5 Karya Terbaik Rudi Soedjarwo, Sineas yang Jalani Pemulihan Stroke

Oleh Liputan6.com pada 09 Sep 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 09 Sep 2019, 11:38 WIB
[Bintang] Rudi Soedjarwo

Liputan6.com, Jakarta - Rudi Soedjarwo terkena stroke November 2018. Meski kondisinya kini jauh lebih baik, ia harus mengonsumsi obat seumur hidup. Kondisi ini tak menghalanginya untuk produktif di layar lebar.

Pekan lalu, Rudi Soedjarwo merilis film Kembalinya Anak Iblis. Dalam sesi wawancara khusus dengan Showbiz Liputan6.com, Rudi Soedjarwo mengaku sedang menyiapkan sejumlah film drama bertema kaum marginal.

Kami mengajak Anda menengok kembali 5 karya terbaik Rudi Soedjarwo. Adakah salah satunya favorit Anda?

 

2 dari 4 halaman

Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dan Mengejar Matahari (2004)

Setelah 168 Purnama, Masihkah Ciuman Rangga-Cinta Tulus di AADC 2
Adegan film AADC?

Membahas karya terbaik Rudi Sowdjarwo tanpa menyebut Ada Apa Dengan Cinta? jelas kesalahan besar. Saat generasi milenium dahaga ikon remaja, kisah Rangga dan Cinta besutan Rudi bak oase pemberi sejuk. Tak hanya paripurna dari aspek naskah dan penokohan, Ada Apa Dengan Cinta? menggerakkan kembali minat anak muda terhadap puisi, bikin geng di sekolah, hingga tren kaus kaki warna-warni.

Album soundtrack-nya pun semeledak filmnya. Ada Apa Dengan Cinta? menjadi standar baru bagaimana cerita cinta era putih abu-abu dibuat. Film ini mengantar Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo jadi idola lintas dekade. Dan Rudi, jadi Sutradara Terbaik FFI 2004.

Mengejar Matahari (2004)

Sukses menakik cerita geng cewek, Rudi menyajikan kisah persahabatan para cowok bermodal naskah buatannya bareng Titien Wattimena. Dibintangi Fedi Nuril, Winky Wiryawan, Udjo Project Pop, dan Fauzi Baadila.

Rudi-Titien tak hanya bicara dua cowok rebutan cewek, tapi juga memotret latar belakang sosial, cita-cita, dan bagaimana masa depan mengubah wajah sebuah pertemanan. Meski tak sesukses Ada Apa Dengan Cinta?, film ini dihiasi salah satu lagu terbaik sepanjang masa, “Mengejar Matahari” milik Ari Lasso.

3 dari 4 halaman

Mendadak Dangdut (2006) dan Pocong 2 (2006)

Mendadak Dangdut (Foto: IMDB)
Mendadak Dangdut (Foto: IMDB)

Tak ada yang salah dengan dangdut, toh MTV juga punya program Salam Dangdut. Yang salah, saat kita merendahkan genre musik ini. Patrice (Titi Kamal) penyanyi pop yang meledak lewat hit “Bunuh Reality” banting setir jadi pedangdut lintas kampung usai terjebak razia narkoba.

Rudi Soedjarwo dengan genit memotret fenoemena dangdut lengkap dengan jargon, kostum sarat payet yang mengikuti lekuk tubuh, dan tawuran di tengah konser. Titi dan Kinaryosih tampil gemilang. Belasan tahun berlalu sejak film ini dirilis, Anda tentu masih ingat lirik: Waktu tamasya ke Binaria, pulang-pulang kuberbadan dua...

Pocong 2 (2006)

Ini horor terbaik buatan Rudi Soedjarwo. Jangan tanya jilid perdananya karena tidak lulus sensor. Konon, karena konten kekerasan terkait Mei 1998. Pocong 2 menampilkan kakak beradik Maya (Revalina S. Temat) dan Andin (Risty Tagor) yang menyewa apartemen dengan harga supermiring.

Sejak itu keduanya diteror pocong. Kecerdasan Rudi mengatur kejutan, chemistry pemain, dan naskah solid membuat Pocong 2 bertabur momen ngeri. Tentu kita tidak akan lupa adegan Maya asyik kencan dengan Adam (Ringgo Agus Rahman) di ruang tamu. Saat lagi mesra-mesranya, ponsel Maya berdering. Rupanya Adam menelepon! Terus itu yang di ruang tamu siapa?

4 dari 4 halaman

Mengejar Mas-Mas (2007)

Mengejar Mas-Mas
Poster film Mengejar Mas-Mas (Wikipedia)

“Karena matahari tak perlu dikejar,” begitu tagline film ini. Sepintas memarodikan Mengejar Matahari tapi kontennya beda 180 derajat. Mengejar Mas-Mas berkisah soal Sahnaz (Poppy Sovia) yang kabur ke Yogyakarta. Berniat menyusul pacar ke Kota Gudeg, ia malah terlunta-lunta di lokasi pelacuran kelas bawah.

Di sana, Sahnaz bertemu pelacur bernama Ningsih (Dinna Olivia). Meski low budget, film ini kuat di cerita dan penokohan. Dinna Olivia tampil total. Adegan Ningsih dan Sahnaz diusir dari kampung bergulir dramatis. Dinna Olivia diganjar Piala Citra. Sayang, Mengejar Mas-Mas menjadi film panjang terakhirnya. (Wayan Diananto)

Lanjutkan Membaca ↓