Wall Street Kembali Perkasa, Imbal Hasil Obligasi AS Merosot

Oleh Agustina Melani pada 29 Sep 2022, 07:21 WIB
Diperbarui 29 Sep 2022, 07:21 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan saham Rabu, 28 September 2022. Indeks Dow Jones kembali bangkit dari level terendah pada 2022 seiring Bank of England akan membeli obligasi untuk menstabilkan pasar keuangannya.

Pembalikan indeks acuan yang menakjubkan di tengah kebijakan pengetatan moneter yang diterapkan pada 2022 ini sebagian besar dilakukan bank sentral untuk menahan inflasi.

Langkah tersebut menstabilkan pound Inggris yang menjadi pusat perhatian di pasar pada pekan ini seiring mata uang Inggris jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS. Imbal hasil obligasi AS turun dari posisi tertingginya dalam lebih dari satu dekade, meredakan kekhawatiran suku bunga lebih tinggi yang menekan ekonomi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 548,75 poin atau 1,88 persen ke posisi 29.683,74. Indeks S&P 500 menguat 1,9 persen ke posisi 3.719,04 satu hari setelah mencatat penurunan pasar bearish atau turun yang baru. Indeks Nasdaq bertambah 2,05 persen ke posisi 11.051,64.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 menghentikan penurunan beruntun dalam enam hari. Indeks Dow Jones saat ini turun 19,7 persen dari level tertinggi dalam 52 minggu. Sedangkan indeks S&P 500 22,8 persen di bawah rekornya. Indeks Nasdaq turun 31,8 persen.

Bank of England mengatakan untuk sementara akan membeli obligasi pemerintah Inggris dalam jangka panjang sebagai upaya stabilkan mata uang yang jatuh. Sterling pulih dan terakhir diperdagangkan sekitar 1,4 persen lebih tinggi terhadap dolar AS di posisi USD 1,0881.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Imbal Hasil Obligasi AS

Ilustrasi saham di Bursa Efek London (Foto: Unsplash/Jamie Street)
Perbesar
Ilustrasi saham di Bursa Efek London (Foto: Unsplash/Jamie Street)

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun akhiri perdagangan di kisaran 3,7 persen setelah menembus di atas 4 persen untuk pertama kalinya sejak 2008.

Di sisi lain, saham Apple turun sekitar 1,3 persen setelah laporan Bloomberg, mengutip sumber mengatakan perusahaan teknologi itu melepas rencana untuk meningkatkan produksi iPhone baru setelah permintaan turun dari harapan.

Sejumlah kekhawatiran di wall street seiring investor belum memperhitungkan perlambatan pendapatan dan dampak dari kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed). Indeks S&P 500 yang sentuh di bawah level terendah sebelumnya merupakan indikator utama bagi beberapa saham masih ada penurunan lebih lanjut.

“Kasus utama adalah pendaratan yang sulit pada akhir 2023. Saya akan terkejut jika kita tidak mengalami resesi pada 2023, saya tidak tahu waktunya tetapi pasti pada akhir 2023,” ujar investor Stanley Druckenmiller di KTT Investor Alpha Delivering.

Di sisi lain, Home Depot mencatat kinerja terbaik di indeks Dow Jones dengan naik lebih dari 5 persen. Selain itu, saham Boeing menanjak 4,8 persen dan Disney naik 3,8 persen. Sedangkan Apple turun 1,3 persen.


Penutupan Wall Street 28 September 2022

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Selasa, 27 September 2022. Indeks S&P 500 anjlok ke wilayah bearish atau turun, setelah sentuh level terendah baru pada 2022. Di sisi lain, imbal hasil surat berharga AS atau obligasi bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam satu dekade.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 merosot 0,21 persen ke posisi 3.647,29. Indeks Dow Jones tergelincir 125,82 poin atau 0,43 persen ke posisi 29.134,99. Indeks Nasdaq naik 0,25 persen ke posisi 10.829,50.

Indeks S&P 500 berada 24,3 persen di bawah rekor yang ditetapkan pada Januari 2022. Sedangkan indeks Dow Jones 21,2 persen ke bawah posisi tertinggi sepanjang masa. Indeks Nasdaq susut lebih dari 33 persen sejak mencapai rekor pada November 2022.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun melampaui 3,9 persen, dan terus menguat ke posisi 4 persen.

"Fakta bahwa kami kehilangan level support di 3.900,3.800 dan tentu saja langsung menuju ke posisi terendah pada Juni memberitahukan lingkungan tidak banyak berubah selama enam minggu terakhir," ujar Chief Market Strategist B.Riley Financial Art Hogan dikutip dari CNBC, Rabu (28/9/2022).

Hogan mengatakan, pihaknya khawatir kalau the Fed akan berlebihan dan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Saham awalnya mendapatkan dorongan setelah Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans mengisyaratkan beberapa kekhawatiran tentang bank sentral menaikkan suku bunga terlalu cepat untuk melawan inflasi. Komentar Evans kontras dengan beberapa pejabat the Fed baru-baru ini yang menyatakan tidak ragu-ragu mendukung sikap keras bank sentral terhadap inflasi.

 


Imbal Hasil Obligasi AS Bertenor 10 Tahun

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Pergerakan itu terjadi setelah kerugian lima hari berturut-turut untuk saham dengan indeks S&P 500 ditutup ke level terendah sejak 2020.

Indeks Dow Jones turun lebih dari 300 poin pada Senin, 26 September 2022 menempatkannya di pasar bearish setelah jatuh lebih dari 20 persen di bawah rekor tertinggi. Rata-rata indeks saham acuan Dow Jones membukukan level penutupan terendah sejak akhir 2020.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun mendekati level kunci 4 persen. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun mendekati 4 persen, level yang belum pernah disentuh sejak 2020. Pada perdagangan Selasa sore waktu setempat mencapai 3,96 persen. “Ini benar-benar mengesankan, dan saya hanya berpikir belum ada yang mau turun tangan dan menangkap “pisau yang jatuh”,” tutur Ben Jeffrey dari BMO.

Ia menambahkan, kurangnya likuiditas juga mendorong imbal hasil yang bergerak berlawanan dengan harga.

Di sisi lain, pasar mendapatkan dorongan dari saham teknologi sebelum praperdagangan karena lonjakan suku bunga yang mereda. Saham teknologi kapitalisasi besar memimoin lebih tinggi. Saham Apple naik 1,5 persen, Microsoft mendaki 1,2 persen, induk Google Alphabet bertambah 1,5 persen dan Amazon naik 1,9 persen. Selain itu, saham Nvidia menguat hampir 2 persen, Intel naik 2 persen, dan Broadcom bertambah 1,7 persen.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya