Bursa Saham Asia Bervariasi Usai Wall Street Tergelincir

Oleh Elga Nurmutia pada 06 Okt 2022, 09:11 WIB
Diperbarui 06 Okt 2022, 09:11 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Akibat peluncuran rudal Korea Utara yang mendarat di perairan Pasifik saham Asia menglami penurunan. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik beragam pada Kamis (6/10/2022), usai wall street reli dalam dua hari gagal melanjutkan penguatan.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,78 persen, sedangkan Topix bertambah 0,71 persen. Indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,81 persen dan indeks Kosdaq 1,85 persen lebih tinggi.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,17 persen. Indeks Hong Kong Hang Seng melemah 0,48 persen setelah menguat 6 persen pada perdagangan Rabu pekan ini. Indeks Hang Seng teknologi susut 1,13 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik naik 0,16 persen lebih tinggi. Bursa saham China ditutup untuk libur pada minggu ini.

Saham Amerika Serikat (AS) tergelincir semalam setelah melihat kenaikan tajam untuk dua sesi sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 42,45 poin, atau 0,14 persen, menjadi 30.273,87 setelah jatuh hampir 430 poin pada hari sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 0,2 persen menjadi ditutup pada 3.783,28, dan Nasdaq Composite turun 0,25 persen menjadi 11.148,64.

"Optimisme yang mendukung pasar keuangan awal pekan ini surut karena data AS terus mengartikulasikan perlunya tindakan kebijakan bank sentral lebih lanjut," menurut catatan ANZ Research pada Kamis, dikutip dari CNBC, Kamis (6/10/2022).

Indeks layanan ISM September dan laporan penggajian pribadi oleh ADP keduanya mengalahkan perkiraan semalam. Investor akan menantikan laporan nonfarm payrolls Biro Statistik Tenaga Kerja pada akhir minggu.

Meskipun saham ditarik kembali pada Rabu, menghentikan kenaikan dua hari berturut-turut, pada Oktober mungkin masih menjadi awal dari reli market bull baru. Hal itu diungkapkan Kepala Strategi Pasar Carson Group, Ryan Detrick.

"Kami pikir ini bisa menjadi awal dari reli akhir tahun yang cukup besar,” kata Detrick.

Menurut ia, itu karena, secara tradisional, kinerja saham membaik pada Oktober pada tahun-tahun pemilu dalam paruh waktu.

Dia juga mencatat meskipun pasar mengakhiri hari lebih rendah, saham membukukan reli besar di sore hari yang mendapatkan kembali banyak penurunan. Itu positif, menurut Detrick.

 

 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Sentimen The Fed

Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)

Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic berbicara keras tentang inflasi dalam pidatonya pada Rabu. Ia mengatakan, bank sentral masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum dapat menyatakan kemenangan.

"Kita harus tetap waspada karena pertempuran inflasi ini kemungkinan masih di hari-hari awal jika proyeksi rekan-rekan (Komite Pasar Terbuka Federal)saya benar,” kata Bostic dalam pidatonya di Institut Penelitian Kebijakan Universitas Northwestern.

Bostic menambahkan, kemungkinan akan memakan waktu untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen oleh the Federal Reserve (the Fed).

“Karena kita masih berada di hutan inflasi, bukan di luar mereka,” kata dia.

Dari perspektif suku bunga, Bostic mengatakan, ia membayangkan pungutan patokan the Fed naik menjadi 4 persen -4,5 persen sebelum pembuat kebijakan dapat mengambil langkah mundur untuk mengevaluasi kemajuan. Suku bunga dana fed fund saat ini berada di kisaran 3 persen -3,25 persen; proyeksi FOMC yang dirilis pada September memperkirakan tingkat naik menjadi 4,6 persen pada 2023, menempatkan Bostic sedikit ke sisi komite yang dovish.

Namun, dia menambahkan, kepada siapa pun yang mengharapkan the Fed untuk menurunkan suku bunga tahun depan, tidak terlalu cepat.

Bostic bukan anggota voting FOMC baik tahun ini atau tahun depan, meskipun ia bisa menyuarakan sikap kebijakannya selama pertemuan.


Penutupan Bursa Saham Asia pada 5 Oktober 2022

Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Rabu,5 Oktober 2022 setelah bursa saham Amerika Serikat atau wall street menguat pada hari kedua.

Indeks Hong Kong Hang Seng menanjak 5,9 persen ke posisi 18.087,97. Indeks Hang Seng teknologi melambung 7,54 persen. Indeks Nikkei 225 bertambah 0,48 persen ke posisi 27.120,53. Indeks Topix mendaki 0,32 persen ke posisi 1.912,92.

Di Korea Selatan, indeks Kospi menanjak 0,26 persen ke posisi 2.215,22. Indeks Kosdaq melemah 1,64 persen ke posisi 685,34. Inflasi di Korea Selatan cenderung melemah pada September 2022.

Indeks ASX 200 mendaki 1,74 persen ke posisi 6.815,70. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 2,55 persen. Sementara itu, bursa saham China masih libur Golden Week. Demikian juga bursa saham India yang masih libur.


Penutupan Wall Street 5 Oktober 2022

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan saham Rabu, 5 Oktober 2022. Wall street gagal mempertahankan kenaikan tajam dari dua sesi terakhir.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 42,45 poin atau 0,14 persen menjadi 30.273,87. Indeks S&P 500 susut 0,20 persen ke posisi 3.783,28. Indeks Nasdaq susut 0,25 persen menjadi 11.148,64.

“Ini adalah momen jeda bagi pasar untuk merenungkan seberapa tahan reli dalam dua hari terakhir sebenarnya bisa berubah,” ujar Chief Investment Strategist BMO Wealth Management, Yung-Yu Ma dikutip dari laman CNBC, Kamis (6/10/2022).

Ia menambahkan, pasar membuat penilaian kalau perlu banyak hal bagi bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) untuk membuat poros dovish. “Tapi itu benar-benar puncak gunung es dalam hal apa yang dibutuhkan The Fed untuk benar-benar mengambil nada yang lebih lembut. Ada beberapa kenyataan yang merayap ke pasar dan antusiasme jumlah yang baik mulai memudar,” tutur dia.

Pada awal pekan, saham mencatat reli besar dengan indeks S&P 500 catat kenaikan terbesar dalam dua hari sejak 2020 karena imbal hasil obligasi turun dari posisi tertinggi. Pada Rabu pekan ini, imbal hasil obligasi naik tajam dengan tenor 10 tahun melampaui 3,7 persen setelah sempat turun di bawah 3,6 persen pada perdagangan sesi sebelumnya. Hal itu memberikan tekanan pada saham hampir sepanjang hari.

Sementara itu, laporan ADP menyebutkan tenaga kerja swasta bertambah 208.000. Hal ini melampaui perkiraan Dow Jones. Pelaku pasar menantikan rilis laporan nonfarm payrolls pada perdagangan Jumat pekan ini. Indeks layanan ISM September juga rilis pada Rabu pekan ini yang menunjukkan pertumbuhan yang solid.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya