuel.

Joko Anwar melahirkan Gundala dan kini Perempuan Tanah Jahanam. Perempuan Tanah Jahanam memang bergenre memedi. Namun naskah, atmosfer, dan spirit yang diusung Perempuan Tanah Jahanam tak seperti Pengabdi Setan. Perempuan Tanah Jahanam horor berbasis budaya. Ia terasa dekat dengan kita. 

Perempuan Tanah Jahanam dibuka dengan adegan jahanam betulan. Maya (Tara) adalah petugas pintu tol. Ndilalah, ia dapat tugas malam. Berkawan lagu dan suara Dini (Marisa) yang mengajaknya bergosip, Maya melayani para pengguna jalan.

Apes, belakangan Maya bertemu sopir mobil tua yang selalu menatapnya dengan tajam. Namanya, Bimo (Rifnu). Suatu malam Bimo melintas pintu tol lagi. Ia membayar tiket sambil menatap Maya. Usai membayar, mobil melaju beberapa meter kemudian berhenti. Bimo keluar mobil membawa parang. 

Sadar dalam bahaya, Maya kabur. Saat Maya jatuh tersungkur, polisi datang dan menembak Bimo. Trauma dengan tragedi ini, Maya banting setir jualan baju di pasar. Menjual baju tak semudah yang dibayangkan. Tidak kuat dengan tekanan ekonomi dan berbekal sebuah foto keluarga, Maya mengajak Dini pulang ke Desa Harjosari. Di sanalah dulu Maya lahir. Desa itu aneh, banyak kuburan anak kecil. Maya dan Dini mengaku sebagai mahasiswi yang sedang meriset. Mereka disambut Nyi Misni (Christine) dan dalang bernama Ki Saptadi (Ario).

 

 

2 of 3

Pohon Cerita

[Fimela] Penampakan Perdana Film Perempuan Tanah Jahanam
Penampakan Perdana Film Perempuan Tanah Jahanam (FOTO: Base Entertainment)

Adegan pembuka film ini benar-benar jahanam. Tara mengeksekusi adegan merumpi lewat ponsel dengan natural. Ia membahas pekerjaan hingga keperawanan. Marisa tak hadir secara fisik. Ajaibnya, mendengar mereka bergunjing kami bisa membayangkan betapa lama mereka berteman. Dari sini, Joko Anwar mengubah hangatnya pertemanan menjadi teror mematikan. Ketakutan dibangun dari suasana malam di pintu tol ditingkahi raut muka Rifnu yang terpapar lampu papan nama di gardu tol. 

Dari situ adegan beringsut ke opening yang menampilkan nama-nama pemain. Beberapa detik kemudian kami sadar latar layar bioskop perlahan menyerupai kelir. Bagi yang besar di Jawa Tengah dan Timur tentu paham, kelir adalah tirai kain putih yang sengaja dibentangkan untuk menangkap bayang-bayang wayang dalam pertunjukan wayang kulit. Warna layar yang menguning, pertanda ia telah disinari lampu blencong berbahan bakar minyak. Sampai di sini, kami paham Joko Anwar tengah mengirim isyarat terkait apa yang terjadi di babak berikutnya. 

Dari opening ini saja, tergambar jelas Perempuan Tanah Jahanam bukan horor kebanyakan. Dengan akar budaya dan mitos seputar adat yang berkelebatan di sekitar kita, Joko Anwar menulis naskah dengan konflik serupa dahan pohon yang bercabang-cabang. Kita tak akan bisa menyimpulkan dengan mudah kecuali mengikuti alur demi alur. Dengan begitu, terlihat jelas bentuk pohon cerita yang ditanam Joko Anwar. Ini terkait motivasi, penokohan, dan latar belakang setiap karakter yang muncul di film.  

Perempuan Tanah Jahanam dimodali penokohan yang masuk akal serta dialog yang menajamkan karakter. Dan karena ini Joko Anwar, apa pun genrenya terasa relevan dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Ini tergambar jelas salah satunya di adegan mendoakan makam namun sang tokoh bingung doanya bagaimana. Ya sudah berdoa saja dalam bahasa Indonesia toh Tuhan tidak hanya memahami satu bahasa. Khas Joko, genit sekaligus satir. Tara Basro tampil natural sementara Marisa mengimbanginya dengan gaya celamitan.

 

 

3 of 3

Sensasi Was Was

[FIMELA] Cast Perempuan Tanah Jahanam di ON OFF Festival 2019
(Adrian Putra/Fimela.com

Tokoh Dini terlihat berenergi berkat celetukannya yang kadang enggak pakai otak tapi sering benar. Ceplas-ceplos, usil, dan membuat penonton terhubung dengan sahabat model begini. Di sisi lain kita tak perlu meragukan akting Christine Hakim. Ekspresinya saat membuka pintu, berjalan, dan menatap lawan bicara (padahal belum ngomong) bikin jantung berdesir. Tanpa bicara, air muka kolektor 8 Piala Citra ini merefleksikan sesuatu yang kompleks. Mau menuduh dia jahat, rasanya kepagian. Mau berprasangka baik pun, penonton enggan. 

Itulah yang kami rasakan kali pertama berpapasan dengan Christine di layar putih. Ini membuktikan level keaktorannya. Kita patut mengapresiasi Ario Bayu yang auranya memancar saat memakai belangkon, beskap, dan keris. Juga Asmara Abigail berikut dinamika emosi dan mativasinya. Sebagai horor, Perempuan Tanah Jahanam unik. Ekspresi sejumlah pemeran pendukung mengirim sensasi waswas ke pihak penonton. 

Keseraman dibangun dari pemilihan lokasi, set, serta suasana perkampungan yang ganjil. Belum lagi tata suaranya, membuat kesan wingit terasa bulat dan utuh. Perempuan Tanah Jahanam membangun dunianya sendiri. Penonton dipersilakan masuk dan menjadi bagian dari kegilaan di desa jahanam itu bersama penduduknya. Alurnya terus mengajak kita menebak apa, siapa, dan mengapa. Film ini bukan horor generik yang mudah diterka. Kita dikondisikan mengenali para tokoh dulu dengan saksama. Bagi yang masih mengasosiasikan horor dengan teror lelembut setiap 5 atau 10 menit bisa jadi kecewa.  

Mohon maaf, Joko Anwar sudah tidak di level itu lagi. Dan rasanya memang ia tak pernah mendefinisikan horor sedangkal itu. Keseraman bukan berasal dari setan semata. Pernah mendengar istilah kesetanan? Pada akhirnya, kita ingat Pengabdi Setan melahirkan sosok ibu Mawarni Suwono yang ikonis. Bukan tidak mungkin, Perempuan Tanah Jahanam juga melahirkan sosok ikonis. Nyi Misni, Dini, Maya, atau tokoh lain? Datang dan temukan jawabannya di bioskop.  

Pemain: Tara Basro, Marisa Anita, Ario Bayu, Christine Hakim, Asmara Abigail, Rifnu Wikana

Produser: Shanty Harmayn, Tia Hasibuan, Ben Soebiakto, Aoura Lovenson Chandra

Sutradara: Joko Anwar

Penulis: Joko Anwar

Produksi: Base Entertainment, Rapi Film, CJ Entertainment, Ivanhoe Pictures

Durasi: 106 menit

 

(Wayan Diananto)

Lanjutkan Membaca ↓