Bursa Saham Asia Lanjutkan Penguatan Ikuti Wall Street

Oleh Elga Nurmutia pada 05 Okt 2022, 09:03 WIB
Diperbarui 05 Okt 2022, 09:03 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Akibat peluncuran rudal Korea Utara yang mendarat di perairan Pasifik saham Asia menglami penurunan. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada Rabu (5/10/2022), setelah wall street reli pada hari kedua.

Indeks Hang Seng Hong Kong melompat 4,4 persen ke posisi 3,8 persen. Indeks Hang Seng teknologi melambung 5,4 persen.

Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,52 persen pada perdagangan Rabu pagi, kembali di atas level 27.000, sedangkan indeks Topix bertambah 0,72 persen.

Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 0,47 persen dan Kosdaq melemah 0,63  persen. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 1,63 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 2,18 persen.

Di sisi ekonomi, inflasi di Korea Selatan sedikit melambat pada September, menurut data resmi yang dirilis Rabu. Pasar daratan China  mash tutup karena libur Golden Week, dan pasar India juga tutup karena libur.

Di wall street semalam, saham melonjak semalam di AS untuk sesi kedua. Dow Jones Industrial Average melonjak 825,43 poin, atau 2,8 persen, menjadi 30.316,32. S&P 500 naik hampir 3,1 persen menjadi ditutup pada 3.790,93, dan Nasdaq Composite naik 3,3 persen menjadi berakhir pada 11.176,41.

"Tidak dapat disangkal bahwa data ekonomi AS yang masuk memiliki andil dalam pergerakan saham, obligasi, dan mata uang sejauh minggu ini,” tulis Kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill dikutip dari CNBC, Rabu (5/10/2022).

Menurut ia, laporan pembukaan pekerjaan dan perputaran tenaga kerja AS memunculkan kejutan penurunan besar yang tidak dapat diabaikan. Ini adalah tanda pertama yang berarti dari beberapa retakan di pasar tenaga kerja, meskipun masih sangat ketat.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Indeks Dolar AS Melemah

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Tidak mungkin ada dasar pasar yang berkelanjutan kecuali tiga kondisi terpenuhi, menurut Morgan Stanley.

"Kami mengingatkan pembaca bahwa beberapa babak terakhir dari setiap pasar bearish sangat menantang untuk diperdagangkan karena volatilitas menjadi ekstrem. Tidak ada satu pun kondisi yang kami cari untuk mengakhiri pasar beruang ini,” kata dia.

Harga konsumen di Korea Selatan naik kurang dari yang diharapkan pada September dari tahun lalu, menurut data resmi. Angka CPI mencapai 5,6 persen, dibandingkan dengan 5,7 persen yang diprediksi oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Harga naik 5,7 persen pada Agustus.

Pembacaan September menandai bulan kedua pelemahan inflasi, dan pertumbuhan paling lambat dalam empat bulan. Salah satu faktor yang membantu pasar ekuitas pada Selasa adalah dolar  AS yang sedikit lebih lemah, yang jatuh selama lima berturut-turut.

Indeks mata uang USD DXY turun 1,5 persen pada perdagangan sore di 110,06. Indeks diperdagangkan setinggi 114,78 minggu lalu, ketika ada kekhawatiran tentang kegagalan pasar obligasi pemerintah Inggris.


Bursa Saham Asia pada 4 Oktober 2022

Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Sebelumnya, saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Selasa, 4 Oktober 2022. Pergerakan bursa saham Asia tersengat penguatan wall street.

Indeks Jepang Nikkei menguat 2,96 persen ke posisi 26.992,21, dan catat penguatan terbesar sejak 23 Maret. Indeks Topix bertambah 3,21 persen ke posisi 1.906,89. Indeks Korea Selatan Kospi melonjak 2,5 persen ke posisi 2.209,38.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 1,95 persen. Di Australia, indeks ASX 200 melompat 3,75 persen ke posisi 6.699,3. Bank sentral Australia dongkrak suku bunga acuan 25 basis poin. Bursa saham China dan Hong Kong libur.

Adapun wall street kompak menguat pada perdagangan Senin, 3 Oktober 2022. Indeks Dow Jones naik 765,38 poin atau hampir 2,7 persen ke posisi 29.490,89. Indeks S&P 500 menanjak 2,6 persen ke posisi 3.678,43. Indeks Nasdaq bertambah 2,3 persen ke posisi 10.815,43.

Adapun penguatan indeks acuan tersebut terbaik sejak 24 Juni untuk indeks Dow Jones. Sedangkan indeks S&P 500 sejak 27 Juli 2022.

 


Penutupan Wall Street pada 4 Oktober 2022

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melonjak pada perdagangan Selasa, 4 Oktober 2022. Hal ini seiring imbal hasil obligasi AS melanjutkan koreksi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melompat 825,43 poin atau 2,8 persen ke posisi 30.316,32. Indeks S&P 500 bertambah hampir 3,1 persen ke posisi 3.790,93. Indeks Nasdaq naik 3,3 persen ke posisi 11.176,41.

Dengan wall street yang menguat pada perdagangan Selasa pekan ini, indeks S&P 500 naik 5,7 persen selama sepekan. Ini mencatatkan reli terbesar dalam dua hari sejak Maret 2020.

Wall street memulai awal yang kuat pada Oktober 2022. Hal itu membawa jeda dari penurunan cepat yang terlihat pada September dan kuartal sebelumnya. Pada Senin, 3 Oktober 2022, indeks Dow Jones naik sekitar 765 poin untuk hari terbaiknya sejak 24 Juni 2022. Indeks S&P 500 bertambah 2,6 persen dalam kenaikan satu hari terbesar sejak 27 Juli 2022, dan indeks Nasdaq menguat 2,3 persen.

“Setelah jatuh lebih dari 9 persen pada September dan memperpanjang penurunan year to date menjadi hampir 25 persen pada penutupan Jumat, kami pikir S&P 500 terlihat jenuh jual,” ujar Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, Mark Haefele dikutip dari CNBC, Rabu (5/10/2022).

Ia menambahkan, selain itu, beberapa tekanan jual pekan lalu mungkin didorong oleh penyeimbangan kembali pada akhir kuartal. “Dengan sentimen terhadap saham yang sudah sangat lemah, periode penguatan diharapkan,” kata dia.

Haefele mengatakan, pasar mungkin tetap akan bergejolak dalam waktu dekat terutama didorong harapan inflasi dan kebijakan suku bunga.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya