Alasan Warren Buffett Indonesia Lo Kheng Hong Beli Saham DILD

Oleh Agustina Melani pada 17 Agu 2022, 08:45 WIB
Diperbarui 17 Agu 2022, 08:45 WIB
Ilustrasi perusahaan intiland
Perbesar
Ilustrasi perusahaan intiland (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Intiland Development Tbk (DILD) menguat dua hari berturut-turut pada pekan ini. Penguatan saham DILD juga terjadi usai investor yang juga dijuluki Warren Buffett Indonesia Lo Kheng Hong genggam saham DILD.

Mengutip data RTI, pada penutupan perdagangan saham Selasa, 16 Agustus 2022, saham DILD naik 3 persen ke posisi Rp 206 per saham. Saham DILD berada di level tertinggi Rp 226 dan terendah Rp 202 per saham. Total volume perdagangan 371.894.500 saham dan nilai transaksi Rp 79,5 miliar. Total frekuensi perdagangan 19.603 kali.

Pada perdagangan Senin, 15 Agustus 2022, saham DILD menanjak 5,82 persen ke posisi Rp 200 per saham. Saham DILD berada di level tertinggi Rp 208 dan terendah Rp 189 per saham. Total volume perdagangan 365.345.600 saham dan nilai transaksi Rp 72,2 miliar. Total frekuensi perdagangan 4.605 kali.

Saham DILD berada di zona hijau ini usai Lo Kheng Hong diketahui menggengam 6,28 persen saham DILD. Berdasarkan data KSEI untuk kepemilikan saham di atas 5 persen per 12 Agustus 2022, Lo Kheng Hong memiliki 651.416.700 saham atau 6,28 persen saham DILD.

Lalu apa alasan Lo Kheng Hong membeli saham DILD?

Lo Kheng Hong menuturkan membeli saham DILD didorong properti perseroan yang banyak. Lo pun menunjukkan sejumlah proyek perseroan yang memiliki diversifikasi proyek. PT Intiland Development Tbk memiliki proyek mixed use dan high rise, kawasan perumahan, kawasan industri dan properti investasi.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Proyek Perseroan

IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk proyek mixed use dan high rise perseroan antara lain di Jakarta dan sekitarnya yaitu South Quarter, Aeropolis, 57 Promomenade Phase 1, 1 Park Avenue, Regatta Phase 2, SQ Res, Pinang Apartment, West One City, dan Serenial Hills Apartment. Sedangkan di Surabaya dan sekitarnya antara lain Praxis, Spazio Tower, Sumatra 36, Graha Golf Phase 1, The Rosebay, Tierra Phase 1. Selain itu, Graha Golf Phase 2, dan Graha Natura Apartment.

Untuk kawasan perumahan di Jakarta dan sekitarnya ada Serenia Hills, Talaga Bestari, Magnolia Residence, South Grove. Selain itu, Griya Semanan, 1Park Homes, Pinang Residence, dan Brezza. Di Surabaya dan sekitarnya ada Graha Famili, Graha Natura dan Amesta Living.

Sedangkan untuk kawasan industri di Jakarta dan sekitarnya yaitu di Aeropois Technopark dan di Surabaya sekitarnya di Nogro Industrial Park dan Batang Industrial Park.

Kemudian properti investasi di Jakarta dan sekitarnya di Intiland Tower Jakarta, South Quarter, 57 Promenade, Poins, dan lainnya. Sedangkan di Surabaya dan sekitarnya di Intiland Tower Surabaya, Praxis, Spazio Tower, Ngoro Industrial Park dan lainnya.

Lo Kheng Hong menuturkan, properti yang dimiliki Intiland itu menjadi pertimbangan beli saham DILD. "Memiliki properti yang banyak itu sudah cukup,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Rabu (17/8/2022).

Terkait kinerja keuangan perseroan masih lesu, Lo Kheng Hong berharap kinerja keuangan akan baik saat penjualan meningkat.

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kinerja Kuartal I 2022

Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Sebelumnya, PT Intiland Development Tbk (DILD) menyampaikan kinerja sepanjang tiga bulan pertama 2022. Pada periode tersebut, perseroan mencatatkan pendapatan usaha Rp 562,5 miliar. Naik 2,15 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 550,6 miliar.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan dan beban langsung tercatat naik menjadi Rp 352,3 miliar di kuartal I 2022 dari sebelumnya Rp 293,5 miliar pada kuartal I 2021. Sehingga laba kotor Intiland Development turun menjadi Rp 210,1 miliar dari kuartal I 2021 sebesar Rp 257,1 miliar.

Sepanjang 2021, Intiland Development menciptakan beban usaha Rp 79,3 miliar. Sehingga diperoleh laba usaha sebesar Rp 130,8 miliar, turun dibandingkan kuartal I 2021 sebesar Rp 173,3 miliar. Pada periode yang sama, beban lain-lain tercatat sebesar Rp 207,8 miliar. Naik dibanding kuartal I 2021 sebesar Rp 150,8 miliar.

Ekuitas pada rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat sebesar Rp 2,6 miliar. Berbanding terbalik dari posisi kuartal I 2021 yang masih positif Rp 678,6 juta.

 


Kinerja Keuangan Selanjutnya

Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel

Setelah dikurangi pajak, perseroan mencatatkan rugi tahun berjalan Rp 99,7 miliar. Berbanding terbalik dari posisi kuartal I 2021 yang catatkan laba Rp 747,3 juta.

Sementara rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 72,7 miliar. Kinerja itu berbanding terbalik dari posisi kuartal I 2021 dengan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 3,2 miliar.

Aset perseroan sampai dengan April 2022 tercatat sebesar Rp 16,6 triliun, naik tipis dari posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp 16,5 triliun. Terdiri dari aset lancar Rp 6,8 triliun dan aset tidak lancar Rp 9,7 triliun.

Liabilitas sampai dengan Maret 2022 tercatat sebesar Rp 10,6 triliun, naik dibanding posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 10,5 triliun. Terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 6,7 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 3,9 triliun. Sementara ekuitas hingga Maret 2022 turun menjadi Rp 5,9 triliun dari posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp 6 triliun.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya