IHSG Berpeluang Lesu pada Oktober 2022, Simak Deretan Saham Jagoan Mirae Asset Sekuritas

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 04 Okt 2022, 23:07 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 23:07 WIB
IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Oktober 2022 diperkirakan masih tertekan. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina menerangkan, meningkatnya kekhawatiran akan resesi global, seiring inflasi yang tetap tinggi dan kebijakan pengetatan likuiditas oleh bank sentral, akan membuat bursa global termasuk IHSG cenderung tertekan.

Merujuk pada kondisi itu, Marta menilai saham emiten yang bersifat defensif menarik untuk dikoleksi. Bersamaan dengan itu, bisa dikombinasikan dengan emiten dari sektor yang masih positif pertumbuhannya. Martha masih merekomendasikan tiga sektor emiten utama, yakni keuangan, energi, dan industri. Selain itu, Ia pun menyerahkan emiten yang bersifat defensif.

"Untuk pembentukan portofolio ini melalui yang lebih stabil, seimbang kita perlu ada saham-saham yang sifatnya defensif," kata dia dalam Media Day edisi Oktober 2022, Selasa (4/10/2022).

Sektor keuangan

Sektor ini menjadi jagoan lantaran merujuk pada potensi pertumbuhan kredit yang masih tinggi. Ini diiringi dengan kondisi likuiditas perbankan yang masih melimpah, meskipun pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) melambat.

Adapun untuk sektor keuangan, Mirae Asset merekomendasikan empat saham bank terbesar di Indonesia, yakni Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Keempat saham ini dipilih dengan melihat realisasi kinerja dan prospek ke depan yang positif.

Dalam paparannya, Martha mematok target price (TP) Rp 9.000 untuk BBCA, kemudian TP Rp 6.100 untuk BBRI, TP Rp 11.000 untuk BMRI, dan TP Rp 10.900 untuk BBNI.

“Sentimen positif bagi industri keuangan akan datang dari hasil rilis kinerja kuartal III-2022 perbankan. Sebagaimana diketahui, emiten dari industri perbankan biasanya mengawali musim rilis kinerja,” imbuh dia.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Sektor Energi hingga Emiten Defensif

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sektor energi Sektor ini dinilai menarik lantaran sentimen kenaikan harga berbagai jenis komoditas energi masih berlangsung. Bersamaan dengan itu, terjadi kenaikan permintaan komoditas energi jelang musim dingin. Martha mencatat, harga batu bara acuan September naik ke USD 319,2 per ton.

"Memasuki musim dingin ada potensi lonjakan permintaan batu bara dari China, India, Korea Selatan, dan Eropa," kata dia.

Saham-saham yang menarik dari sektor ini, antara lain PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dengan TP Rp 4.500, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan TP Rp 34.900, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan TP Rp 2.100, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan TP Rp 4.500m, dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Sektor industri

Untuk sektor ini, Mirae Asset merekomendasikan saham PT Astra International Tbk (ASII), merujuk pada hasil penjualan mobil yang mengalami pertumbuhan signifikan. Penjualan mobil Astra sepanjang delapan bulan pertama tahun ini mencapai 357.000 unit, naik 24 persen yoy. Investor juga bisa mempertimbangkan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan TP Rp 39.800. Saham ini direkomendasikan oleh Mirae Asset lantaran terdapat potensi permintaan alat berat yang masih tinggi.

Emiten Defensif

Sebagai penyeimbang, investor disarankan menyertakan emiten yang bersifat defensif, seperti PT Unilever Indonesia (UNVR). Emiten ini disebut menawarkan potensi margin keuntungan lebih besar, seiring dengan pelemahan harga CPO ke level terendah sejak Oktober 2022.

Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga menarik dicermati. Perusahaan mendapatkan sentimen positif dari rencana IPO bisnis data center dan penyesuaian tarif yang akan mendongkrak marjin keuntungan.

 

 


IHSG Bakal Loyo pada Oktober 2022, Ini Sentimen Pendorongnya

FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan mengambil gambar layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Oktober diperkirakan dalam tren turun. Senior Investment Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menyebutkan, IHSG Oktober diperkirakan bergerak melemah dengan support di level 6.904, potensi penguatan masih terbatas, dengan resistance di level 7.228.

Dalam range yang lebih besar support–resistance IHSG berada di level 6.676–7.372. Meningkatnya kekhawatiran akan resesi global, seiring inflasi yang tetap tinggi dan kebijakan pengetatan likuiditas oleh bank sentral, akan membuat bursa global termasuk IHSG cenderung tertekan.

"Kita lihat secara global ini ancaman untuk resesi semakin meningkat ini membuat tidak heran indeks kita yang performancenya salah satu paling baik justru akan dilakukan net sell," kata Martha dalam Mirae Asset Sekuritas Media Day edisi Oktober, Selasa (4/10/2022).

 


Faktor Penggerak

FOTO: IHSG Akhir Tahun Ditutup Melemah
Perbesar
Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Martha memaparkan sejumlah faktor penggerak IHSG Oktober antara lain data ekonomi domestik dan global, kebijakan moneter bank sentral, laporan keuangan kuartal III 2022 dan pergerakan harga komoditas.

"Karena ini Oktober, kita akan memasuki musim laporan keuangan di minggu ketiga dan keempat, dan itu jadi sentimen yang positif untuk kita," imbuh Martha.

Pada kesempatan yang sama, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menyebutkan IHSG berpotensi parkir di posisi 7.400 hingga akhir tahun. Alasannya, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang dapat berkah dari krisis komoditas karena memiliki persediaan yang melimpah.

"IHSG pada akhir tahun 2022 target di level 7.400. Katalis general, Indonesia merupakan negara yang dapatkan benefit dari kenaikan harga komoditas. Saat negara lain alami krisis energi dan komoditas, Indonesia tidak,” kata dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya