Slank Dianggap Bisa seperti Wali Songo

Oleh Aditia Saputra pada 18 Sep 2017, 14:50 WIB

Diperbarui 20 Sep 2017, 14:13 WIB

Slank

Liputan6.com, Jakarta Grup band Slank memungkaskan rangkaian tur Silaturahmi: Merajut Kebangsaan di pondok pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, yang berlokasi di kaki gunung Welirang, Minggu (17/9/2017). Bersama Slank, juga ikut serta budayawan Zastrouw Al Ngatawi dan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang sebelumnya telah menggelar di kota.

Sebelumnya, Kaka (vokal), Ridho (gitar), Ivanka (bass), dan Bimbim (drum) telah singgah di kota Ciamis (13/09), Brebes (14/09), dan Batang (15/09). Berbeda dengan tur musik pada umumnya, semua rangkaian acara tur digelar di pondok pesantren pada tiap kota.
Tur ini diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari ziarah makam, bakti sosial berupa bazar minyak goreng murah, penyerahan bantuan ke pesantren, dialog budaya dan kebangsaan bersama tokoh dan santri, serta puncaknya yaitu konser atau pertunjukan musik oleh Slank.

Slank bersama dengan budayawan Zastrouw Al Ngatawi di pondok pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur.

Konser yang diselenggarakan ini berbeda dengan konsep konser yang biasa dilakukan Slank. Pasalnya, di tengah-tengah konser disisipkan tausiah oleh Zastrouw Al Ngatawi. Ribuan santri dan penggemar fanatik Slank yang kerap disapa Slankers berbaur dalam alunan musik rock sekaligus menyimak tausiah Zastrouw secara khidmat.

Mengambil inspirasi dari lagu Slank yang dibawakan di panggung pada tiap konser, Zastrouw menafsirkan dan membedah lirik-lirik lagu tersebut menjadi pesan moral yang sarat makna. Mulai dari ajakan untuk berdoa sebelum memulai kegiatan, pesan anti-korupsi, bersedekah, hingga menebar virus perdamaian di muka bumi.

Zastrouw memaparkan bahwa pola seperti ini sudah terjadi di era Wali Songo dan ulama-ulama Nusantara. Pada saat itu yang terkenal adalah wayang, gamelan, dan tembang macapat.

"Dalam konteks kekinian, wayang, gamelan, dan macapat mengalami metamorfosis menjadi musik rock. Ini kita jadikan metode untuk menyampaikan pemikiran serta ajaran tentang keislaman. Dakwah itu intinya adalah untuk memanggil. Dan cara dakwah harus disesuaikan dengan kadar kemampuan pihak yang dipanggil," ujar Zastrouw.

Zastrouw menyinggung bahwa generasi muda saat ini tengah terkepung dari dua penjuru: liberalisme yang berujung hedonisme dan fundamentalisme agama. “Pihak Slankers sebenarnya butuh bimbingan dan arahan, atau serum yang bisa menahan dari godaan tersebut, akan tetapi dengan dosis dan metode yang tepat," ujarnya.

Ketika disinggung perihal tausiah lewat musik, Pengurus Yayasan Amanatul Ummah, Gus Bara menyatakan bahwa segala nilai sejatinya dapat ditransfer melalui medium apa pun, termasuk dengan musik. Dan ketika ditanya pendapatnya mengenai Slankers yang berbondong-bondong datang ke pesantren untuk menikmati pertunjukan musik, ia mengambil sisi positifnya.

"Slankers ataupun yang lainnya, mereka sama-sama bagian dari bangsa ini. Mereka tetap harus dihormati sebagai anak bangsa ini. Harapan kami dengan datangnya Slankers ke pondok pesantren agar dapat lebih mengenal nilai positif pesantren dan memahami nilai filosofis lagu-lagu Slank, sehingga menjadi titik balik perubahan ke arah yang lebih baik" pungkas Gus Bara.

Tag Terkait