Tampil Lagi di Golden Memories Asia Indosiar, Ini 5 Hit Besar Sheila Majid

Oleh Liputan6.com pada 02 Okt 2019, 10:20 WIB
Diperbarui 02 Okt 2019, 11:16 WIB
[Bintang] Sheila Majid

Liputan6.com, Jakarta - Diva dari Malaysia kembali memeriahkan program Golden Memories Asia Indosiar. Sheila Majid menjadi komentator dan berbagi pandangan kepada para peserta Golden Memories Asia Indosiar.

Sheila Majid juga merupakan sahabat Ruth Sahanaya. Keduanya memulai karier di tahun yang sama, 1985. Kiprahnya di Indonesia dinaungi Aquarius Musikindo, perusahaan rekaman yang juga memayungi Ruth Sahanaya.

Sambil menonton Golden Memories Asia Indosiar, Showbiz Liputan6.com mengajak Anda mengingat kembali lima hit besar Sheila Majid. Yang mana favorit Anda?

 

2 dari 6 halaman

1. Sinaran (1987)

[Bintang] Sheila Majid
Sheila Majid (Nurwahyunan/bintang.com)

Sesuai judulnya, “Sinaran” yang ditulis komponis Azlan Abu Hassan dan Johan Nawawi, benar-benar membuat karier Sheila Majid bersinar. Vokal Sheila Majid yang identik dengan citra kalem di luar dugaan mampu menjinakkan aransemen “Sinaran” yang kental dengan R&B.

Tahun demi tahun berganti, “Sinaran” tetap identik dengan Sheila Majid, meski pada 2000 kelompok vokal Warna menyanyikan kembali dengan aransemen lebih kekinian. “Sinaran” dari album Emosi membuka jalan Sheila Majid ke Indonesia. Tak banyak musisi Negeri Jiran yang mampu melakukan ekspansi ini.

 

3 dari 6 halaman

2. Antara Anyer dan Jakarta (1987)

Sheila Majid
Sheila Majid [foto: Herman Zakharia]

Ini salah satu fenomena unik dalam sejarah musik Tanah Air. “Antara Anyer dan Jakarta” sebenarnya lagu milik Atiek CB, dari album berjudul sama yang diproduseri Erwin Gutawa.

Dirilis pada 1986, album ini flop di pasar. Setahun kemudian lagu ini “didaur ulang” Sheila Majid dan jadi hit abadi. Hingga kini, publik tahunya “Antara Anyer dan Jakarta” hit-nya Sheila Majid.

Dinyanyikan dengan tulus dan seperti kasmaran betulan, dua sensasi ini diduga dirasakan jutaan pendengar. Alhasil, lagu ini membuat pamor Sheila Majid menguat.

 

4 dari 6 halaman

3. Warna (1988)

[Bintang] Sheila Majid
Penyanyi yang populer di Indonesia dengan lagu 'Antara Anyer dan Jakarta' ciptaan Oddie Adam pada tahun 1980-an itu beberapa kali mengajak penggemarnya untuk bernyanyi bersama. (Andy Masela/Bintang.com)

Sukses dengan “Sinaran” dan “Antara Anyer dan Jakarta,” Sheila Majid tak memberi jeda panjang untuk penggemar. Ia merilis album Warna dengan hit berjudul sama.

“Warna” karya Indra Lesmana dan Johan Nawawi tembang bercitarasa optimistis. Liriknya serupa puisi yang diatur oleh sajak alias rima.

“Lihat pada si pelangi, seribu satu dimensi. Warna sari dalam sinar hidup kita. Menghiasi alam ini. Inspirasi dunia seni, kusyukuri cindera mata Maha Esa,” begitu lirik awalnya. “Warna” salah satu lagu dengan lirik paling apik yang pernah dibuat musikus kita.

 

5 dari 6 halaman

4. Cinta Jangan Kau Pergi (1997)

20160328-Sheila Majid-Herman Zakharia
Sheila Majid (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Indonesia menjadi rumah kedua Sheila Majid. Saking cintanya pada republik ini, Sheila Majid merekam “Cinta Jangan Kau Pergi” yang dirilis eksklusif bagi pencinta musik Tanah Air.

Yang menarik, lagu ini punya dua versi video klip. Pertama, versi monokrom. Kedua, versi Sheila Majid duduk “mengapung” di perairan berkawan puluhan angsa. Video klip ini sempat bikin heboh karena angsa-angsa yang jadi model itu diasuransikan. “Cinta Jangan Kau Pergi” meledak di pasar dan hingga kini jadi salah satu anthem mereka yang sedang galau.

 

6 dari 6 halaman

5. Kumohon (1999)

[Bintang] Sheila Majid
Penyanyi asal Malaysia, Sheila Majid mengaku Indonesia sebagai rumah keduanya. Sebagai penyanyi, ia mengaku banyak mengenal para musisi dari Indonesia. (Andy Masela/Bintang.com)

Tak semeledak “Cinta Jangan Kau Pergi” dan sederet hit Sheila Majid sebelumnya tapi “Kumohon” menunjukkan kapasitas Sheila Majid dalam memahat lirik. Bagi kami, “Kumohon” contoh ideal nomor religi dengan sudut pandang universal.

Apa pun keyakinan Anda, seburuk apa pun kondisi Anda, mendengar “Kumohon” bagai menjalani terapi kejiwaan kaya empati minus penghakiman.

“Ada kala kumerasa, hidup ini seperti kaca. Jikalau tidak bersabar hancur berderailah akhirnya. Tabahkanlah hatiku, melalui semua itu oh kuatkanlah, jagakanlah diriku,” nomor ini dinyanyikan kembali oleh Afgan setelah 15 tahun berganti.

(Wayan Diananto)

Lanjutkan Membaca ↓