Saham Credit Suisse Merosot Tersengat Kekhawatiran Kesehatan Keuangan

Oleh Agustina Melani pada 04 Okt 2022, 17:31 WIB
Diperbarui 05 Okt 2022, 06:18 WIB
Ilustrasi credit suisse (Foto: Jan Huber/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi credit suisse (Foto: Jan Huber/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Saham Credit Suisse anjlok pada perdagangan Senin, 3 Oktober 2022 seiring meningkatnya kekhawatiran atas kesehatan keuangan bank Swiss.

Saham Credit Suisse turun lebih dari 10 persen setelah bos bank gagal meyakinkan investor. Namun, saham kembali bangkit. Saham Credit Suisse turun lebih dari 8 persen ke posisi USD 3,68 per saham. Pada 2022, saham Credit Suisse turun hampir 60 persen.

Pekan lalu, Chief Executive Ulrich Koerner bersikeras dalam sebuah memo kepada staf kalau posisi keuangan Credit Suisse solid. Hal itu datang menjelang rencana restrukturisasi ketika bank melaporkan hasil pada Oktober 2022.

Seorang sumber mengkonfirmasi laporan di Financial Times mengenai eksekutif di bank Swiss menghabiskan sebagian besar akhir pekan berusaha menenangkan pemangku kepentingan utama tentang kekuatan keuangannya. Seorang juru bicara Credit Suisse menolak berkomentar.

Pada memo pekan lalu kepada staf, Koerner percaya kalau tidak membingungkan mengenai kinerja saham sehari-hari dengan basis modal yang kuat dan posisi likuiditas bank. Ia mengatakan, ada banyak pernyataan faktual tidak akurat yang dibuat di media, tetapi mendesak staf tetap berkomitmen menjelang rencana transformasi yang diumumkan pada 27 Oktober 2022.

“Kami sedang proses membentuk kembali Credit Suisse untuk masa depan jangka panjang berkelanjutan, dengan potensi yang signifikan untuk menciptakan valuasi,” ujar dia, dikutip dari BBC, Selasa, (4/10/2022).

"Saya yakin kami memiliki apa yang diperlukan untuk berhasil,” ia menambahkan.

Saham Credit Suisse telah tergelincir selama setahun terakhir di tengah ketakutan atas posisi keuangan bank. Pada Juli 2022, bank mengumumkan tinjauan strategi dan mengganti Chief Executive Thomas Gottstein dengan Ulrich Koerner.

 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Hadapi Sejumlah Skandal

Adapun Credit Suisse memiliki kantor pusat di London dan mempekerjakan 5.500 karyawan di Inggris. Menurut Reuters, Bank of England sedang memantau situasi bersama dengan regulator Swiss FINMA. Bank of England menolak berkomentar.

Chief Executive Credit Suisse menegaskan kalau bank tetap kokoh dan stabil seperti Matterhorn. Namun, masalahnya adalah dari luar tidak terlihat seperti itu, dan persepsi itu penting, demikian mengutip BBC.

Bank telah hadapi sejumlah skandal. Kehilangan miliaran dolar AS karena runtuhnya Archegos Capital Management, tertekan imbas pinjaman ke perusahaan keuangan Greensill Capital yang bangkrut, dan didenda ratusan juta karena keterlibatannya dalam skandal pinjaman di Mozambik.

Ulrich Koerner akan menerapkan perombakan besar-besaran pada unit perbankan investasi. Ia akan ungkap rencananya akhir bulan ini. Namun, pergerakan pasar menunjukkan beberapa investor percaya bank kehabisan uang tunai.

Koerner klaim semuanya baik-baik saja, dan telah menulis surat kepada staf Credit Suisse untuk meyakinkan tentang fakta itu. Masalahnya memo itu sendiri telah memicu spekulasi lebih lanjut tentang kesehatan bisnis.


Penutupan Wall Street 3 Oktober 2022

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street reli pada perdagangan Senin, 3 Oktober 2022. Wall street  menguat pada awal bulan dan kuartal IV 2022 seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 765,38 poin atau hampir 2,7 persen ke posisi 29.490,89. Indeks S&P 500 naik 2,6 persen menjadi 3.678,43 setelah merosot ke level terendah sejak November 2020. Indeks Nasdaq naik hampir 2,3 persen ke posisi 10.815,43.

Penguatan wall street menjadi hari terbaik sejak 24 Juni 2022 untuk Dow Jones, dan S&P 500 mencatat hari terbaik sejak 27 Juli 2022.

Pergerakan itu terjadi ketika imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun berada di 3,65 persen, setelah melampaui 4 persen pada satu titik pekan lalu. “Ini cukup sederhana pada titik ini, imbal hasil treasury 10 tahun naik, dan saham kemungkinan tetap di bawah tekanan. Imbal hasil obligasi turun dan saham menguat,” ujar Tavis McCourt dari Raymond James, dikutip dari CNBC, Selasa (4/10/2022).

Wall street akan keluar dari bulan yang sulit dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatat koreksi terbesar sejak Maret 2020. Indeks Dow Jones juga ditutup di bawah 29.000 untuk pertama kalinya sejak November 2020.

Pada September 2022, indeks Dow Jones turun 8,8 persen. Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 9,3 persen dan 10,5 persen.

Pada kuartal III 2022, indeks Dow Jones turun 6,6 persen dan mencatat penurunan tiga kuartal berturut-turut untuk pertama kalinya sejak kuartal III 2015. Sementara itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 5,28 persen dan 4,11 persen dan membukukan koreksi kuartalan sebanyak tiga kali berturut-turut untuk pertama kali sejak 2009.

 


Pasar Alami Jenuh Jual

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Chief Investment Strategist CFRA Sam Stovall menuturkan, reli perdagangan pada Senin pekan ini tidak mengejutkan bagaimana pasar alami jenuh jual.

“Karena S&P 500 turun lebih dari 9 persen pada September 2022, karena ISM lebih lemah dari yang diharapkan, begitu juga untuk belanja konstruksi, pelaku pasar sekarang menduga The Fed mungkin tidak akan agresif,” ujar dia kepada CNBC.

Ia menambahkan, hal itu berdampak terhadap koreksi imbal hasil. “Kami melihat dolar AS melemah. Faktor-faktor itu berkontribusi pada pergerakan yang kita lihat hari ini,” kata dia.

Adapun sembilan dari 11 sektor saham S&P 500 menyelesaikan kuartal sebelumnya di wilayah negatif. Stovall menuturkan, investor baru saja mulai kehilangan harapan untuk kembalinya kuartal IV 2022. Namun, ia menilai, pasar masih bisa mendapatkannya seiring reli akhir tahun secara historis lebih kuat pada tahun pemilihan paruh waktu.

“Kita bisa melihat reli karena tahun-tahun pemilihan paruh waktu kuartal IV ini adalah rata-rata kuartal terbaik kedua dan memiliki frekuensi tertinggi,” tutur dia.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya