Melihat Prospek Saham Emiten Kendaraan Listrik

Oleh Agustina Melani pada 25 Sep 2022, 06:53 WIB
Diperbarui 25 Sep 2022, 06:53 WIB
IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Emiten yang ekspansi kendaraan listrik menyita perhatian. Apalagi setelah pemerintah Indonesia berkomitmen menekan jumlah emisi karbon.

Dalam analisis Ajaib Sekuritas, komitmen pemerintah Indonesia untuk menekan jumlah emisi karbon ini menjadi pendorong pergerakan emiten pada sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Indonesia berupaya mengurangi emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030, dan net zero carbon pada 2060. Strategi mengurangi jumlah emisi karbon tersebut salah satunya beralih pada kendaraan listrik.

“Dukungan dari pemerintah inilah yang menjadi booster bagi emiten sektor terkait karena akan lebih mudah dalam mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan bisnisnya,” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, dikutip dari keterangan tertulis, ditulis Minggu (25/9/2022).

Sejauh ini Kementerian Perindustrian memproyeksikan 20 persen penggunaan kendaraan berbasis baterai listrik pada 2025. Adapun untuk produksi mobil listrik dan bus listrik diprediksikan mencapai 600 ribu unit pada 2030.

Ratih menuturkan, sentimen positif lainnya yaitu, kenaikan harga bensin menyusul kenaikan harga minyak mentah yang terjadi secara global membuat produk EV menjadi lebih kompetitif.

Meningkatnya permintaan Electric Vehicle (EV) secara global turut memberikan multiplier effect pada kenaikan harga komoditas nikel, tembaga, kobalt, lithium serta material baterai lainnya.

Perusahaan tambang nikel yaitu PT Vale yang berpusat di Brazil, dalam keterangannya mengungkapkan permintaan global terhadap nikel akan meningkat 44 persen pada 2030, jika dibandingkan dengan tahun ini.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Sentimen Lainnya

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Perbesar
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Sejak pagi IHSG terjebak di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Permintaan nikel diprediksikan mencapai 6,2 juta ton sering dengan transisi energi terbarukan yang semakin gencar.

Selain nikel, permintaan terhadap tembaga sebagai bahan dalam pembuatan baterai kendaraan juga akan mengalami peningkatan sekitar 20 persen pada 2030 menjadi 37 juta ton.

Kenaikan harga komoditas komponen pembuatan baterai akibat melesatnya permintaan yang saat ini dikenal dengan greenflation dapat menekan margin profitabilitas perusahaan EV.

Mengingat biaya baterai sendiri saat ini mencangkup 30 persen dari total biaya pembuatan EV. Hal ini tentunya menjadi tantangan kedepan bagi perusahaan EV untuk menerapkan model bisnis yang efisien demi mengurangi tekanan biaya produksi.

“Beberapa emiten saat ini gencar melakukan diversifikasi bisnis energi terbarukan khususnya pada kendaraan listrik mengingat potensi bisnis pada segmen ini masih sangat besar,” kata dia.

 

 


Dampak terhadap Emiten Kendaraan Listrik

20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ratih mencontohkan, , PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT WIKA Industri dan Konstruksi (WIKON) memiliki 10,63 persen saham produsen motor listrik Gesits yang telah menguasai 26 persen market share motor listrik di Indonesia.

Emiten lainnya yaitu PT Indika Energy Tbk (INDY) yang telah meluncurkan produk motor listrik bernama ALVA. Hal tersebut sejalan dengan komitmen INDY yang menargetkan pendapatan non batu bara sebesar 50 persen pada 2025.

Kemudian, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) yang berfokus pada produksi kendaraan listrik, seperti sepedah listrik dan motor listrik. Selain itu  PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) membentuk joint venture dengan SiCepat membentuk PT Volta Indonesia, mengembangkan produk motor listrik bernama Volta dengan target produksi 10 ribu unit motor listrik  pada 2022.

“Secara teknikal kami melihat beberapa saham-saham di atas saat ini bergerak bullish dalam jangka pendek hingga menengahnya,” ujar dia.


Sejumlah Saham Emiten Kendaraan Listrik yang Dapat Dicermati

Pergerakan IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2020). Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66% atau 33,67 poin ke level 5.116,66 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ratih menuturkan, sejumlah emiten di sektor kendaraan listrik yang perlu dicermati oleh investor antara lain:

SLIS

(Buy) di area Rp304 dengan target harga pada resistance terdekat di level Rp340 serta pertimbangkan cut loss apabila break support pada area MA-5 nya di level harga Rp260.

INDY

(Buy on Weakness) di area Rp2.920 sampai Rp2.940, dengan target harga pada resistance terdekat di level Rp3.180 serta pertimbangkan cut loss jika break support di level harga Rp2.850.

WIKA

(Buy on Weakness) di area Rp1.050 sampai Rp1.060, dengan target harga pada resistance terdekat di level Rp1.140 serta pertimbangkan cut loss apabila break support di level harga Rp1.025.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya