Tiga Telekomunikasi Indonesia Lepas 196,36 Juta Saham ISAT Rp 1,1 Triliun

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 06 Okt 2022, 15:50 WIB
Diperbarui 10 Okt 2022, 16:20 WIB
Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - PT Indosat Tbk (ISAT) mengumumkan perubahan kepemilikan saham perusahaan oleh PT Tiga Telekomunikasi Indonesia (PT TTI).

PT TTI menjual 196.360.000 lembar saham ISAT dengan harga penjualan Rp 5.625 per saham. Dengan demikian, total transaksi mencapai Rp 1,1 triliun.

"Transaksi dilakukan pada 22 September 2022. Tujuan transaksi yakni untuk investasi dengan status kepemilikan langsung,” mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (6/10/2022).

Harga penjualan itu lebih rendah dibandingkan harga saham ISAT pada perdagangan 22 September 2022. Saat itu, ISAT ditutup naik 275 poin atau 3,97 persen ke posisi 7.200. ISAT dibuka pada posisi 6.925 dan bergerak pada rentang 6.875—7.200.

Usai transaksi, PT TTI kini memiliki 671.755.088 lembar saham ISAT atau setara 8,33 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dalam perseroan.

Sebelumnya, PT TTI memegang 868.115.088 lembar saham perseroan atau setara 10,77 persen dari total saham yang telah ditempatkan dalam perseroan.

Pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis 6 Oktober 2022, saham ISAT ditutup minus 75 poin atau 1,06 persen ke posisi 7.027. Saham ISAT dibuka pada posisi 7.125 dan bergerak pada rentang 7.000—7.175.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Bangun Jaringan untuk Wilayah Desa Non 3T, Indosat Catat Transaksi Afiliasi Rp 133,58 Miliar

FOTO: IHSG Akhir Tahun Ditutup Melemah
Perbesar
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT Indosat Tbk (ISAT) melakukan penandatanganan perjanjian dengan PT Aplikasinusa Lintasarta terkait penyediaan jaringan Very Small Aperture Terminal (VSAT) pada Desa Non 3T (tertinggal, terdepan dan Terluar), yang disewakan oleh Lintasarta bagi perseroan.

Dalam rangka pemenuhan kewajiban regulasi Perseroan berdasarkan izin-izin Perseroan yang terkait, perseroan mulanya harus membangun jaringan telekomunikasi di 1.023 lokasi untuk mendukung program Non 3T Pemerintah. Di mana 411 lokasi di antaranya memerlukan perangkat dan layanan VSAT.

Namun, karena telah ada perjanjian kerangka antara perseroan dan Lintasarta, perseroan dan Lintasarta menandatangani perubahan terhadap perjanjian kerangka tersebut untuk menambah ketentuan penyediaan perangkat dan layanan VSAT. Transaksi ini berlangsung pada 22 September 2022 senilai Rp 133,58 miliar.

"Kerjasama dengan Lintasarta diharapkan dapat membantu Perseroan memenuhi kewajiban regulasi perseroan berdasarkan izin-izin Perseroan yang terkait,” tulis Direktur Utama Indosat Ooredoo, Vikram Sinha,  dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (27/9/2022).

Lintasarta sendiri merupakan anak perusahaan dari perseroan yang memiliki kegiatan usaha dalam bidang penyediaan komunikasi data, internet dan IT Services untuk berbagai sektor industri. Dengan kata lain, perseroan adalah pemegang saham mayoritas dari Lintasarta ketika transaksi afiliasi terjadi, sehingga transaksi ini termasuk dalam transaksi afiliasi.   


Kinerja Semester I 2022

IHSG Ditutup Melemah ke 6.023,64
Perbesar
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Dari 10 sektor pembentuk IHSG, lima sektor saham berada di zona merah. Pelemahan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 50,3 persen menjadi Rp 22,53 triliun dari Rp 14,98 triliun pada semester I 2021. Sayangnya, raihan itu tak berbanding lurus dengan perolehan laba perseroan.

Pada semester I 2022, Indosat mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 41,75 persen menjadi Rp 3,26 triliun dari Rp 5,6 triliun pada semester I 2021. Sehingga laba per saham dasar menjadi Rp 406,57 dari sebelumnya Rp 1.030.

Director & Chief Financial Officer IOH, Nicky Lee menjelaskan, ada beberapa hal yang berkontribusi terhadap laba bersih perseroan pada semester I 2021. Salah satunya penjualan dan sewa menara yang tercatat menyumbang Rp 6,17 triliun. Sementara untuk tahun ini tidak ada transaksi serupa yang dicatatkan, sehingga ada selisih signifikan.

"Jadi ada pendapatan dari jual dan sewa balik menara yang sangat besar, yang hanya terjadi sekali. Dan pada paruh pertama 2022, kami berhasil menyelesaikan aliansi kami membentuk usaha patungan pada bisnis Data Center dengan grup BDX. Sehingga membantu berkontribusi untuk pendapatan," ujar Nicky dalam paparan publik perseroan, Kamis, 18 Agustus 2022.


Kinerja Perseroan

Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin
Perbesar
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengutip laporan keuangan perseroan,  pada semester I 2021 Indosat mencatatkan keuntungan dari jual dan sewa menara senilai RP 6,17 triliun, maka pada semester I 2022 perseroan mencatatkan keuntungan yang dialokasikan dengan hilangnya pengendalian atas entitas anak sebesar Rp 3,58 triliun. Dengan asumsi dua transaksi itu tidak terjadi, Nicky mengatakan laba bersih perseroan tercatat masih tumbuh.

"Jika anda kembali melihat jumlah yang sebenarnya, tidak termasuk item yang terjadi satu kali namun signifikan, anda lihat sebenarnya ada pertumbuhan yang cukup baik dari tahun ke tahun,” kata dia.

Adapun laba usaha perseroan pada semester I 2021 tercatat sebesar Rp 7,07 triliun. Dengan asumsi keuntungan jual dan sewa menara sebesar Rp 6,17 triliun tidak dicatatkan, laba usaha akan menjadi Rp 906,53 miliar. Sementara laba usaha pada semester II 20222 tercatat sebesar Rp 6,1 triliun.

Dengan asumsi keuntungan yang diasosiasikan dengan hilangnya pengendalian atas entitas anak sebesar Rp 3,6 triliun tidak dicatatkan, maka laba usaha menjadi Rp 2,52 triliun.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya