Wall Street Lesu, Investor Cermati Data Ritel hingga Risalah The Fed

Oleh Agustina Melani pada 18 Agu 2022, 06:39 WIB
Diperbarui 18 Agu 2022, 06:39 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Reaksi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Rabu, 17  Agustus 2022. Reli yang telah mendorong harga lebih tinggi sejak Juni tampak kehilangan tenaga.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menilai data ritel terbaru dan risalah dari the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 171,69 poin atau 0,5 persen ke posisi 33.980,32. Indeks S&P 500 susut 0,72 persen menjadi 4.274,04. Indeks Nasdaq tergelincir 1,25 persen menjadi 12.938,12.

Indeks Dow Jones menghentikan kenaikan beruntun dalam lima hari tetapi menyelesaikan sesi mingguan yang sedikit positif hingga kini. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing tergelincir 0,14 dan 0,84 persen sejak awal pekan.

Saham bergejolak karena pelaku pasar menilai risalah pertemuan the Fed terbaru menunjukkan bank sentral akan melanjutkan kenaikan agresif hingga dapat meredam inflasi.

Pada saat yang sama, the Fed juga mengindikasikan dapat segera memperlambat kecepatan pengetatannya, sementara juga mengakui keadaan ekonomi dan risiko penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

“Peserta menilai ketika sikap kebijakan moneter semakin diperketat, kemungkinan akan menjadi tepat di beberapa titik untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga sambil menilai efek penyesuaian kebijakan kumulatif pada kegiatan ekonomi dan inflasi,” kata risalah tersebut dilansir dari CNBC,  Kamis (18/8/2022).

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pelaku Pasar Cermati Laba Korporasi

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Sementara itu, pelaku pasar juga terus menyisir laba korporasi dari sektor ritel. Saham Target tergelincir 2,6 persen setelah membukukan laba jauh dari harapan karena bergulat dengan kelebihan persediaan. Lowe mengakhiri sedikit lebih tinggi meskipun kuartal beragam.

Data penjualan ritel yang dirilis Rabu mendatar pada Juli, meskipun konsumen memang meningkatkan belanja online.

"Tidak mengherankan melihat pasar mengambil nafas dari reli musim panas yang sedang berlangsung,” ujar Direktur Pelaksana E-Trade Financial, Chris Larkin.

Ia menambahkan, pasar mencari tanda-tanda perlambatan kenaikan suku bunga yang tampaknya telah memicu kenaikan baru-baru ini akan datang. “Investor harus tetap gesit dan terus mengharapkan volatilitas karena kita mungkin belum keluar dari masalah,” kata dia.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi juga naik dengan obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 7 basis poin (bps) menjadi 2,9 persen karena kekhawatiran resesi dan ketidakpastian mengenai jalur kenaikan suku bunga the Fed terus berlanjut. Langkah ini menyeret saham-saham pertumbuhan seperti teknologi.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Risalah the Fed

Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)

Sementara itu, dari risalah pertemuan the Fed pada Juli 2022 menunjukkan bank sentral berencana melanjutkan kenaikan suku bunga untuk menurunkan inflasi.

"Dengan inflasi yang tetap jauh di atas tujuan komite, para peserta menilai perpindahan ke sikap kebijakan yang membatasi diperlukan untuk memenuhi mandat legislatif komite untuk mempromosikan lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga,” demikian mengutip risalah.

The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin pada dua pertemuan terakhirnya. Namun, bank sentral mengisyaratkan hal itu dapat memperlambat laju dalam beberapa bulan mendatang karena pergerakan besar secara histoir berlaku penuh.

“Peserta menilai ketika sikap kebijakan moneter semakin diperketat, kemungkinan akan menjadi tepat di beberapa titik untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga sambil menilai efek penyesuaian kebijakan kumulatif pada kegiatan ekonomi dan inflasi,” tulis risalah tersebut.

Beberapa peserta rapat juga mengindikasikan the Fed harus mempertahankan suku bunga pada tingkat yang membatasi bahkan setelah memperlambat kenaikan. Risalah juga menunjukkan the Fed khawatir tentang inflasi dan lingkungan ekonomi yang memburuk.

“Ketidakpastian tentang inflasi jangka menengah tetap tinggi, dan keseimbangan inflasi tetap condong ke atas, dengan beberapa peserta menyoroti kemungkinan guncangan pasokan lebih lanjut yang timbul dari pasar komoditas,” demikian mengutip risalah.

Anggota the Fed melihat risiko terhadap prospek pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil terutama pada sisi negatifnya.

 


Gerak Saham Apple

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Saham Apple menguat pada Rabu, 17 Agustus 2022. Pergerakan saham Apple melawan penurunan yang lebih luas dalam saham teknologi dengan kinerja buruk indeks Nasdaq. Indeks Nasdaq turun 1,2 persen. Sedangkan saham teknologi menguat 1,3 persen.

Saham Apple hanya turun 1 persen. Sedangkan saham Amazon dan Alphaet masing-masing turun 15 persen dan 17 persen.

Sedangkan pada kuartal ini, naik hampir 28 persen dan sekitar 4 persen dari level tertinggi sepanjang masa. Beberapa investor berharap Apple akan terus berjalan lebih baik dari pesaingnya selama periode kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi.

Apple memperkirakan penjualan iPhone tetap kuat, bahkan ketika permintaan konsumen yang melambat ganggu penjualan smartphone global.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya