Wall Street Tergelincir Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Naik

Oleh Agustina Melani pada 06 Okt 2022, 06:55 WIB
Diperbarui 06 Okt 2022, 06:55 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan saham Rabu, 5 Oktober 2022. Wall street gagal mempertahankan kenaikan tajam dari dua sesi terakhir.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 42,45 poin atau 0,14 persen menjadi 30.273,87. Indeks S&P 500 susut 0,20 persen ke posisi 3.783,28. Indeks Nasdaq susut 0,25 persen menjadi 11.148,64.

"Ini adalah momen jeda bagi pasar untuk merenungkan seberapa tahan reli dalam dua hari terakhir sebenarnya bisa berubah,” ujar Chief Investment Strategist BMO Wealth Management, Yung-Yu Ma dikutip dari laman CNBC, Kamis (6/10/2022).

Ia menambahkan, pasar membuat penilaian kalau perlu banyak hal bagi bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) untuk membuat poros dovish.

“Tapi itu benar-benar puncak gunung es dalam hal apa yang dibutuhkan The Fed untuk benar-benar mengambil nada yang lebih lembut. Ada beberapa kenyataan yang merayap ke pasar dan antusiasme jumlah yang baik mulai memudar,” tutur dia.

Pada awal pekan, saham mencatat reli besar dengan indeks S&P 500 catat kenaikan terbesar dalam dua hari sejak 2020 karena imbal hasil obligasi turun dari posisi tertinggi.

Pada Rabu pekan ini, imbal hasil obligasi naik tajam dengan tenor 10 tahun melampaui 3,7 persen setelah sempat turun di bawah 3,6 persen pada perdagangan sesi sebelumnya. Hal itu memberikan tekanan pada saham hampir sepanjang hari.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Laporan ADP

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Sementara itu, laporan ADP menyebutkan tenaga kerja swasta bertambah 208.000. Hal ini melampaui perkiraan Dow Jones. Pelaku pasar menantikan rilis laporan nonfarm payrolls pada perdagangan Jumat pekan ini. Indeks layanan ISM September juga rilis pada Rabu pekan ini yang menunjukkan pertumbuhan yang solid.

Beberapa pelaku pasar bertanya-tanya apakah pasar pada akhirnya menetapkan harga di bawah setelah penurunan tajam pada kuartal sebelumnya.

“Pelaporan laba kuartal III tidak terlalu jauh dan sudah pasti dalam psikologi pasar musim laba kuartal II membantu menstabilkan pasar,” ujar Ma.

Ia mengatakan, ada banyak pesimisme di pasar yang mampu menguat cukup kuat selama beberapa bulan. “Saat ini juga ada harapan musim laba dapat menstabilkan pasar dan mungkin datang untuk menyelamatkan lagi, seperti yang terjadi pada kuartal terakhir,” tutur dia.


Gerak Saham di Wall Street

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Reaksi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Adapun sejumlah saham energi menguat antara lain Exxon Mobil dan Halliburton masing-masing naik lebih dari 4 persen. Sektor saham semikonduktor, industri yang berada di bawah tekanan sebelumnya, diperdagangkan dari posisi terendahnya. Saham Qualcom naik 1,5 persen. Sementara itu, Nike melonjak 2 persen pada perdagangan Rabu sore pekan ini dan mendorong sektor saham konsumsi lebih tinggi.

Direktur UBS, Art Cashin mewaspadai reli saham dalam dua hari pada pekan ini. “Reli itu sangat mengesankan, sayangnya saya tidak senang dengan percikan yang memulainya, rutinitas yang berisiko,” ujar dia kepada CNBC.

Percikan itu adalah langkah Bank of England membatalkan penjualan obligasi pemerintah Inggris atau gilt dan mulai membeli sementara obligasi jangka panjang untuk menenangkan potensi tekanan pasar yang disebabkan oleh anggaran pemerintah baru. Kemudian pemerintah harus membatalkan rencananya untuk menurunkan tarif pajak .

The United Nations Conference on Trade and Development juga memperingatkan bank sentral yang menaikkan suku bunga berkelanjutan dapat menekan ekonomi global.


Penutupan Wall Street pada 4 Oktober 2022

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melonjak pada perdagangan Selasa, 4 Oktober 2022. Penguatan wall street seiring imbal hasil obligasi AS melanjutkan koreksi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melompat 825,43 poin atau 2,8 persen ke posisi 30.316,32. Indeks S&P 500 bertambah hampir 3,1 persen ke posisi 3.790,93. Indeks Nasdaq naik 3,3 persen ke posisi 11.176,41.

Dengan wall street yang menguat pada perdagangan Selasa pekan ini, indeks S&P 500 naik 5,7 persen selama sepekan. Ini mencatatkan reli terbesar dalam dua hari sejak Maret 2020.

Wall street memulai awal yang kuat pada Oktober 2022. Hal itu membawa jeda dari penurunan cepat yang terlihat pada September dan kuartal sebelumnya. Pada Senin, 3 Oktober 2022, indeks Dow Jones naik sekitar 765 poin untuk hari terbaiknya sejak 24 Juni 2022. Indeks S&P 500 bertambah 2,6 persen dalam kenaikan satu hari terbesar sejak 27 Juli 2022, dan indeks Nasdaq menguat 2,3 persen.

"Setelah jatuh lebih dari 9 persen pada September dan memperpanjang penurunan year to date menjadi hampir 25 persen pada penutupan Jumat, kami pikir S&P 500 terlihat jenuh jual,” ujar Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, Mark Haefele dikutip dari CNBC, Rabu (5/10/2022).

Ia menambahkan, selain itu, beberapa tekanan jual pekan lalu mungkin didorong oleh penyeimbangan kembali pada akhir kuartal.

"Dengan sentimen terhadap saham yang sudah sangat lemah, periode penguatan diharapkan,” kata dia.

Haefele mengatakan, pasar mungkin tetap akan bergejolak dalam waktu dekat terutama didorong harapan inflasi dan kebijakan suku bunga.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya