Bursa Saham Asia Melejit Tertular Wall Street

Oleh Elga Nurmutia pada 04 Okt 2022, 08:47 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 08:47 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Selasa (4/10/2022), usai saham di wall street menguat pada Senin, 3 Oktober 2022 waktu setempat.

Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 2,19 persen pada awal perdagangan, dan indeks Topix naik 2,44 persen. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,81 persen setelah kembali diperdagangkan setelah libur. Kosdaq meeningkat 2,24 persen.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,71 persen. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melonjak 2,35 persen. Reserve Bank of Australia akan mengumumkan keputusan suku bunganya pada Selasa. Bursa di daratan China dan Hong Kong ditutup karena libur.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 765,38 poin, atau hampir 2,7 persen, menjadi ditutup pada 29.490,89. S&P 500 naik sekitar 2,6 persen menjadi 3.678,43. Nasdaq Composite naik hampir 2,3 persen menjadi berakhir pada 10.815,43.

Itu adalah hari terbaik sejak 24 Juni untuk Dow, dan S&P 500 adalah hari terbaik sejak 27 Juli. Saham perusahaan pertahanan Korea Selatan naik pada pembukaan setelah Korea Utara meluncurkan uji coba rudal lainnya.

Saham Hanwha Aerospace naik 3,9 persen dan Korea Aerospace naik 4,64 persen – kedua perusahaan tersebut memproduksi persenjataan dan pesawat militer.

Saham pertahanan Jepang juga melonjak. Hosoya Pyro-Engineering naik lebih dari 5 persen, dan Mitsubishi Heavy Industries naik 3,69 persen.

 

Saham Naver jatuh pada awal perdagangan setelah raksasa internet Korea Selatan itu mengatakan Senin akan membeli e-retailer Amerika Serikat Poshmark sekitar USD 1,2 miliar atau Rp 18,33 triliun (asumsi kurs Rp 15.278 per dolar AS)

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Gerak Saham di Bursa Asia

Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Saham Naver turun 4,65 persen, dibandingkan dengan kenaikan 1,34 persen pada indeks Kospi yang lebih luas. Saham Poshmark melonjak sekitar 14 persen semalam di AS setelah pengumuman tersebut.

Ini merupakan tahun yang bergejolak untuk saham dan obligasi, dengan indeks utama Wall Street baru saja mengakhiri bulan terburuknya sejak Maret 2020, dan imbal hasil obligasi tetap meningkat.

Menurut survei dari ekonom Reuters memperkirakan Reserve Bank of Australia akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin menjadi 2,85 persen.

Anggota dewan RBA mengatakan kasus untuk laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat tumbuh, menurut risalah dari pertemuan 6 September, ketika menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

Analis di Nomura memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 40 basis poin untuk menyampaikan pandangan RBA mendekati akhir kenaikan.

Ekonom di Commonwealth Bank Australia melihat peluang lebih tinggi untuk kenaikan 25 basis poin daripada kenaikan 50 basis poin.


Penutupan Wall Street 3 Oktober 2022

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street reli pada perdagangan Senin, 3 Oktober 2022. Wall street  menguat pada awal bulan dan kuartal IV 2022 seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 765,38 poin atau hampir 2,7 persen ke posisi 29.490,89. Indeks S&P 500 naik 2,6 persen menjadi 3.678,43 setelah merosot ke level terendah sejak November 2020. Indeks Nasdaq naik hampir 2,3 persen ke posisi 10.815,43.

Penguatan wall street menjadi hari terbaik sejak 24 Juni 2022 untuk Dow Jones, dan S&P 500 mencatat hari terbaik sejak 27 Juli 2022.

Pergerakan itu terjadi ketika imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun berada di 3,65 persen, setelah melampaui 4 persen pada satu titik pekan lalu. “Ini cukup sederhana pada titik ini, imbal hasil treasury 10 tahun naik, dan saham kemungkinan tetap di bawah tekanan. Imbal hasil obligasi turun dan saham menguat,” ujar Tavis McCourt dari Raymond James, dikutip dari CNBC, Selasa (4/10/2022).

Wall street akan keluar dari bulan yang sulit dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatat koreksi terbesar sejak Maret 2020. Indeks Dow Jones juga ditutup di bawah 29.000 untuk pertama kalinya sejak November 2020.

Pada September 2022, indeks Dow Jones turun 8,8 persen. Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 9,3 persen dan 10,5 persen.

 


Imbal Hasil Obligasi AS Menurun

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Pada kuartal III 2022, indeks Dow Jones turun 6,6 persen dan mencatat penurunan tiga kuartal berturut-turut untuk pertama kalinya sejak kuartal III 2015. Sementara itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 5,28 persen dan 4,11 persen dan membukukan koreksi kuartalan sebanyak tiga kali berturut-turut untuk pertama kali sejak 2009.

Chief Investment Strategist CFRA Sam Stovall menuturkan, reli perdagangan pada Senin pekan ini tidak mengejutkan bagaimana pasar alami jenuh jual.

“Karena S&P 500 turun lebih dari 9 persen pada September 2022, karena ISM lebih lemah dari yang diharapkan, begitu juga untuk belanja konstruksi, pelaku pasar sekarang menduga The Fed mungkin tidak akan agresif,” ujar dia kepada CNBC.

Ia menambahkan, hal itu berdampak terhadap koreksi imbal hasil. “Kami melihat dolar AS melemah. Faktor-faktor itu berkontribusi pada pergerakan yang kita lihat hari ini,” kata dia.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya