Jurus BEI Genjot Perusahaan Startup IPO

Oleh Elga Nurmutia pada 10 Agu 2022, 19:21 WIB
Diperbarui 10 Agu 2022, 19:21 WIB
20160331- Festival Pasar Modal Syariah 2016-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mempersiapkan terkait aturan akomodasi bagi perusahaan startup untuk mencatatkan saham di BEI.

"Memang dalam rangka untuk startup sama-sama dengan OJK mempersiapkan,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dalam konferensi pers BEI, Rabu (10/8/2022).

Selain itu, BEI juga mempersiapkan papan akselerasi, serta menyiapkan papan new economy yang sama dengan papan utama.

"Tetapi kita juga siapkan papan new economy sama dengan papan utama. Kita siapkan karena beberapa perusahan punya kapitalisasi besar keuangannya belum meungkinkan untuk profit,” ujar dia.

Dia menegaskan, papan akselerasi digunakan untuk Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM. 

"Papan akselerasi untuk UMKM, tapi kalau liat start up pasarnya signifikan karena valuasinya,” pungkasnya.

Sebelumnya, dalam lima tahun terakhir atau periode 2017-2022, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bawah kepemimpinan Wimboh Santoso dinilai sangat signifikan mendorong perkembangan pasar modal di dalam negeri.

Seperti diketahui, Wimboh Santoso mengakhiri masa jabatannya tahun ini untuk digantikan oleh Mahendra Siregar yang dijadwalkan akan dilantik menjadi Ketua Dewan Komisioner OJK pada pertengahan Juli 2022.

"Kalau menurut saya sangat signifikan peran OJK dalam lima tahun terakhir. Bisa dilihat dari jumlah perusahaan yang IPO semakin banyak, dan dua unicorn sudah IPO juga," ujar Pengamat Pasar Modal dan Praktisi Investasi Desmond Wira, dikutip Jumat, 15 Juli 2022.

 

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


IPO Perseroan

FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Pada hari ini, IHSG melemah pada penutupan sesi pertama menyusul perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan jumlah perusahaan yang melakukan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) juga naik signifikan dalam lima tahun terakhir, dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Diawali dari 2017, sebanyak 37 perusahaan menggelar IPO, pada 2018 dan 2019 naik masing-masing menjadi 57 IPO dan 55 IPO, tahun 2020 sebanyak 51 IPO dan 2021 sebanyak 54 IPO.

Pada 2022 sudah terealisasi 21 perusahaan dengan 40 calon emiten dalam pipeline. Selama lima tahun sebelumnya, IPO relatif terbatas.

Jika dibandingkan tahun 2012, hanya ada 21 emiten pendatang baru di pasar saham, tahun 2013 sebanyak 31 IPO, tahun 2014 ada 23 IPO, tahun 2015 hanya 18 IPO dan tahun 2016 turun menjadi 16 IPO.

"Dari sisi jumlah investor juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2017, jumlah investor pasar modal tercatat sebanyak 1,12 juta. Pada 2022 sudah menjadi 9 juta," ia menambahkan.

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


BEI Genjot IPO Melalui Incubator

20151102-IHSG-Masih-Berkutat-di-Zona-Merah-Jakarta
Perbesar
Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya saat ini masih ada 16 emiten yang harus melakukan penawaran saham perdana (initial public offering atau IPO). Lantas, bagaimana strategi bursa untuk mendorong perusahaan terbuka?

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan, pihaknya mendorong perusahaan untuk IPO, salah satunya melalui program IDX Incubator atau IDX Inkubasi.

"Bahwa memang saat ini di pipeline sekitar 28 yang sedang proses, artinya memang kita mendorong perusahaan-perusahaan untuk IPO, tidak saja kami menunggu mereka mempersiapkan dokumen tapi kami juga secara aktif dimana kami juga menyiapkan yang namanya IDX Inkubasi,” kata Iman dalam konferensi pers BEI, pada Rabu (10/8/2022).

Selanjutnya, Iman menuturkan, IDX Incubator merupakan program yang dilakukan oleh BEI untuk perusahaan, salah satunya untuk mendapatkan terkait pengetahuan IPO dari profesi penunjang yang membantu persiapannya.

"Jadi kami lakukan indeks inkubasi bagi perusahan yang ingin mendapatkan pengetahuan tentang IPO, kami menyiapkan tenaga-tenaga pengajar dari profesi penunjang yang membantu persiapannya,” ujar dia.

Selain itu, BEI juga memiliki infrastruktur khusus yang mempersiapkan sosialisasi bagi emiten-emiten untuk persiapkan IPO

"Tentu saja kita harapkan dapat mendapatkan pengetahuan dan dibantu konsultan-konsultan profesi penunjang pasar modal. Sehingga memudahkan bagi bursa dan OJK melakukan verifikasi sehingga mereka layak untuk melakukan IPO ke depannya,” kata Iman.

 


Jumlah Saham IPO Terbanyak

IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pasar modal tanah air terpantau cukup aktif kendati harus berjibaku dengan pandemi COVID-19. Pada 2020 dan 2021, Bursa efek Indonesia (BEI) berhasil mencatatkan masing-masing 51 dan 54 emiten baru melalui initial public offering (IPO).

BEI menjadi bursa dengan jumlah IPO saham terbanyak dan menjadi Bursa pertama yang mencatatkan saham perusahaan unicorn di kawasan ASEAN. Selain itu, penghimpunan dana sebesar Rp62,6 triliun dari pencatatan baru saham di BEI pada 2021 merupakan yang tertinggi untuk Bursa di ASEAN.

"Kami bersyukur atas pencapaian tersebut. Hal ini tidak terlepas dari kerja keras dan dukungan dari banyak pihak dalam upaya untuk menciptakan bursa yang lebih inklusif terhadap seluruh sektor dan size perusahaan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna kepada wartawan, dikutip Kamis, 21 Juli 2022.

Tak lupa, Bursa juga apresiasi kepada para owner dan manajemen perusahaan yang telah mempercayakan Pasar Modal Indonesia sebagai rumah pertumbuhan perusahaan (house of growth).

Dia menuturkan, tren positif di pasar modal telah diutilisasi oleh stakeholder pasar modal termasuk para pemilik perusahaan untuk mendapatkan pendanaan sesuai kebutuhan dan strategi internal perusahaan masing-masing.

"Momentum pemulihan ekonomi nasional kami yakini juga turut mendorong korporasi dalam melakukan penggalangan dana melalui pasar modal,” imbuh dia.

Berdasarkan data BEI, beberapa indikator pasar modal Indonesia seperti minat perusahaan yang akan melakukan penggalangan dana dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pertumbuhan positif.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya