Wall Street Kembali Tersungkur, Indeks S&P 500 Sentuh Posisi Terendah Baru

Oleh Agustina Melani pada 30 Sep 2022, 07:21 WIB
Diperbarui 30 Sep 2022, 07:21 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kembali melanjutkan aksi jual pada perdagangan Kamis, 29 September 2022. Aksi jual tersebut mendorong indeks S&P 500 ke level terendah baru pada 2022 karena kekhawatiran resesi tidak aka hentikan bank sentral AS atau the Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan.

Aksi jual saham dipimpin oleh Apple. Hal ini terjadi setelah bank investasi besar menurunkan peringkat Apple. Saham Apple turun 4,9 persen.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 turun 2,1 persen ke posisi 3.640,47 dan mencatat penutupan terendah baru pada 2022. Selama sesi perdagangan, indeks S&P 500 jatuh ke level terendah intraday 2022 di 3.610,40. Ini merupakan level terendah intraday sejak 2020.

Sementara itu, indeks Dow Jones anjlok 458,13 poin atau 1,54 persen ke posisi 29.225,61. Indeks Nasdaq tersungkur 2,84 persen ke posisi 10.737,51.

Pergerakan wall street terjadi setelah sempat reli pada perdagangan Rabu, 28 September 2022 seiring Bank of England mengatakan akan membeli obligasi dalam upaya untuk membantu menstabilkan pasar keuangannya dan pound Inggris melemah. Sterling telah tersungkur ke rekor terendah terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Pada perdagangan Rabu, 28 September 2022, indeks Dow Jones naik lebih dari 500 poin atau 1,9 persen. Sedangkan indeks S&P 500 naik hampir dua persen. Dua indeks acuan tersebut menghentikan koreksi beruntun dalam enam hari.

“Kami tetap skeptis kalau suasana yang lebih tenang di pasar pada Rabu menandai berakhirnya periode baru-baru ini dari peningkatan volatilitas,” tulis Mark Haefele dari UBS seperti dikutip dari CNBC, Jumat (30/9/2022).

Ia menambahkan, untuk reli yang lebih berkelanjutan, investor perlu melihat bukti meyakinkan inflasi terkendali, memungkinkan bank sentral menjadi kurang hawkish.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Imbal Hasil Obligasi AS

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik ke atas 3,7 persen. Sebelumnya, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun membukukan penurunan satu hari terbesar sejak 2020 setelah melampaui 4 persen.

Laporan klaim pengangguran yang lebih kuat dari perkiraan tidak membantu sentimen. Ini dibangun di atas gagasan the Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi tanpa khawatir hal itu dapat merugikan pasar tenaga kerja.

Presiden Federal Reserve Cleveland Loretta Mester mengatakan kalau suku bunga belum membatasi. Ia menuturkan, masih banyak yang harus dilakukan untuk menurunkan inflasi.

Rata-rata indeks acuan berada pada posisi mingguan yang lesu dan penurunan tajam dalam satu bulan. Indeks Nasdaq memimpin penurunan bulan dengan susut 9,1 persen. Sementara itu, indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing susut 7,3 persen dan 7,9 persen.

Sementara itu, dengan hanya satu hari perdagangan tersisa pada kuartal III 2022, indeks S&P 500 berada di jalur penurunan kuartal III berturut-turut untuk pertama kalinya sejak kuartal I 2009 di tengah krisis keuangan global. 

 


Laporan Keuangan Kuartal III 2022 Diharapkan Topang Wall Street

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Hal yang sama berlaku untuk indeks Russell 2000 untuk saham kapitalisasi kecil dan indeks Russell 1000 untuk saham bertumbuh dan bernilai.

Indeks Nasdaq 100 siap untuk kinerja lebih buruk. Penurunan kuartalan ketiga berturut-turut akan menjadi yang terburuk sejak kuartal III 2022. Hal berlawanan terjadi di indeks dolar AS yang menguat.

September secara historis merupakan bulan terburuk bagi indeks S&P 500 sejak 1950. Ini adalah bulan terburuk bagi S&P 500 sejak 1950 dengan rata-rata koreksi 0,5 persen. Adapun sekitar 88 saham di indeks S&P 500 berada di level terendah dalam 52 minggu pada pertengahan hari.

Ketahanan laba sepanjang musim laporan kuartal III akan membantu mendorong saham mengaut pada akhir 2022, menurut Citi. “Kami bersiap untuk reli, sebut saja reli bantuan di beberapa titik selama kuartal IV 2022,” ujar Analis Citi Scott Chronert kepada CNCB.

Ia menuturkan, ada kemungkinan pergeseran persepsi seputar kenaikan suku bunga bank sentral AS yang dapat membantu memciu reli. Chronert menargetkan indeks S&P 500 berada di posisi 4.200 pada akhir 2022.


Penutupan Wall Street 28 September 2022

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan saham Rabu, 28 September 2022. Indeks Dow Jones kembali bangkit dari level terendah pada 2022 seiring Bank of England akan membeli obligasi untuk menstabilkan pasar keuangannya.

Pembalikan indeks acuan yang menakjubkan di tengah kebijakan pengetatan moneter yang diterapkan pada 2022 ini sebagian besar dilakukan bank sentral untuk menahan inflasi.

Langkah tersebut menstabilkan pound Inggris yang menjadi pusat perhatian di pasar pada pekan ini seiring mata uang Inggris jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS. Imbal hasil obligasi AS turun dari posisi tertingginya dalam lebih dari satu dekade, meredakan kekhawatiran suku bunga lebih tinggi yang menekan ekonomi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 548,75 poin atau 1,88 persen ke posisi 29.683,74. Indeks S&P 500 menguat 1,9 persen ke posisi 3.719,04 satu hari setelah mencatat penurunan pasar bearish atau turun yang baru. Indeks Nasdaq bertambah 2,05 persen ke posisi 11.051,64.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 menghentikan penurunan beruntun dalam enam hari. Indeks Dow Jones saat ini turun 19,7 persen dari level tertinggi dalam 52 minggu. Sedangkan indeks S&P 500 22,8 persen di bawah rekornya. Indeks Nasdaq turun 31,8 persen.

Bank of England mengatakan untuk sementara akan membeli obligasi pemerintah Inggris dalam jangka panjang sebagai upaya stabilkan mata uang yang jatuh. Sterling pulih dan terakhir diperdagangkan sekitar 1,4 persen lebih tinggi terhadap dolar AS di posisi USD 1,0881.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya