Minta Bitcoin, Peretas Ancam Bocorkan Pirates of The Caribbean 5

Oleh Ratnaning Asih pada 16 Mei 2017, 15:40 WIB
Diperbarui 16 Mei 2017, 15:40 WIB
Pirates of the Caribbean
Perbesar
Peretas meminta tebusan dalam bentuk Bitcoin. Bila tidak, Pirates of the Caribbean 5 bakal dibocorkan sebelum sempat dirilis.

Liputan6.com, Los Angeles - Di tengah kehebohan ransomware Wannacry, serangan siber juga dialami oleh Disney selaku pemilik film Pirates of the Caribbean. Sejumlah peretas mengaku telah memegang kopi film kelima yang berjudul Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales.

Para peretas ini menodong Disney untuk membayar Bitcoin dalam jumlah sangat besar. Bila tuntutan ini tak dipenuhi, mereka mengancam akan membocorkan cuplikan demi cuplikan film tersebut ke internet.

Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales (IMDb)

Dilansir dari Deadline, Selasa (16/5/2017), CEO Disney, Bob Iger, mengakui peristiwa ini benar-benar terjadi dalam pertemuan pegawai di New York pada Senin kemarin. Namun, ia tak merinci film apa yang tengah "disandera" oleh para peretas tersebut.

Penelusuran Deadline akhirnya menguak bahwa film yang tengah menghadapi masalah ini adalah Pirates of The Caribbean: Dead Men Tell No Tales, yang bakal rilis pada 26 Mei mendatang.

Disney dikabarkan langsung bereaksi terhadap peristiwa ini. Tak hanya menolak membayarkan Bitcoin yang jadi tuntutan para peretas, perusahaan raksasa ini juga bekerja sama dengan FBI untuk memecahkan masalah ini.

Hector Monsegur, mantan peretas yang kini menjadi informan FBI menyebut bahwa perusahaan besar seperti Disney sebenarnya memiliki sistem pengamanan data yang mumpuni. Yang menjadi masalah, adalah rumah produksi berskala kecil yang menjadi mitra Disney dalam pembuatan film.

"Vendor dan perusahaan produksi kecil ini tak memiliki sistem keamanan yang bagus. Mereka mungkin juga tak punya bujet untuk fokus dalam hal ini, sehingga peretas bisa menerobos dengan mudah," katanya.

Ia menambahkan, tantangan terbesar yang dihadapi FBI adalah melacak siapa para peretas itu. Pasalnya, para peretas sudah paham cara FBI mencari jejak mereka di dunia maya. Tak heran bila mereka piawai melakukan sejumlah hal untuk mengecoh badan intelijen ini.

"Misalnya ada peretas dari Mesir yang menggunakan software dari Rusia, sehingga seakan memperlihatkan bahwa ia berasal dari Rusia," tuturnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya